Patah Kaki dan Gugurnya Cucu Nabi

Patah Kaki dan Gugurnya Cucu Nabi

Musibah apa pun yang Allah takdirkan menimpa diri kita, pasti ada hikmahnya, baik itu kita ketahui maupun tidak. Dan seringnya, kita menyadari hikmah tersebut setelah musibah itu berlalu dalam beberapa waktu.

‘Utsman bin Al-Haitsam berkata:

كان رجل بالبصرة من بني سعد، وكان قائداً من قواد عبيد الله بن زياد فسقط على السطح فانكسرت رجلاه. فدخل عليه أبو قلابة يعوده فقال له:

“Ada seorang dari Bani Sa’d di Bashrah, dan ia termasuk komandan pilihan ‘Ubaidullah bin Ziyad. Ia jatuh dari atap rumah sehingga patahlah kedua kakinya. Abu Qilabah menemuinya untuk menjenguknya lalu berkata kepadanya:

أرجو أن تكون لك خيرة.

“Aku berharap musibah ini baik bagimu.”

فقال له:

Lalu orang itu berkata kepada Abu Qilabah:

يا أبا قلابة وأي خير في كسر رجلي جميعاً؟

“Wahai Abu Qilabah, apa kebaikan yang ada dengan patahnya kedua kakiku?”

فقال:

Abu Qilabah berkata:

ما ستر الله عليك أكثر.

“Apa yang Allah sembunyikan dari dirimu sangatlah banyak.”

فلما كان بعد ثلاث ورد عليه كتاب ابن زياد أن يخرج فيقاتل الحسين. فقال للرسول:

Setelah 3 hari datanglah kepadanya surat dari ‘Ubaidullah bin Ziyad yang menyuruhnya untuk keluar memerangi Al-Husain. Ia pun berkata kepada utusan yang membawa surat:

قد أصابني ما ترى

“Aku telah mengalami musibah seperti yang engkau lihat.”

فما كان إلا سبعاً حتى وافى الخبر بقتل الحسين.

Maka, tidaklah berlalu 7 hari kecuali telah datang kabar terbunuhnya Al-Husain.

فقال الرجل:

Berkatalah orang itu:

رحم الله أبا قلابة لقد صدق، إنه كان خيرة لي.

“Semoga Allah merahmati Abu Qilabah. Sungguh, ia telah benar. Musibah yang menimpaku ini baik bagiku.” (Shifah Ash-Shafwah)

Lihatlah, apa yang dikatakan oleh Abu Qilabah kepada orang yang mengalami patah kedua kakinya itu?

“Aku berharap musibah ini baik bagimu.”

Nasehat yang singkat tapi padat. Ringkas tapi membekas.

Sayangnya, orang itu belum bisa mencerna perkataan Abu Qilabah itu, makanya ia masih menyangka bahwa musibah yang menimpa dirinya adalah murni keburukan baginya.

Padahal, karena musibah tersebut, ia tidak jadi bergabung dengan pasukan yang menghabisi nyawa Al-Husain, cucu Nabi!

Bukankah membunuh cucu Nabi ﷺ adalah kejahatan yang amat besar?

Ya, tentu saja kejahatan yang amat besar. Dan lihatlah, Allah ternyata memberi musibah kepada orang itu sehingga ia terhindar dari dosa yang sangat besar!

Itu adalah kenikmatan di balik musibah yang menyakitkan.

Dan orang tadi baru menyadari kenikmatan itu setelah musibahnya berlalu dalam beberapa waktu.

Karena itu, separah apa pun musibah menimpa dirimu, tetap terimalah keputusan-Nya. Teruslah berprasangka baik kepada-Nya, dan sadarilah bahwa ada hikmah dan kebaikan di balik takdir-Nya.

 

Siberut, 30 Dzulhijjah 1442

Abu Yahya Adiya