Pada ayat sebelumnya, Allah mengabarkan bahwa orang-orang beriman dari umat ini dan umat-umat sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh, maka mereka akan mendapatkan pahala dari Tuhan mereka.
Mereka tidak akan merasa takut terhadap perkara-perkara yang menakutkan di kemudian hari, dan tidak pula bersedih hati atas dunia yang telah luput dari mereka. Setelah menyebutkan hal tersebut, Allah kembali mengingatkan Bani Israel:
- وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kalian dan Kami angkat bukit (Thursina) di atas kalian (seraya berfirman): “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepada kalian dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertakwa”.
- ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Kemudian kalian berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, tentulah kalian termasuk orang-orang yang rugi.
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan perjanjian yang Dia ambil dari Bani Israel.
Allah mengangkat gunung Thursina di atas kepala mereka ketika mereka meremehkan ibadah dan bermalas-malasan dalam mengerjakannya. Hal itu dilakukan sebagai peringatan agar mereka bersungguh-sungguh dalam menerima dan menjalankan petunjuk Allah.
Allah memerintahkan mereka agar menerima petunjuk yang Allah berikan dalam Taurat dengan kuat dan teguh. Dia juga memerintahkan mereka agar mengingat semua petunjuk yang ada di dalamnya dan mengamalkannya.
Untuk apa Allah memerintahkan mereka demikian?
“Agar kalian bertakwa.”
Ya, agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.
Berpegang teguh pada petunjuk yang Allah berikan, mengingatnya, kemudian mengamalkannya akan membuahkan ketakwaan. Sebab, amal ketaatan akan mendorong seseorang untuk melakukan ketaatan yang lain.
Ketika seseorang melakukan suatu amal saleh, maka ia akan terdorong untuk melakukan amal saleh lainnya.
Sebab, ketika seseorang telah merasakan manisnya ketaatan, ia akan semakin giat dan bersemangat untuk mencari dan melakukan ketaatan yang lain.
Demikian pula dengan kemaksiatan. Kemaksiatan juga dapat mendorong seseorang untuk melakukan kemaksiatan lainnya.
Ketika seseorang melakukan suatu kemaksiatan, maka ia dapat terdorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain.
Setelah bukit Thursina di angkat di atas mereka, mereka langsung tunduk dan segera bersujud.
Namun, setelah berlalu beberapa waktu, apa yang terjadi pada mereka?
“Kemudian kalian berpaling setelah (adanya perjanjian) itu.”
Mereka ternyata berpaling dan tidak lagi mengingat perjanjian tersebut. Mereka tidak mengambil pelajaran bahwa Tuhan yang telah menakut-nakuti mereka dengan mengangkat bukit di atas mereka juga mampu untuk kembali mengangkat bukit tersebut jika mereka kembali berpaling dari aturan-Nya.
Lalu Allah menjelaskan bahwa kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas mereka, yaitu dengan diutusnya para rasul dan dijelaskannya jalan yang lurus, tentulah mereka termasuk orang-orang yang rugi.
Mereka akan mengalami kerugian di dunia dan akhirat. Di dunia, dada mereka menjadi sempit karena jauh dari petunjuk Tuhan mereka. Adapun di akhirat, mereka akan tersiksa karena dibakar di neraka.
Faidah yang dapat kita petik dari dua ayat tersebut:
- Allah mengingatkan Bani Israel tentang perjanjian yang telah diambil dari mereka.
- Wajibnya menunaikan perjanjian.
- Kesombongan Bani Israel.
Sebab, mereka tidak mau beriman kecuali ketika bukit Thursina diangkat di atas mereka dan seolah-olah akan menimpa mereka. Ketika itulah mereka baru beriman. Keimanan seperti ini pada hakikatnya menyerupai keimanan orang yang terpaksa. “Kamu beriman atau kamu dibunuh.”
- Kekuatan dan kekuasaan Allah. Sebagaimana firman-Nya: “Kami angkat bukit (Thursina) di atas kalian.”
- Orang yang beriman wajib berpegang teguh pada kitab sucinya. Ya, berpegang teguh, memegangnya dengan kuat dan tidak lemah. Kuat dalam mengamalkannya, dan kuat dalam mendakwahkannya.
- Berpegang teguh pada kitab yang telah diturunkan Allah akan membuahkan ketakwaan.
Sebagaimana dalam ayat tersebut, setelah Allah menyuruh Bani Israel untuk berpegang teguh pada petunjuk yang ada dalam Taurat, Dia menyebutkan tujuan dari hal tersebut, yaitu: “agar kalian bertakwa.”
- Buruknya akhlak Bani Israel.
Sebab, setelah bukit ditempatkan pada tempatnya, mereka kembali berpaling dari kebenaran.
Ini termasuk keburukan akhlak mereka. Seharusnya mereka mengingat peristiwa pengangkatan bukit tersebut agar mereka bersikap lurus. Namun, kenyataannya, mereka tetap berpaling setelah melihat tanda kekuasaan Allah yang sangat jelas itu.
- Karunia Allah kepada Bani Israel. Sebagaimana firman-Nya: “kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, tentulah kalian termasuk orang-orang yang rugi.”
- Seseorang tidak mendapatkan taufik dari dirinya sendiri. Sebagaimana firman-Nya: “kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, tentulah kalian termasuk orang-orang yang rugi.”
- Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Sebagaimana firman-Nya: “kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, tentulah kalian termasuk orang-orang yang rugi.”
Siberut, 6 Jumada Al-Ulaa 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Aisar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
- Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.






