Surat Al-Baqarah Ayat 60

Surat Al-Baqarah Ayat 60

Pada ayat sebelumnya, Allah mengingatkan salah satu nikmat-Nya kepada Bani Israel. Mereka diperintahkan memasuki Baitulmakdis, menikmati rezeki yang ada di dalamnya, serta masuk dengan bersujud dan memohon ampun kepada Allah dengan ucapan hittah (bebaskan kami dari dosa). Namun, orang-orang zalim di antara mereka mengganti perintah tersebut. Mereka mengubah hittah menjadi hinthah (gandum), sebagai bentuk pembangkangan. Akibatnya, Allah menurunkan siksa dari langit kepada mereka karena kefasikan dan ketidaktaatan mereka.

Setelah menyebutkan demikian, Allah berfirman:

 

  1. وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْناً قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, maka Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu! ” Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Sungguh, setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.

Ketika Bani Israel merasa haus dalam keadaan tersesat, mereka meminta kepada Nabi Musa untuk memohon kepada Allah agar memberikan air kepada mereka. Allah pun memberi mereka minum dengan cara yang di luar kebiasaan sebagai tanda kekuasaan-Nya, agar mereka tunduk dan taat kepada-Nya. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul sebuah batu dengan tongkatnya. Setelah dipukul, memancarlah darinya dua belas mata air.

Hal ini sesuai dengan keadaan Bani Israel yang ketika itu terdiri atas dua belas suku. Masing-masing suku memperoleh satu mata air sehingga mereka tidak saling bercampur dan berdesakan.

Kemudian, Allah memerintahkan mereka untukn makan dan minum dari rezeki yang telah Dia berikan. Allah memuliakan mereka dengan berbagai nikmat, tetapi Dia juga melarang mereka berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan kemaksiatan.

 

Faidah yang dapat kita petik dari ayat tersebut:

 

  1. Disyariatkannya istiska ketika membutuhkan air.

Hal ini karena Nabi Musa memohonkan air untuk kaumnya. Syariat umat terdahulu merupakan syariat bagi kita selama tidak ada dalil dari syariat kita yang membatalkannya. Nabi kita ﷺ juga pernah melakukan istiska dalam khutbah Jum’at dan ketika berada di padang pasir.

 

  1. Air dapat diperoleh melalui berbagai cara.

Allah dapat memberikan air melalui hujan yang turun dari langit, ataupun melalui mata air yang terpancar dari tanah.

 

  1. Allah adalah tempat seluruh makhluk meminta pertolongan.

Ketika tertimpa musibah dan kesulitan, manusia membutuhkan pertolongan Allah dan hendaknya memohon kepada-Nya.

 

  1. Para rasul, sebagaimana manusia lainnya, sangat membutuhkan Allah. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan segala sesuatu dengan sendirinya dan tetap dapat tertimpa kesulitan dan bencana. Mereka senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.

 

  1. Besarnya kasih sayang Nabi Musa kepada kaumnya. Karena itulah beliau memohon air untuk kaumnya

 

  1. Allah Maha Kuasa dan Maha Dermawan.

Allah mengabulkan doa Nabi Musa dan memberikan ari kepada kaumnya. Orang yang lemah tidak mampu memberikan minum, sedangkan orang yang pelit tidak akan suka memberi. Adapun Allah Maha Kuasa dan Maha Dermawan.

 

  1. Allah Maha Mendengar.

Ketika Nabi Musa meminta air, Allah mendengar permohonannya dan kemudian mengabulkan doanya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya.

 

  1. Sempurnanya kekuasaan Allah.

Nabi Musa memukul batu yang keras dengan tongkatnya, lalu memancarlah darinya mata-mata air. Peristiwa ini merupakan sesuatu yang di luar kebiasaan dan menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah. hal tersebut tidak terjadi dengan sendirinya dan bukan sekadar fenomena alamKetika dilempar, tongkat tersebut berubah menjadi ular yang bergerak dengan cepat. Ketika diambil kembali, ia berubah menjadi tongkat sebagaimana semula. Ketika dipukulkan ke laut, laut terbelah sehingga Nabi Musa dan Bani Israel dapat melaluinya.

Allah berfirman:

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 63)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa pada belahan-belahan air tersebut terdapat celah sehingga mereka dapat saling melihat. Dengan demikian, mereka tidak panik dan tidak bertanya-tanya tentang keberadaan orang-orang yang bersama mereka.

 

  1. Nabi Musa mendapatkan mukjizat berupa tongkat.

Apa keistimewaan tongkat tersebut?

1) Ketika dilempar, tongkat tersebut berubah menjadi ular yang bergerak dengan cepat. Ketika diambil kembali, ia berubah menjadi tongkat sebagaimana semula.

2) ketika dilemparkan dalam menghadapi para tukang sihir Fir’aun, tongkat tersebut menjadi ular besar yang menelan ular-ular kecil yang dibuat oleh tukang-tukang sihir.

3) Ketika dipukulkan ke laut, laut terbelah sehingga Nabi Musa dan Bani Israel dapat melaluinya.

Allah berfirman:

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syu’araa: 63)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa pada belahan-belahan air tersebut terdapat celah sehingga mereka dapat saling melihat. Dengan demikian, mereka tidak panik dan tidak bertanya-tanya tentang keberadaan orang-orang yang bersama mereka.

4) Ketika tongkat tersebut dipukulkan ke batu, memancarlah mata air.

 

  1. Air yang memancar menjadi dua belas mata air menunjukkan hikmah dan kebijaksanaan Allah.

Apa hikmah dari hal tersebut?

1) Memberikan kelapangan bagi Bani Israel.

Apabila hanya terdapat satu mata air, tentu mereka akan berdesak-desakan untuk mendapatkan air.

2) Menghindarkan mereka dari pertengkaran.

Bani Israel terdiri atas dua belas suku. Seandainya mereka dikumpulkan di satu tempat yang sempit sementara mereka semua membutuhkan air, tentu akan terjadi gesekan dan pertengkaran, bahkan bisa menyebabkan pertumpahan darah.

Itulah rahmat Allah bagi Bani Israel.

 

  1. Nikmat Allah seharusnya melahirkan rasa syukur dan ketaatan, bukan kedurhakaan.

Allah mengingatkan Bani Israel tentang berbagai nikmat besar yang telah diberikan agar mereka bersyukur. Karena itu Allah berfirman: “Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.”.

 

  1. Hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan dan diperuntukkan bagi manusia adalah halal, baik berupa makanan, maupun minuman

Allah memerintahkan mereka untuk makan dan minum dari rezeki yang Dia berikan. Hal ini menunjukkan kebolehan mengonsumsi rezeki tersebut. Karena itu, jika seseorang memakan tumbuhan tertentu, kemudian ada yang menegurnya, “Ini haram!”, maka orang yang menyatakan haram harus membawakan dalil. Sebab, hukum asal segala sesuatu yang ada di bumi adalah halal sampai terdapat dalil yang menunjukkan keharamannya.

 

  1. Haramnya berbuat kerusakan di muka bumi. Sebagaimana Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)

 

Siberut, 2 Rabiul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Aisar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
  2. Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin.