Surat Al-Baqarah Ayat 62

Surat Al-Baqarah Ayat 62

Pada ayat sebelumnya, Allah mengabarkan bahwa Bani Israel meminta kepada Nabi Musa agar diberi berbagai macam makanan selain manna dan salwa. Nabi Musa menegur mereka karena memilih sesuatu yang lebih rendah, hingga akhirnya mereka ditimpa kehinaan, kemiskinan, dan kemurkaan Allah. Hal itu terjadi karena mereka mengingkari ayat-ayat-Nya, membunuh para nabi tanpa alasan yang dibenarkan, serta terus-menerus berbuat durhaka dan melampaui batas.

Bani Israel sebenarnya merupakan keturunan dari orang-orang yang mulia. Namun, nasab yang mulia tidak akan memberikan manfaat jika tidak disertai dengan keimanan dan amal yang benar. Kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan semata-mata karena keturunan, melainkan karena iman dan amal saleh yang ia lakukan.

Karena itu, Allah berfirman:

 

  1. إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada rasa takut pada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa orang-orang beriman dari umat ini dan umat-umat sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, yaitu kaum Yahudi yang mengikuti syariat Nabi Musa ﷺ, kaum Nasrani yang mengikuti syariat Nabi Isa ﷺ, dan kaum Shabiin, yaitu orang-orang yang tidak memiliki agama tertentu dan masih berada di atas fitrah mereka, apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh, maka mereka akan mendapatkan pahala dari Tuhan mereka.

Mereka tidak akan merasa takut terhadap perkara-perkara yang menakutkan di kemudian hari, seperti siksa kubur, siksa neraka, dan perkara lainnya. Mereka juga tidak akan bersedih hati atas dunia yang telah luput dari mereka. Sebab, mereka telah berpindah menuju keadaan yang lebih baik daripada keadaan sebelumnya.

 

Faidah yang dapat dipetik dari ayat ini:

  1. Allah tidak menzalimi siapa pun. Setiap orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh akan mendapatkan ganjarannya, dari mana pun mereka berasal.
  2. Di antara buah iman kepada Allah dan Hari Akhir adalah mendapatkan ganjaran serta terbebas dari rasa takut dan kesedihan. Orang yang beriman tidak akan merasa takut terhadap apa yang akan dihadapinya di kemudian hari dan tidak pula bersedih atas apa yang telah berlalu.
  3. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Shabiin juga akan mendapatkan pahala apabila mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh. Namun, orang-orang yang beriman dari umat Nabi Muhammad ﷺ memiliki keistimewaan dibandingkan umat-umat sebelumnya karena banyaknya pahala yang mereka dapatkan.
  4. Besarnya ganjaran bagi orang yang beriman dan melaksanakan amal saleh. Allah menyatakan, “mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka.” Hal ini menunjukkan besarnya kemuliaan dan ganjaran yang Allah berikan kepada mereka.
  5. Ketika menyebutkan keburukan suatu kelompok yang di dalamnya terdapat orang-orang baik, hendaknya orang-orang yang baik tersebut juga disebutkan agar celaan tidak ditujukan kepada seluruh kelompok secara menyeluruh.

Sebab, pada ayat sebelumnya Allah menyebutkan:

“Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang dibenarkan. Yang demikian itu karena mereka selalu durhaka dan melampaui batas.”

Setelah menyebutkan keburukan tersebut, Allah kemudian menjelaskan bahwa di antara mereka terdapat orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh. Orang-orang yang demikian akan mendapatkan pahala mereka di sisi Allah. Mereka tidak akan merasa takut menghadapi apa yang akan datang dan tidak pula bersedih hati atas apa yang telah berlalu.

 

Siberut, 23 Rabi’ul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Aisar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
  2. Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.