Setelah menyebutkan nikmat berupa naungan awan serta pemberian mann dan salwa, Allah menyebutkan nikmat lain yang diberikan kepada Bani Israel yang juga mereka kufuri.
Allah berfirman:
- وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kalian ke negeri ini lalu makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesuka kalian. Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami)”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian. Dan Kami akan menambah (karunia) kepada orang-orang yang berbuat baik.”
*59. فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ*
Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan siksa dari langit kepada orang-orang yang zalim itu, disebabkan kefasikan mereka.
Dalam ayat ini Allah menyebutkan lagi salah satu nikmat-Nya yang diberikan kepada Bani Israel dan kekufuran mereka terhadap nikmat tersebut.
Allah memerintahkan mereka memasuki Baitulmakdis dan menikmati berbagai makanan yang ada di sana sesuka mereka. Allah memberikan perintah kepada mereka, yaitu hendaknya ketika memasuki pintu gerbangnya dilakukan sambil bersujud, merendahkan hati sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat besar yang telah Dia karuniakan.
Selain itu, Allah memerintahkan agar mereka meminta ampun kepada Allah ketika mereka masuk dan bersujud, yaitu dengan mengucapkan “hittah” yang artinya “bebaskanlah kami dari dosa.” Jika mereka melakukan hal tersebut, Allah akan memberikan karunia lain di samping ampunan.
Namun, bagaimana sikap Bani Israel terhadap nikmat dan perintah Allah tersebut? Allah berfirman: “Orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka.”
Mereka mengganti kata “hittah” yang artinya “bebaskanlah kami dari dosa”, menjadi “hinthah” yang artinya “berikanlah kami gandum”. Lantas, apa akibat perbuatan mereka tersebut? Allah berfirman, “Maka, Kami turunkan siksa dari langit kepada orang-orang yang zalim itu, disebabkan kefasikan mereka.”
Siksa tersebut datang dari atas mereka, baik berupa batu, petir, udara dingin, angin, maupun yang lainnya. Hal itu disebabkan oleh kefasikan mereka, yaitu mengganti perkataan dengan perkataan lain yang tidak diperintahkan.
Faidah yang bisa kita petik dari dua ayat ini:
- Allah berbicara sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah berbicara dengan huruf dan suara. Namun, suara Allah tentu berbeda dengan suara makhluk. Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.
- Siapa yang ditolong Allah dalam menghadapi musuh, hendaknya ia bersyukur kepada Allah dan merendahkan hatinya kepada-Nya.
Sebagaimana Allah perintahkan itu kepada Bani Israel dalam ayat tadi.
- Pembangkangan Bani Israel. Sebab, mereka tidak mematuhi perintah Allah untuk memasuki pintu gerbang sambil bersujud.
Nabi ﷺ bersabda:
قِيلَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ:
“Dikatakan kepada Bani Israil:
{ادْخُلُوا البَابَ سُجَّدًا، وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ}
“Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud dan katakanlah: ‘Hitthah’ (bebaskanlah kami dari dosa-dosa) niscaya Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kalian.”
فَبَدَّلُوا فَدَخَلُوا يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاهِهِمْ، وَقَالُوا: حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ
Namun mereka mengganti apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Mereka memasuki pintu itu dengan mengesot sambil berkata: “biji gandum (hinthah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka memasuki pintu gerbang dengan cara itu dalam rangka mengolok-olok dan sebagai bentuk kesombongan mereka.
- Tidak boleh mengubah perkataan dalam agama jika memang mengucapkan kalimatnya adalah ibadah.
Sebab, Allah mencela orang yang mengganti perkataan yang Allah sebutkan dengan perkataan lain yang tidak diperintahkan untuk disebutkan.
Karena itu tidak boleh mengubah lafal dalam Al-Quran dengan lafal lain yang semakna dengannya.
- Jihad dengan menundukkan diri kepada Allah dan disertai istighfar adalah sebab mendapatkan ampunan Allah dan sebab bertambahnya karunia dari Allah.
- Mengubah firman Allah adalah termasuk kezaliman dan kefasikan.
- Haramnya menafsirkan nas (teks) dalam agama untuk keluar dari maksud dan tujuan agama.
Seperti penafsiran orang-orang Syi’ah terhadap firman Allah:
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih sapi betina.” (QS. Al-Baqarah: 67)
Kata mereka, maksud sapi betina ini adalah Aisyah, istri Nabi.
Seperti penafsiran orang-orang Liberal terhadap firman Allah:
فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)
Kata mereka, maksud ayat ini adalah kebebasan untuk beriman atau kafir. Padahal ayat ini maksudnya ancaman. Sebagaimana bisa kita lihat dari kelengkapan ayat:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhan kalian; maka siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim itu, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)
- Kefasikan adalah sebab turunnya siksa Allah.
Karena itu Allah menghukum Bani Israel yang mengubah perkataan yang telah diperintahkan dengan memberikan siksa dari langit kepada mereka.
- Keadilan Allah. Sebab, Allah membalas seseorang dengan balasan yang pantas sesuai dengan perbuatannya.
- Penetapan adanya sebab-akibat di dunia. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi: “disebabkan kefasikan mereka.”
- Bantahan terhadap sekte Jabriyyah yang berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kehendak dalam melakukan sesuatu.
Sebab…
1) Di dalam ayat tadi Allah menyebutkan bahwa siksa turun kepada mereka karena kefasikan mereka. Dan kefasikan artinya tidak mau menaati Allah.
2) Seandainya mereka tidak memiliki kehendak untuk melakukan perbuatan mereka, berarti siksa yang Allah berikan kepada mereka adalah kezaliman. Sedangkan Allah berfirman:
وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)
Siberut, 24 Shafar 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber: Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin.






