Setelah Allah mengingatkan Bani Israel akan nikmat-Nya yang telah diberikan kepada mereka dan bahwa mereka telah dilebihkan dari semua umat di masa mereka, Dia berfirman:
- وَاتَّقُوا يَوْمًا لا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ
Jagalah diri kalian dari hari ketika tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong.
Setelah mengingatkan Bani Israel tentang nikmat yang telah Dia berikan, Allah memperingatkan mereka akan siksa-Nya di akhirat agar mereka mau menaati-Nya.
Seakan-akan dikatakan kepada mereka: “Kalau memang nikmat-Nya yang telah berlalu tidak membuat kalian taat, maka hendaknya siksa-Nya di akhirat membuat kalian taat.”
Allah memperingatkan Bani Israel agar menjaga diri dari hari kiamat. Sebab, ketika itu tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Semulia apa pun seseorang, ia tidak dapat membela orang lain, sekalipun keluarga terdekatnya. Yang bermanfaat bagi seseorang hanyalah amal yang pernah ia kerjakan.
Pada hari itu, syafa’at dan perantara tidak akan diterima. Seorang tidak akan bisa memberi syafaat kepada orang lain tanpa izin dari-Nya.
Bukan hanya itu, tebusan apa pun tidak akan diterima. Ketika di dunia, kalau seseorang akan kena hukuman lalu ia memberikan tebusan, bisa jadi ia selamat dari hukuman. Adapun di akhirat?
Tidak bisa dan tidak mungkin bisa.
Selain itu, pada hari itu, tidak ada seorang pun yang bisa memberikan pertolongan kepada orang lain dalam menghadapi siksa Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat melindungi orang lain dari siksa Allah.
Faidah yang dapat kita petik dari ayat:
- Peringatan agar mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat.
Allah berfirman:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ
“Takutlah pada hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah ia lakukan, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)
- Pada hari kiamat nanti seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun.
- Pada hari kiamat nanti syafaat tidak akan bermanfaat.
Maksudnya, syafaat di hari kiamat tidak akan bermanfaat bagi orang yang tidak berhak untuk mendapatkannya. Adapun bagi orang yang berhak mendapatkannya, maka syafaat bermanfaat baginya. Lantas siapa yang berhak mendapatkan syafaat?
Seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dari orang lain sampai:
1) Diizinkan Allah
Allah berfirman:
يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا
“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan Dia ridai perkataannya.” (QS. Thaha: 109)
Oleh karena itu, seseorang tidak akan bisa mendapatkan syafaat tanpa izin dari Allah.
Lihatlah manusia terbaik dan rasul terbaik yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Ketika beliau ingin memberikan syafaat kepada orang-orang yang ada di padang Mahsyar, beliau sujud terlebih dahulu kepada Allah.
Beliau berdoa dan memuji Allah terlebih dahulu, lalu memohon kepada Allah dan terus memohon kepada Allah dalam posisi sujud sampai Allah berfirman kepada beliau:
يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ، وَسَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Ucapkanlah, niscaya ucapanmu didengar. Mintalah, niscaya permintaanmu diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2) Orang yang mendapatkan syafaat adalah orang yang mengesakan Allah.
Allah berfirman:
وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
“Mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiyā’: 28)
Dan orang yang berbuat syirik dan kekufuran tidak akan mendapatkan syafaat, karena mereka tidak diridai Allah.
- Pada hari kiamat nanti tidak akan ada tebusan. Tidak mungkin seseorang bisa memberikan tebusan untuk menebus dirinya dari hukuman.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, seandainya mereka mempunyai segala yang ada di bumi dan ditambah dengan sebanyak itu (lagi) untuk menebus diri mereka dari azab hari kiamat, niscaya semua (tebusan) itu tidak akan diterima dari mereka. Mereka tetap mendapat azab yang pedih.” (QS. Al-Māidah: 36)
- Pada hari kiamat nanti tidak seorang pun dapat menyelamatkan orang lain dari siksa Allah.
- Seorang muslim harus menggantungkan hatinya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
Sebab, dalam ayat di atas Allah meniadakan semua bentuk manfaat dari makhluk atau manusia, baik berupa pembelaan, syafaat, tebusan dan pertolongan. Yang memiliki semua manfaat tersebut hanyalah Allah.
Sumber:
- Aisar At-Tafāsīr li Kalām Al-‘Aliyy Al-Kabīr Syekh Abū Bakr Al-Jazāirī.
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.






