Bagaimana Nasib Tawanan Perang?

Bagaimana Nasib Tawanan Perang?

Jika kaum muslimin berhasil menaklukkan musuh dalam perang,  maka bagaimana mereka diperlakukan?

Musuh yang tertawan terbagi menjadi dua kelompok:

 

  1. Kelompok yang langsung menjadi budak karena tertawan, yaitu para wanita dan anak-anak. Mereka diperlakukan demikian karena termasuk kelompok yang dilarang untuk dibunuh.

Ibnu ‘Umar berkata:

‌وُجِدَتِ ‌امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

“Seorang wanita ditemukan dalam keadaan terbunuh di sebagian peperangan yang Rasulullah ﷺ hadapi. Maka Rasulullah ﷺ melarang membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. Bukhari Muslim)

 

  1. Kelompok yang tidak langsung menjadi budak karena tertawan, yaitu laki-laki yang sudah balig. Dalam hal ini, seorang imam atau pemimpin muslim diberikan pilihan terhadap mereka: apakah akan membunuh mereka, memperbudak mereka, membebaskan mereka dengan tebusan berupa harta atau laki-laki (yang tertawan dari kaum muslimin), atau membebaskan mereka tanpa tebusan sama sekali.

Allah عز وجل berfirman:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىَ حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأرْضِ

“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.” (QS. Al-Anfaal: 67)

Syekh ‘Abdurrahmān As-Sa‘dī menjelaskan ayat ini:

ما ينبغي ولا يليق به إذا قاتل الكفار الذين يريدون أن يطفئوا نور الله ويسعوا لإخماد دينه، وأن لا يبقى على وجه الأرض من يعبد الله، أن يتسرع إلى أسرهم وإبقائهم لأجل الفداء الذي يحصل منهم، وهو عرض قليل بالنسبة إلى المصلحة المقتضية لإبادتهم وإبطال شرهم،. فما دام لهم شر وصولة، فالأوفق أن لا يؤسروا. فإذا أثخنوا، وبطل شرهم، واضمحل أمرهم، فحينئذ لا بأس بأخذ الأسرى منهم وإبقائهم

“Tidak sepantasnya, dan tidak layak bagi Nabi jika memerangi orang-orang kafir yang ingin memadamkan cahaya Allah dan berusaha mematikan agama-Nya serta ingin agar tidak ada seorang pun di muka bumi yang beribadah kepada Allah, untuk tergesa-gesa dalam menawan mereka dan membiarkan mereka demi mendapatkan tebusan dari mereka. Itu bernilai kecil dibandingkan maslahat yang menuntut untuk memusnahkan mereka dan melenyapkan kejahatan mereka. Selama mereka masih memiliki kejahatan dan kekuatan, maka yang lebih tepat adalah tidak menawan mereka. Jika mereka telah dilumpuhkan, dan lenyap kejahatan mereka, serta hancur kekuatan mereka, maka ketika itu tidak mengapa mengambil tawanan dari mereka dan membiarkan mereka hidup.” (Taisīr Al-Karīm Ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān)

Dan Allah berfirman:

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا

“Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka tebaslah batang leher mereka. Sehingga apabila kalian telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka. Sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir…” (QS. Muhammad: 4)

Syekh Abū Bakr Al-Jazāirī menjelaskan:

فإذا لقيتم الذين كفروا في ساحة المعركة فاضربوا رقابهم ضرباً شديداً تفصلون فيه الرقاب عن الأبدان. حتى إذا أثخنتموهم: أي أكثرتم فيه القتل ولم يصبح لهم أمل في الانتصار عليكم. فشدوا الوثاق: أي فأسروهم بدل قتلهم ….فإما مناً بعد وإما فداء1: أي بعد أسركم لهم وشد وثاقهم فإما أن تمنوا مناً أي تفكوهم من الأسر مجاناً، وإما تفادونهم بمال أو أسير مسلم، وهذا بعد نهاية المعركة.

“Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir di medan perang, maka penggallah leher mereka dengan pukulan yang keras sehingga kepala mereka terpisah dari badan mereka. Hingga apabila kalian telah mengalahkan mereka yakni telah banyak menghabisi mereka dan mereka tidak memiliki lagi harapan untuk mengalahkan kalian, maka tawanlah mereka sebagai ganti membunuh mereka… Sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan, yakni setelah kalian menawan mereka dan mengikat mereka, maka kalian boleh membebaskan mereka secara gratis dan kalian boleh menerima tebusan mereka berupa harta atau tawanan muslim. Dan ini setelah selesai perang.” (Aisar At-Tafāsīr li Kalām Al-‘Aliyy Al-Kabīr)

Dan Nabi kita ﷺ telah menjalankan petunjuk Tuhannya عز وجل dalam hal ini.

Beliau ﷺ pernah mengeluarkan perintah eksekusi mati terhadap para tawanan pria dari Bani Quraiẓah (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau ﷺ pernah menjadikan Bani Muṣṭaliq sebagai budak tawanan (HR. Bukhari)

Beliau ﷺ pernah membebaskan tawanan perang Badr dengan tebusan berupa harta.

Beliau ﷺ pernah membebaskan dua orang sahabatnya yang tertawan musuh dengan tebusan seorang musyrik dari Bani ‘Uqail (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dan beliau ﷺ pernah pula membebaskan Abū Al-‘Āṣ bin Ar-Rabī‘ (HR. Abu Daud) dan Ṡumāmah bin Uṡāl tanpa tebusan. (HR. Bukhari)

Maka, dalam hal ini, imam berhak memilih opsi yang menurutnya paling mendatangkan kemaslahatan bagi umat.

 

Siberut, 3 Rabī’ul Awwal 1447

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Wajīz fī Fiqhi As-Sunnah wa Al-Kitāb Al-‘Azīz karya Dr. ‘Abdul ‘Aẓīm bin Badawī
  2. Aisar At-Tafāsīr li Kalām Al-‘Aliyy Al-Kabīr karya Syekh Abū Bakr Al-Jazāirī.
  3. Taisīr Al’-Karīm Ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh’Abdurrahmān As-Sa’di.