Pada ayat sebelumnya, Allah menyebutkan nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada Bani Israel, yaitu Dia menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan bala tentaranya.
Seperti apa penyelamatan yang Allah berikan kepada mereka?
Allah mengabarkan:
- وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Dan (ingatlah), ketika Kami membelah laut untuk kalian, lalu Kami selamatkan kalian dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan para pengikutnya sedangkan kalian sendiri menyaksikan.
Ketika Mūsā dan Bani Israel lari dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, perjalanan mereka harus terhenti.
Laut ada di hadapan mereka.
Bahaya mengancam mereka!
Apakah mereka harus balik ke belakang menghadapi Fir’aun dan bala tentaranya atau terus ke depan menghadapi laut yang demikian besar ombaknya?
Pada ayat ini, Allah menyebutkan bahwa dalam kondisi genting seperti itu, Dia membelah laut untuk mereka.
Setelah Mūsā dan Bani Israel melihat laut terbelah, mereka pun langsung menyeberanginya, sedangkan Fir’aun dan bala tentaranya ada di belakang mereka.
Ketika Mūsā dan pengikutnya sudah sampai ke seberang, sementara Fir’aun dan bala tentaranya baru sampai tengah laut, Allah pun menyuruh laut untuk kembali seperti semula. Maka tenggelamlah Fir’aun dan bala tentaranya. Dan itu mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri.
Faidah yang dapat kita petik dari ayat:
- Allah mengingatkan Bani Israel akan nikmat-Nya yang telah diberikan kepada mereka yaitu Dia belah laut untuk mereka sehingga mereka bisa melewatinya.
- Allah Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu, termasuk membelah lautan.
Lautan yang berombak Dia perintahkan untuk terbelah dan menjadi beberapa belahan.
Dan tanah yang sebelumnya basah oleh air selama puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun, tiba-tiba dalam sekejap menjadi kering sehingga dapat dilalui oleh manusia.
- Selamat dari musuh adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada seorang hamba, makanya Allah mengingatkan Bani Israel tentang itu.
- Konsekuensi dari mengingat nikmat yaitu mensyukuri nikmat tersebut. Dan syukur adalah tujuan dari mengingat nikmat.
Siberut, 11 Muḥarram 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber: Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.






