Surat Al-Baqarah Ayat 14-16

Surat Al-Baqarah Ayat 14-16

Setelah menyebutkan kesombongan orang-orang munafik dan celaan mereka terhadap orang-orang beriman bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, Allah menyebutkan sifat buruk orang-orang munafik yang lainnya:

  1. وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, “Kami sesungguhnya bersama kalian, kami hanya berolok-olok”.

Apabila orang-orang munafik itu berjumpa dengan orang-orang yang beriman, maka perkataan yang keluar dari lisan mereka:

“Kami telah beriman.”

“Kami sama-sama beriman dengan kalian.”

“Kami tidak berbeda dengan kalian.”

Itu yang mereka ucapkan kepada orang-orang beriman. Namun, apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, yaitu pemuka-pemuka mereka, perkataan yang muncul adalah:

“Kami sesungguhnya bersama kalian, bukan bersama orang-orang Muslim itu. Kami sependirian dengan kalian. Kami tidak serius dengan pernyataan kami tadi. Kami hanya bermain-main. Kami ingin mempermainkan mereka dengan menampakkan keimanan di hadapan mereka. Kami hanya ingin mengolok-olok mereka.”

  1. اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Allah membalas olok-olokan mereka. Sebagai bentuk pembalasan Allah atas perbuatan mereka, Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. Mereka hidup dalam kecemasan, kebingunganm dan ketakutan. Hati mereka dipenuhi keresahan dan kegelisahan.

Bayangkanlah diri kita tersesat sendirian pada malam hari di sebuah hutan yang sepi. Saat itu suasana sangat gelap dan senyap.

Kita berjalan ke sana kemari mencari jalan agar bisa pulang, tapi tidak juga menemukannya.

Bagaimana perasaan kita ketika mengalami hal seperti itu?

Jangankan di tempat yang sepi seperti itu, jika kita tersesat di jalan, bahkan di tempat ramai sekalipun, bagaimana perasaan kita?

Pasti cemas tidak karuan. Kebingungan dan ketakutan. Resah dan gelisah.

Begitu pula keadaan orang-orang munafik di dunia. Mereka cemas, kebingungan dan ketakutan; resah dan gelisah.

Jika mereka ingin menampakkan kekafiran dan menentang Islam secara terang-terangan, mereka takut dan cemas, karena khawatir nyawa dan harta mereka terancam.

Namun, jika mereka terus menyembunyikan kekafiran itu, mereka akan tetap resah, gelisah, dan tidak tenang. Akhirnya, mereka selalu hidup dalam kebingungan.

Allah menyebutkan keadaan mereka:

يَحْذَرُ المنافقون أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبّئُهُمْ بِمَا في قلوبهم قل استهزؤوا إِنَّ الله مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُون

“Orang-orang yang munafik itu takut jika diturunkan suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, ‘Teruskanlah ejekan-ejekan kalian (terhadap Allah dan Rasul-Nya).’ Sesungguhnya Allah akan mengungkapkan apa yang kalian takuti itu.” (QS. At-Taubah: 64)

Itu keadaan mereka di dunia. Adapun di akhirat, mereka dan orang-orang beriman akan diberi cahaya. Ketika orang-orang beriman berjalan dengan cahaya mereka, padamlah cahaya orang-orang munafik.

Akhirnya, mereka kebingungan dalam kegelapan. Ketika itulah mereka memanggil-manggil orang-orang yang beriman.

Allah menyebutkan:

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ

“Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama kalian?’ Mereka menjawab. ‘Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, dan hanya menunggu, ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong hingga datanglah ketetapan Allah.’ (QS. Al-Ḥadīd: 14)

  1. أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.

Mereka itulah orang-orang yang telah menukar iman dengan kekafiran, menukar petunjuk dengan kesesatan, serta menukar hidayah dengan kebingungan.

Usaha mereka tidak akan sukses, dan nasib mereka tidak akan beruntung.

Bahkan, mereka akan merugi dan celaka.

Sebab, mereka akan akan selama-lamanya berada di kerak neraka.

 

Faidah yang dapat dipetik dari ayat tadi:

 

  1. Tercelanya perilaku bermuka dua.

Nabi ﷺ bersabda:

وتجدون شر الناس ذا الوجهين الذي يأتي هؤلاء بوجه ويأتي هؤلاء بوجه.

“Kalian akan menemukan seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua. Ia datang ke golongan ini dengan satu wajah, dan datang ke golongan lain dengan wajah yang lain.” (HR. Bukhārī dan Muslim)

Ia datang ke sini dan berkata begini; datang ke situ dan berkata begitu. Tidak jujur dan tidak memiliki pendirian.

Seperti itulah yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Ketika bertemu dengan orang-orang beriman, mereka berkata begini, tetapi ketika bertemu dengan orang-orang kafir, mereka berkata begitu.

Ketika berada di hadapan orang-orang kafir, mereka menampakkan diri sebagai musuh Islam. Namun, ketika berada di hadapan orang-orang beriman, mereka menampakkan diri sebagai pembela Islam.

Di hadapan orang-orang kafir, mereka menghujat kaum Muslimin. Namun, ketika berada di hadapan orang-orang Muslim, mereka memuji-muji orang-orang beriman.

 

  1. Selain kalangan jin, setan juga ada yang berasal dari kalangan manusia.

Sebagaimana Allah sebutkan dalam ayat lain:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah, untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh, yang terdiri atas setan-setan dari kalangan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (QS. Al-An’ām: 112)

 

  1. Seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan.

Sebagaimana orang-orang munafik mengolok-olok orang-orang yang beriman, Allah pun membalas olok-olokan mereka dengan menjadikan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

 

  1. Balasan atas suatu dosa adalah dosa lain setelahnya. Balasan atas suatu kejahatan adalah kejahatan lain setelahnya.

Siapa yang berbuat dosa, jika ia tidak segera bertaubat, maka ia akan melakukan dosa lain yang mungkin lebih besar daripada dosa sebelumnya.

Siapa yang berbuat jahat, jika ia tidak segera bertaubat, maka ia akan melakukan kejahatan lain yang mungkin lebih besar daripada kejahatan sebelumnya.

Seperti yang terjadi pada orang-orang munafik.

Mereka sudah melakukan kesesatan dan sudah tersesat, tapi karena tidak segera bertaubat, mereka semakin jauh dalam kesesatan.

Mereka sudah bingung dan cemas karena tersesat, tapi tidak segera bertaubat, sehingga kebingungan mereka semakin bertambah dan kecemasan mereka pun semakin meningkat.

 

Siberut, 3 Jumādā Al-Ūlā 1442

Abu Yahya Adiya