Setelah Allah menyebutkan nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada Bani Israel, yaitu Dia menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan bala tentaranya dengan menenggelamkan mereka, Dia berfirman:
- وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ
Dan (ingatlah), ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam. Kemudian kalian menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) sepeninggalnya dan kalian menjadi orang-orang yang zalim.
- ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Kemudian Kami memaafkan kalian setelah itu agar kalian bersyukur.
Dalam ayat ini, Allah kembali menyebutkan nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada Bani Israel agar mereka bersyukur. Nikmat tersebut yakni ketika Allah berjanji kepada Musa untuk memberikan Taurat selama 40 malam di bukit Ṭursina.
Al-’Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān berkata:
وهي عند أكثر المفسرين ثلاثون من ذي القعدة وعشر من ذي الحجة وبه قال أبو العالية
“Dan 40 hari itu menurut kebanyak ahli tafsir yaitu 30 hari di bulan Dzulqa’dah dan 10 hari bulan Dzulhijjah. Dan itu adalah pendapat Abu Al-Aliyah.” (Fatḥu Al-Bayān fī Maqāsid Al-Qur‘an)
Allah berjanji memberikan kitab suci Taurat.
Itu adalah nikmat yang sangat besar. Apakah ada nikmat yang lebih besar daripada petunjuk dan cahaya dari-Nya?
Namun sayangnya kepergian Musa selama waktu itu digunakan oleh Bani Israel untuk melakukan perbuatan yang sangat keji.
Apa itu?
“Kalian menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) sepeninggalnya”
Mereka menyekutukan Allah setelah Musa pergi ke bukit Ṭursina untuk mengambil perjanjian dari Allah.
Mereka menyembah patung anak sapi dari emas.
Siapa yang membuat patung tersebut?
Samiri
Allah berfirman:
فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ
“Kemudian (dari lubang api itu) Samiri mengeluarkan (patung) anak sapi yang bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhannya Musa, tetapi ia telah lupa.” (QS. Ṭāhā: 88)
Itu adalah perbuatan yang sangat keji dan zalim. Oleh karena itu, Allah berfirman: “Kalian menjadi orang-orang yang zalim”
Zalim artinya menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dan mereka telah menempatkan ibadah bukan pada tempat yang semestinya.
Mereka memberikan ibadah bukan kepada yang berhak mendapatkannya. Karena itu, mereka adalah orang-orang yang benar-benar zalim.
Namun, separah apa pun perbuatan mereka, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Oleh karena itu, Dia menyebutkan: “Kemudian Kami memaafkan kalian setelah itu agar kalian bersyukur.”
Allah tidak menghukum mereka setelah mereka menyembah patung anak sapi.
Allah tidak menghukum mereka setelah mereka melakukan perbuatan yang amat zalim tersebut.
Dia menerima taubat mereka setelah kembalinya Musa.
Untuk apa Allah menerima taubat mereka?
“Agar kalian bersyukur”
Ya, agar mereka bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang telah mereka rasakan dan agar mereka tidak terus melakukan kekafiran dan kezaliman.
Faidah yang dapat kita petik dari dua ayat di atas:
- Kebijaksanaan Allah dalam menentukan waktu diturunkan wahyu, di mana Dia berjanji kepada Musa selama 40 malam untuk menurunkan Taurat. Padahal, Dia mampu untuk menurunkannya dalam satu malam. Namun, ada hikmah yang Dia ketahui dan tidak kita ketahui dalam hal tersebut.
- Kebodohan Bani Israel yang sangat parah.
Sebab, bagaimana mungkin patung yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri menjadi tuhan mereka?
Bahkan parahnya, mereka sampai menganggap Nabi Musa sesat karena tidak tahu bahwa patung itu adalah tuhan sebenarnya. Ini menunjukkan kebodohan Bani Israel yang sangat parah.
- Syirik adalah kezaliman.
- Luasnya rahmat Allah. Bagaimana pun besarnya dosa seseorang, kalau ia bertaubat, maka Allah akan mengampuninya.
- Pengampunan menuntut syukur. Sebagaimana Allah sebutkan: “Agar kalian bersyukur.”
Siberut, 18 Muḥarram 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Fatḥu Al-Bayān fī Maqāsid Al-Qur‘an karya Al-’Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān.






