Setelah Allah menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israel berupa janji-Nya kepada Nabi Musa untuk memberikan Taurat selama empat puluh malam di bukit Ṭursina, Dia berfirman:
- وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan kepada Musa Al-Kitab dan Furqan agar kalian mendapat petunjuk.
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan salah satu nikmat-Nya yang diberikan kepada Bani Israel, yaitu diturunkannya Al-Kitab dan Furqan. Yang dimaksud dengan Al-Kitab di sini adalah Taurat, sedangkan Furqan adalah keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah. Hal tersebut merupakan sifat Taurat.
Itu adalah nikmat yang besar, bahkan sangat besar, dan jauh lebih besar daripada berbagai nikmat lain yang telah Allah berikan kepada mereka. Allah menurunkannya agar mereka mengambil petunjuk yang terdapat di dalamnya sehingga mereka memperoleh hidayah.
Namun, di antara Bani Israel ada yang tidak mau mengambil petunjuk dari Taurat sehingga mereka tersesat. Bahkan, bukan hanya tidak mau mengambil petunjuk, sebagian dari mereka dengan sengaja mengubah isi kitab tersebut.
Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian berkata, ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka, karena apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 79)
Faidah yang dapat kita petik dari ayat tadi:
- Diturunkannya kitab suci merupakan nikmat yang perlu disyukuri.
Oleh karena itu, Allah mengingatkan Bani Israel tentang nikmat tersebut. Seseorang tidak akan dapat mengetahui hak Allah dan hak sesama hamba secara sempurna kecuali melalui wahyu yang Allah turunkan dalam kitab-kitab-Nya. Dengan demikian, hal itu merupakan nikmat yang sangat besar, bahkan lebih besar daripada nikmat makanan dan minuman.
Imam Ahmad berkata:
الناس محتاجون إلى العلم أكثر من حاجتهم إلى الطعام والشراب لأن الطعام والشراب يحتاج إليه في اليوم مرة أو مرتين، والعلم يحتاج إليه بعدد الأنفاس
“Kebutuhan seluruh manusia kepada ilmu lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Sebab, makanan dan minuman dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” (Miftah Ad-Dar As-Sa’adah)
- Keutamaan Taurat. Sebab, ia merupakan pembeda antara yang benar dan yang salah.
- Nabi Musa adalah seorang nabi dan rasul. Sebab, Allah menurunkan kitab suci kepadanya.
- Allah menurunkan kitab suci dan menjadikannya sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah untuk tujuan yang benar-benar mulia, yaitu hidayah. Supaya manusia mendapatkan hidayah.
- Siapa yang menginginkan hidayah hendaknya mencarinya di dalam kitab yang telah diturunkan dari langit, bukan dalam cerita pendek, dongeng, novel, filsafat dan semacamnya. Sebab, tidak ada jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah kecuali jalan yang berasal dari-Nya.
- Segala sesuatu memiliki sebabnya. Seorang memperoleh hidayah karena sebab tertentu. Kesesatan pun memiliki sebab. Di antara sebab seorang memperoleh hidayah adalah mengamalkan kitab yang mengantarkan pada hidayah.
Siberut, 25 Muḥarram 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber: Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.






