Surat Al-Baqarah Ayat 3-5

Surat Al-Baqarah Ayat 3-5

Hanya orang-orang bertakwalah yang mau mengambil manfaat dari Al-Qur‘an. Karena itu, pantaslah kalau Al-Qur‘an disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Namun, siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang bertakwa? Seperti apakah sifat mereka?

  1. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Beriman kepada yang gaib inilah sifat pertama orang yang bertakwa. Lantas apa yang dimaksud dengan gaib?

Ibnu Mas’ud dan beberapa sahabat Nabi menjelaskan:

أَمَّا الغَيب فَمَا غَابَ عَنِ الْعِبَادِ مِنْ أَمْرِ الْجَنَّةِ، وَأَمْرِ النَّارِ، وَمَا ذُكِرَ فِي الْقُرْآنِ

“Adapun gaib yaitu segala sesuatu yang tersembunyi dari hamba, yaitu seperti perkara surga, neraka dan segala sesuatu yang disebutkan dalam Al-Quran.” (Tafsīr Al-Qur‘an Al-’Aẓīm)

Berarti, beriman kepada yang gaib adalah meyakini apa yang dikabarkan oleh Allah dan rasul-Nya berupa perkara yang tidak tampak oleh mata dan tidak terjangkau oleh pancaindera. Seperti kebangkitan manusia dari kubur, surga, dan neraka. Termasuk adanya jin dan malaikat

Kenapa mesti beriman kepada yang gaib? Kenapa tidak cukup beriman kepada yang tampak?

Sebab, semua orang, baik itu muslim maupun kafir, meyakini sesuatu yang nampak.

Meyakini sesuatu yang tampak dan terlihat mata bukanlah sesuatu yang istimewa.

Yang istimewa adalah meyakini sesuatu yang tidak nampak dan tidak terlihat oleh mata.

Makanya tidak ada yang meyakini perkara gaib kecuali orang yang bertakwa, yaitu orang yang benar-benar beriman.

Karena itu, siapa yang tidak meyakini perkara gaib, berarti ia bukan orang yang bertakwa. Bahkan, ia bukan orang yang beriman.

Sedangkan siapa yang meyakini nama-nama yang gaib, tapi tidak meyakini hakikatnya, maka ia telah sesat.

Menegakkan salat inilah sifat kedua orang yang bertakwa.

Allah tidak menyatakan “melaksanakan salat” akan tetapi “menegakkan salat”.

Melaksanakan salat maksudnya takbir, membaca Al-Fatihah, rukuk, iktidal, sujud, sampai tasyahud lalu salam. Sedangkan menegakkan salat bukan cuma semua gerakan tadi, tapi juga disertai dengan ‘gerakan’ hati. Bukan cuma gerakan fisik dan jasmani, tapi juga disertai dengan tadabur dan penghayatan hati.

Ketika bertakbir, lisan bergerak dan hati juga merenungkan makna takbir tersebut. Ketika membaca Al-Fātiḥah, lisan bergerak dan hati juga turut menghayati. Ketika rukuk, badan tunduk dan hati juga ikut tunduk. Demikianlah seterusnya.

Salat seperti inilah yang akan mencegah pelakunya dari maksiat dan kemungkaran.

“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Makanya, kalau cuma salat, tak akan mencegah pelakunya dari maksiat.

Itulah jawaban terhadap pertanyaan, “Kenapa banyak orang yang melaksanakan salat tetap melakukan maksiat?”

Menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka inilah sifat ketiga orang yang bertakwa.

Kenapa Allah tidak menyatakan “menginfakkan seluruh rezeki…”, akan tetapi “menginfakkan sebagian rezeki…”?

Untuk menyadarkan kita bahwa yang Allah tuntut dari harta kita bukanlah banyak, melainkan sedikit. Ya, sedikit dan ringan, tapi bermanfaat bagi diri kita sendiri dan juga saudara-saudara kita.

Kenapa Allah menyatakan “sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”?

Untuk menyadarkan kita bahwa harta yang ada di tangan kita pada hakikatnya bukanlah milik kita, tapi milik Allah.

Kekayaan yang kita dapatkan pada hakikatnya bukanlah karena kekuatan dan kemampuan kita, melainkan semata-mata pemberian dan anugerah dari-Nya.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Naḥl: 53)

Kalau memang Allah lah yang memberikan semua itu, maka bersyukurlah kepada-Nya dengan menginfakkan sebagian dari nikmat itu. Ya, sebagian. Bukan semuanya.

  1. وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Dan mereka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan sebelummu, dan mereka yakin akan adanya akhirat.

Mereka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan sebelummu, dan mereka yakin akan adanya akhirat inilah sifat keempat orang yang bertakwa.

Orang yang bertakwa beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada Nabi ﷺ. Apa yang telah diturunkan kepada Nabi ﷺ? Yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.

Allah berfirman:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu. ” (QS. An-Nisa: 113)

Orang yang bertakwa juga beriman kepada apa yang telah diturunkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Apa yang telah diturunkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ? Di antaranya Suhuf Ibrahim, Suhuf Musa, Taurat, Zabur, dan Injil. Orang yang bertakwa mengimani semua itu.

Kalau ada orang yang mengaku beriman kepada Injil, tapi tidak mengimani Al-Quran, maka pada hakikatnya ia tidak beriman kepada Injil. Begitu juga orang yang mengaku beriman kepada Al-Quran, tapi tidak mengimani Injil, maka pada hakikatnya ia tidak beriman kepada Al-Quran.

Lalu sifat orang bertakwa berikutnya yaitu beriman kepada hari akhir. Yakin bahwa suatu saat semua manusia dibangkitkan dari kubur, lalu mempertanggungjawabkan amalan mereka. Orang yang beruntung akan masuk surga, sedangkan orang yang merugi akan masuk neraka.

  1. أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Mereka yang memiliki semua sifat tadi akan mendapat petunjuk dari Allah dan juga menjadi orang-orang yang beruntung. Beruntung yaitu mendapatkan apa yang diinginkan dan selamat dari apa yang tidak diinginkan.

Kenapa Allah membatasi keberuntungan hanya untuk mereka? Sebab, tidak ada jalan untuk mendapatkan keberuntungan kecuali dengan menempuh jalan mereka. Adapun selain jalan mereka, maka itu jalan kecelakaan dan kesialan.

 

Siberut, 27 Rabi’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya