Setelah Allah menyebutkan kelancangan Bani Israel karena menyekutukan-Nya dengan patung anak sapi, lalu Nabi Musa mengajak mereka untuk bertobat, Allah menyebutkan kelancangan mereka yang lain.
Allah berfirman:
*55. وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ*
*Dan (ingatlah), ketika kalian berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas!” maka halilintar menyambar kalian, sedangkan kalian menyaksikannya.*
*56. ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ*
*Kemudian, Kami membangkitkan kalian setelah kalian mati agar kalian bersyukur.*
Setelah mereka menyembah patung anak sapi—yang merupakan kezaliman yang sangat besar terhadap Tuhan mereka, Nabi Musa, berdasarkan perintah Allah, memilih 70 orang terbaik dari mereka yang tidak ikut menyembah patung anak tersebut. Kemudian, beliau membawa mereka ke bukit Ṭursina untuk memohon ampun kepada Allah atas perbuatan saudara-saudara mereka.
Setelah sampai di sana, mereka meminta kepada Nabi Musa agar dapat mendengar perkataan Allah. Maka, Allah pun memperdengarkan perkataan-Nya kepada mereka. Ketika Nabi Musa mengabarkan kepada mereka bahwa bentuk tobat mereka adalah dengan saling membunuh sesama mereka, mereka berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas!”
Ini merupakan kelancangan yang nyata. Maka, Allah murka kepada mereka, lalu mengirim halilintar yang menyambar mereka dalam keadaan mereka saling melihat satu sama lain ketika mereka berjatuhan dan berguguran. Setelah itu, Allah menghidupkan mereka kembali agar mereka bersyukur kepada-Nya dengan beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Sebab, dapat hidup kembali setelah kematian merupakan nikmat besar yang mesti disyukuri.
Faidah yang dapat kita petik dari dua ayat di atas:
- Allah mengingatkan Bani Israel tentang nikmat yang telah diberikan kepada mereka, yaitu Allah membangkitkan mereka setelah kematian.
- Bodohnya Bani Israel. Mereka beriman kepada Nabi Musa, tetapi mereka juga berkata: “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas!”
Alangkah banyak kejadian yang menunjukkan kebodohan mereka.
- Siapa pun yang meminta sesuatu yang tidak mungkin terjadi, pantas mendapatkan hukuman, sebagaimana yang terjadi pada Bani Israel dalam ayat ini.
- Hukuman akan terasa lebih pedih dan menyakitkan jika diberikan dalam keadaan seseorang sadar, sebagaimana firman-Nya: “maka halilintar menyambar kalian, sedangkan kalian menyaksikannya”.
- Allah Mahakuasa untuk menghidupkan orang yang telah mati pada hari kiamat nanti.
Kebangkitan Bani Israel setelah kematian mereka menjadi bukti bahwa Allah mampu membangkitkan seluruh manusia di hari kiamat nanti.
- Segala keputusan Allah mengandung hikmah. Allah membangkitkan Bani Israel bukan tanpa hikmah dan tujuan, melainkan agar mereka bersyukur.
- Wajibnya bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.
- Hidup adalah untuk beribadah. Berdasarkan firman-Nya: “Kami membangkitkan kalian setelah kalian mati agar kalian bersyukur.”
Dan bersyukur merupakan ibadah. Dengan demikian, tujuan hidup manusia di dunia adalah untuk beribadah, bukan untuk yang lain.
Siberut, 10 Ṣafar 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Aisar At-Tafāsīr li Kalām Al-’Aliyy Al-Kabīr karya Syekh Abū Bakr Al-Jazāiri
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī.






