Mempunyai pemimpin yang baik adalah nikmat yang berharga. Sedangkan mempunyai pemimpin yang jahat adalah bala bencana.
Imam Qatadah bin Di’amah As-Sadusi berkata:
قالت بنو إسرائيل:
“Bani Israel berkata:
إلهنا أنت في السماء ونحن في الأرض فكيف نعرف رضاك من سخطك؟
“Wahai Tuhan kami, Engkau ada di atas langit sedangkan kami ada di bumi. Maka bagaimana kami mengetahui keridaan-Mu dengan kemurkaan-Mu?”
فأوحى الله تعالى إلى بعض أنبيائهم:
Maka Allah mewahyukan kepada beberapa nabi mereka:
إذا استعملت عليكم خياركم فقد رضيت عنكم، وإذا استعملت عليكم شراركم فقد سخطت عليكم.
“Jika Aku menjadikan orang terbaik di antara kalian sebagai pemimpin kalian, maka (artinya) Aku rida kepada kalian. Dan jika Aku menjadikan orang terburuk di antara kalian sebagai pemimpin kalian, maka (artinya) Aku murka kepada kalian.” (Siraj Al-Muluk)
Kalau kita dipimpin oleh orang yang baik dan adil, itu tandanya Allah rida kepada kita.
Dan kalau kita dipimpin oleh orang yang kejam dan zalim, itu tandanya Allah murka kepada kita.
Murka karena apa?
Karena dosa kita!
Allah berfirman:
{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ}
“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syuuraa: 30)
Dan Allah berfirman:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Kenikmatan apa pun yang engkau rasakan itu adalah dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 79)
Mempunyai pemimpin kejam dan zalim adalah musibah dan bencana. Dan musibah serta bencana itu tidaklah terjadi kecuali karena dosa kita juga. Kesalahan kita juga.
Allah berfirman:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim menguasai sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’aam: 129)
Pemimpin itu cermin dari rakyatnya. Kelakuan rakyat akan tampak pada kelakuan pemimpin mereka.
Kalau kebanyakan mereka menyukai judi, maka yang akan muncul menjadi pemimpin mereka adalah orang yang menyukai judi.
Kalau kebanyakan mereka menyukai korupsi, maka yang akan muncul menjadi pemimpin mereka adalah orang yang menyukai korupsi.
Kalau kebanyakan mereka menyukai zina, maka yang akan muncul menjadi pemimpin mereka adalah orang yang menyukai zina.
Kalau kebanyakan mereka menyukai perdukunan, maka yang akan muncul menjadi pemimpin mereka adalah orang yang menyukai perdukunan.
Kalau kebanyakan mereka baik, maka akan dipimpin pula oleh orang yang baik. Tapi kalau kebanyakan mereka jahat, maka akan dipimpin pula oleh orang yang jahat.
Lihatlah para sahabat Nabi ﷺ. Mereka adalah orang-orang terbaik di umat ini. Lalu siapakah yang memimpin mereka? Pemimpin terbaik yaitu nabi kita ﷺ.
Begitu juga generasi setelah mereka. Mereka adalah orang-orang terbaik di umat ini. Karena itu, yang memimpin mereka adalah pemimpin-pemimpin baik seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.
Hingga ketika kebodohan, kemaksiatan, dan kezaliman merajalela di tengah-tengah umat ini, dan banyak di antara mereka yang melalaikan aturan agama, maka lahirlah pemimpin-pemimpin yang bodoh, zalim dan melalaikan aturan agama.
Karena itu….
Jangan berharap perilaku pemimpin kita seperti perilaku Abu Bakar, kalau perilaku kita sendiri seperti perilaku Abu Jahal.
Jangan berharap kelakuan pemimpin kita seperti kelakuan ‘Umar bin Khaththab, kalau kelakuan kita sendiri seperti kelakukan Abu Lahab.
Jangan berharap kita punya pemimpin seperti ‘Utsman bin Affan, sementara kita sendiri masih seperti Haman.
كما تكونوا يولى عليكم
“Kalian akan dipimpin sesuai dengan keadaan kalian.”
Itulah perkataan hikmah yang disebutkan oleh Imam Ath-Thurthusyi dalam kitab Siraj Al-Muluk.
Pemimpin kita itu cerminan kita. Kelakuan kita akan tampak pada kelakuan pemimpin kita. Makanya, kita akan mendapatkan pemimpin sesuai dengan keadaan kita.
Karena itu, tidak adil kalau kita menuntut pemimpin kita agar menunaikan hak kita, tapi kita sendiri tidak menunaikan haknya.
Kita menuntut pemimpin kita tidak berbuat zalim kepada kita, tapi kita sendiri berbuat zalim kepadanya.
Khalifah yang fakih, ‘Abdul Malik bin Marwan berkata:
ما أنصفتمونا يا معشر الرعية، تريدون منا سيرة أبي بكر وعمر ولا تسيرون فينا ولا في أنفسكم بسيرتهما
“Kalian tidak bersikap bijak kepada kami, wahai rakyat! Kalian menginginkan kami berperilaku seperti perilaku Abu Bakar dan ‘Umar, tapi kalian sendiri tidak berperilaku dengan perilaku keduanya dalam menghadapi kami dan diri kalian!” (Siraj Al-Muluk)
Agar Selamat dari Pemimpin Yang Jahat
Kalau memang mempunyai pemimpin yang kejam dan zalim adalah bencana, maka apa yang harus kita lakukan agar kita tidak terkena bencana itu?
Dan apa yang harus kita lakukan kalau terlanjur kena bencana itu?
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:
فَإِذَا أَرَادَ الرَّعِيَّة أَنْ يَتَخَلَّصُوا مِنْ ظُلْمِ الْأَمِيرِ الظَّالِمِ. فَلْيَتْرُكُوا الظُّلْمَ.
“Kalau rakyat ingin bebas dari kezaliman pemimpin yang zalim, maka hendaknya mereka juga meninggalkan kezaliman.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Malik bin Dinar menyebutkan bahwa disebutkan di beberapa kitab terdahulu:
أَنَا اللَّهُ مَالِكُ الْمُلْكِ، قُلُوبُ الْمُلُوكِ بِيَدِي، فَمَنْ أَطَاعَنِي جَعَلْتُهُمْ عَلَيْهِ رَحْمَةً، وَمَنْ عَصَانِي جَعَلْتُهُمْ عَلَيْهِ نِقْمَة، فَلَا تَشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِسَبِّ الْمُلُوكِ، لَكِنْ تُوبُوا أعطفهُمْ عَلَيْكُمْ
“Aku adalah Allah, Yang mempunyai kerajaan. Hati para raja di tangan-Ku. Siapa yang menaati-Ku, maka Aku jadikan para raja itu sebagai rahmat atasnya. Dan siapa yang mendurhakai-Ku, maka Aku jadikan para raja itu sebagai siksa atasnya. Maka jangan kalian menyibukkan diri kalian dengan mencela para raja. Akan tetapi bertaubatlah kalian, niscaya Aku akan menjadikan mereka mengasihi kalian.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Siberut, 2 Jumada Al-Ulaa 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber: Kamaa Takuunuu Yuwallaa ‘Alaikum karya Syekh ‘Abdul Malik Ramadhani.






