Pelaku Dosa Antara Benci dan Cinta

Pelaku Dosa Antara Benci dan Cinta

Suatu hari seseorang dibawa ke hadapan Nabi ﷺ. Orang itu sudah meminum minuman keras. Maka Nabi ﷺ pun memerintahkan agar orang itu dihukum cambuk.

Dan pada hari yang lain, ternyata orang itu mengulangi lagi perbuatannya. Ia mabuk lagi. Ia meminum minuman keras lagi. Ia pun dibawa lagi ke hadapan Nabi ﷺ lalu dihukum cambuk lagi.

Melihat orang ini sering mabuk dan sering dihukum, ada seseorang yang berkata:

اللَّهُمَّ العَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ

“Ya Allah, kutuklah ia! Alangkah seringnya ia dibawa (ke hadapan Nabi)!”

Mendengar ucapannya, Nabi ﷺ pun menegurnya:

لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Jangan kalian laknati ia! Demi Allah, yang kuketahui ia masih mencintai Allah dan Rasul-Nya!” (HR. Bukhari)

Mengapa Nabi ﷺ melarang untuk melaknat orang yang sudah meminum minuman keras tadi!

Mengapa Nabi ﷺ melarang untuk mencerca dan memaki orang yang sudah melakukan perbuatan dosa tadi?

Nabi ﷺ bersabda:

ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان والفاحش البذيء

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat dan juga mengucapkan kata-kata keji.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Orang tadi jelas-jelas berbuat maksiat dan dosa, namun mengapa Nabi ﷺ tidak menghinakannya dan merendahkannya?

Kata Nabi ﷺ: “ia masih mencintai Allah dan rasul-Nya. ”

Ya, masih ada iman dalam hatinya. Masih ada Islam pada dirinya. Masih ada hak persaudaraan pada dirinya.

Disebutkan dalam riwayat lain ketika ada orang yang memaki pemabuk yang telah mendapat hukuman, Nabi ﷺ menegurnya dengan berkata:

 لَا تَقُولُوا هَكَذَا، ولَكِنْ قُولُوا:

“Jangan berkata begitu! Namun doakanlah:

اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ , اللهُمَّ ارْحَمْهُ

“Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah rahmatilah ia.”

Saudaraku!

Demikianlah seharusnya sikap kita terhadap saudara-saudara kita yang terjatuh dalam kesalahan dan dosa.

Kita mengingkari kesalahannya. Kita membenci dosa yang telah diperbuatnya. Tapi…

Jangan lupa, ia masih memiliki hak untuk dicintai karena masih ada iman dalam hatinya.

Dan jangan lupa, ia masih memiliki hak untuk ditolong dan disayangi karena masih ada Islam pada dirinya.

Nabi ﷺ bersabda:

المسلم أخو المسلم: لا يظلمه ولا يحقره، ولا يخذلهُ، التقوى ها هنا – ويشير إلى صدره ثلاث مرات – بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain. Janganlah ia menganiayanya, jangan merendahkannya, dan jangan menelantarkannya. Takwa itu ada di sini -beliau menunjuk ke arah dadanya sampai tiga kali-. Cukuplah seorang dianggap jahat tatkala ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya, terjaga darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

 

Sifat Muslim Sejati

Seorang muslim sejati merasa senang dan gembira menyaksikan saudaranya mendapatkan nikmat dan kebaikan.  Sebagaimana ia pun senang dan gembira, kalau dirinya mendapatkan nikmat dan kebaikan.

Dan seorang muslim sejati merasa sedih dan berduka menyaksikan saudaranya terjatuh dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana ia pun bersedih dan berduka, seandainya dirinya terjatuh dalam kesalahan dan dosa.

Itulah sikap yang seharusnya.

Bukan justru senang melihat saudaranya terjatuh dalam kesalahan.

Bukan justru gembira melihat saudaranya tergelincir dalam dosa.

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

“Jangan engkau bergembira atas kesalahan saudaramu, sebab bisa jadi Allah merahmatinya, sedangkan engkau sendiri akan diberi cobaan oleh-Nya.” (HR. Tirmidzi)

Alangkah benarnya nabi kita.

Berapa banyak orang yang melaknat dan mencerca pelaku korupsi, ternyata di kemudian hari mereka masuk penjara karena kasus korupsi.

Berapa banyak orang yang mengejek dan mengolok-olok orang yang terjatuh dalam perbuatan zina, ternyata di kemudian hari mereka pun terjatuh dalam perbuatan yang sama.

 

Lebih Pantas daripada Fir’aun

Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى  فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

Fir’aun adalah orang yang sangat kafir, kejam dan jahat di muka bumi.

Namun, meskipun begitu, apa yang Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Harun?

maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.

Nah, kalau kepada orang yang sangat kafir dan kejam saja diperintahkan untuk berkata-kata dengan santun dan lemah lembut, apalagi kepada saudara-saudara kita seiman!

Karena itu, saudara kita seagama lebih berhak mendapatkan perlakuan santun dibandingkan Fir’aun!

Saudara kita seiman lebih berhak mendapatkan perlakuan lembut dibandingkan Fir’aun!

 

Siberut, 3 Dzulqa’dah 1441

Abu Yahya Adiya