Surat Al-Baqarah Ayat 21-22

Surat Al-Baqarah Ayat 21-22

Setelah menyebutkan beberapa sifat orang-orang munafik, Allah berfirman:

 

 

  1. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Dalam ayat ini Allah memanggil semua manusia, hamba-hamba-Nya, baik muslim maupun kafir, baik pria maupun wanita.

Allah memanggil kita semua agar beribadah kepada-Nya, yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita.

Mengapa Allah memerintahkan demikian?

“Agar kalian bertakwa.”

Allah menyuruh kita beribadah kepada-Nya bukan karena Dia membutuhkan ibadah kita.

Allah memerintahkan ibadah bukan untuk kepentingan-Nya, melainkan untuk kepentingan kita sendiri, yaitu agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Seperti apa sifat Tuhan yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita? Allah menyebutkan:

 

  1. الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap. Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan hujan itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.”

Ya, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan sehingga dapat kita diami.

Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat menetap.” (QS. Al-Mu‘min: 64)

Dan Dialah yang menjadikan langit sebagai atap sehingga kita dapat bernaung di bawahnya, naungan yang penuh berkah dan kebaikan.

Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit sehingga tanah menjadi subur, lalu tumbuhlah tanaman dan buah-buahan sehingga dapat dimakan oleh makhluk yang ada di bumi.

Itulah rahmat dan rezeki dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang seharusnya membuat mereka bersyukur kepada-Nya.

Ya, dengan berbagai nikmat itu seharusnya mereka bersyukur kepada-Nya dengan mengesakan-Nya, bukan justru menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.

Karena itu, Allah berfirman:

“Karena itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui”

Ya, bagaimana mungkin kalian membuat tandingan-tandingan bagi-Nya, padahal kalian mengetahui bahwa Dialah satu-satunya yang menciptakan langit dan bumi?!

Bagaimana mungkin kalian membuat tandingan-tandingan bagi-Nya, padahal kalian mengetahui bahwa Dialah satu-satunya yang menurunkan hujan dan memberikan makanan?!

Bagaimana mungkin kalian membuat tandingan-tandingan bagi-Nya, padahal kalian mengetahui bahwa Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi?!

 

Faidah yang dapat kita petik dari dua ayat tadi:

 

  1. Manusia wajib beribadah kepada Allah.

 

  1. Salah satu metode pengajaran yang baik adalah dengan memberikan contoh atau kisah dari orang terdahulu.

Mengapa Allah tidak hanya menyebutkan “sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian”?

Mengapa Allah melanjutkannya dengan “dan orang-orang yang sebelum kalian”?

Yang demikian-Allahu a’lam-agar lebih membekas, agar memberikan kesan yang lebih kuat.

Agar kita berpikir bahwa jika orang-orang sebelum kita ditolong Allah karena beriman kepada ayat-ayat-Nya, maka kita pun akan ditolong Allah jika kita beriman kepada ayat-ayat-Nya.

Agar kita berpikir bahwa jika orang-orang sebelum kita dihinakan Allah karena mendustakan ayat-ayat-Nya, maka kita pun akan dihinakan Allah jika mendustakan ayat-ayat-Nya.

 

  1. Seluruh perintah Allah membawa kebaikan bagi hamba.

Sebagaimana dalam ayat tadi, setelah memberikan perintah untuk beribadah kepada-Nya, Allah menyebutkan, “agar kalian bertakwa.”

 

  1. Salah satu metode dakwah adalah mengingatkan tentang nikmat-nikmat-Nya.

Dalam dua ayat tadi, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya tentang nikmat-nikmat-Nya:

Allah mengingatkan bahwa yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka adalah Allah.

Yang telah menciptakan, tentu saja sangat pantas diagungkan dan diibadahi.

Allah juga mengingatkan bahwa yang selama ini memberikan nikmat yang begitu banyak kepada mereka adalah Allah.

Dialah yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan sehingga kita dapat tinggal di atasnya.

Dia pula yang telah menjadikan langit sebagai atap sehingga kita dapat bernaung di bawahnya.

Dia juga yang telah menurunkan hujan sehingga darinya tumbuh berbagai buah-buahan dan sayur-sayuran sehingga kita dapat bertahan hidup.

Yang telah memberikan nikmat sebanyak itu tentu saja sangat berhak untuk disyukuri dan diibadahi.

 

  1. Haramnya membuat tandingan bagi Allah. Baik kecil maupun besar. Baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Apa contoh mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah?

Ibnu ’Abbās menafsirkan ayat tadi dengan mengatakan:

الأَنْدَادُ هُوَ الشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ، فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ:

“Mengadakan tandingan bagi Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit dikenali daripada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita. Yaitu seperti ucapan:

وَاللَّهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلانَةُ، وَحَيَاتِي.

“Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, juga demi hidupku”,

وَيَقُولُ:

Atau seperti ucapan:

لَوْلا كَلْبُهُ هَذَا لأَتَانَا اللُّصُوصُ، وَلَوْلا الْبَطُّ فِي الدَّارِ لأَتَى اللُّصُوصُ

“Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu, dan kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut”,

وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ:

Atau seperti ucapan seseorang kepada kawannya:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ

“Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu.”

وَقَوْلُ الرَّجُلِ:

Atau seperti ucapan seseorang:

لَوْلا اللَّهُ وَفُلَانٌ.

“Kalaulah bukan karena Allah dan fulan.”

لَا تَجْعَلْ فِيهَا فلان، فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ بِهِ شِرْكٌ.

Janganlah engkau menyertakan ‘fulan’ dalam semua ucapan tadi. Karena semua itu adalah kemusyrikan.” (Tafsīr Al-Qur‘ān Al-’Aẓīm Musnadan ’an Rasūl Allāh wa Aṣ-Ṣahābah wa At-Tābi’īn)

 

Siberut, 24 Jumādā Al-Ūlā 1442

Abu Yahya Adiya