Saat Petunjuk Diabaikan

Saat Petunjuk Diabaikan

Petunjuk dalam Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang samar. Ia terang, jelas, dan nyata. Demikian pula petunjuk dalam As-Sunnah; ia bukan sekadar nasihat, melainkan cahaya yang membimbing setiap langkah manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

قد تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك

“Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang putih terang; malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya setelahku kecuali akan binasa.” (HR. Ibnu Majah)

Inilah petunjuk yang terang benderang. Petunjuk yang tidak menyisakan alasan bagi siapa pun untuk menyimpang.

Siapa yang menggenggamnya, maka ia akan merasakan kelapangan dada dan ketenangan jiwa. Namun, siapa yang melepaskannya…

Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, ia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Bayangkan, di tengah malam, seseorang berjalan seorang diri, menembus hutan yang asing dan sunyi. Di tangannya ada api, satu-satunya cahaya yang menerangi.

Namun tiba-tiba, api itu ia campakkan.

Seketika gelap menyelimuti. Ia melangkah tanpa arah, berputar ke sana kemari, berharap menemukan jalan keluar, tetapi yang didapat hanyalah kebuntuan. Hatinya diliputi kecemasan dan kebingungan yang tak berujung, dan kegelisahan yang melelahkan.

Demikianlah keadaan orang yang berpaling dari petunjuk Allah. Dadanya terasa sempit. Jiwanya dipenuhi keraguan, dan pikirannya terpenjara dalam kebingungan. Semua jalan tampak buntu, sementara tujuan semakin menjauh.

Sebab, ketika cahaya ditinggalkan, kegelapanlah yang berkuasa.

 

Siberut, 24 Jumada Ats-Tsaniyah 1447
Abu Yahya Adiya