“Aku berlindung kepada-Mu dari khianat, karena sesungguhnya itu seburuk-buruk sesuatu yang mengiringi seseorang.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Majah)
Demikianlah Nabi ﷺ berdoa kepada Allah. Beliau berlindung kepada-Nya dari khianat.
Kalau Nabi ﷺ sampai berlindung kepada-Nya dari khianat, itu menunjukkan betapa bahayanya khianat.
Khalid Ar-Rib’i berkata:
قَرَأْت فِي بَعْضِ الْكُتُبِ السَّالِفَةِ أَنَّ مِمَّا تُعَجِّلُ عُقُوبَةً وَلَا تُؤَخِّرُ الْأَمَانَةُ تُخَانُ
“Aku membaca keterangan dalam beberapa kitab terdahulu bahwa di antara perbuatan yang segera mendapatkan hukuman dan tidak diakhirkan yaitu mengkhianati amanat…” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)
Tidak amanah mengundang hukuman. Karenanya, wajarlah, kalau pelakunya akan merasakan kesengsaraan, dan kerendahan.
“Siapa yang tidak amanah, maka ia akan menjadi rendah.” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)
Demikianlah sebuah perkataan hikmah. Dan itu benar, tidaklah salah.
Sebesar apa pun pendapatan seseorang dan sebanyak apa pun asetnya, kalau itu hasil dari korupsi, penggelapan, dan pengkhianatan, maka ia akan menjadi rendah dan kekayaannya tidak akan berkah.
Meskipun hartanya bertambah, ia terus merasa resah. Walapun meningkat asetnya, ketenteraman tidak juga menyelimuti hatinya.
Karena itu, Imam Ibnul Jauzi mewanti-wanti:
وإيّاك يا أخي أن تغتبط بشيء من حقوق المسلمين، فإن البركة لا تكون مع الخيانة، وإن قليلا من الحرام يتلف كثيرا من الحلال
“Hati-hatilah saudaraku, jangan sampai engkau menginginkan sedikit pun hak kaum muslimin. Karena sesungguhnya berkah tidak terwujud dengan khianat. Dan sesungguhnya sedikit yang haram bisa merusak banyak yang halal.” (Bahr Ad-Dumu’)
Maka, jangan sampai harta halal yang sudah susah payah kita kumpulkan jadi rusak karena sedikit korupsi, penggelapan, dan pengkhianatan yang kita lakukan.
Siberut, 11 Rajab 1446
Abu Yahya Adiya






