Berdoa kepada Allah=Tidak Beradab kepada-Nya?

Berdoa kepada Allah=Tidak Beradab kepada-Nya?

“Orang yang fakir adalah orang yang tidak membutuhkan Allah.”

Itulah perkataan yang ternukil dari kaum Sufi. Apa maksudnya?

Tokoh Sufi, Bahauddin Naqsyaband ditanya tentang perkataan tadi, maka ia pun menjelaskan:

المراد منه كما قال إبراهيم:

“Maksudnya yaitu sebagaimana perkataan Ibrahim:

حسبي من سؤالي علمه بحالي

“Pengetahuan-Nya tentang keadaanku telah mencukupkanku dari meminta kepada-Nya.” (Al-Hadaiq Al-Wardiyyah fi Haqaiq Ajillaa Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyyah)

Siapa yang dimaksud dengan Ibrahim di sini? Kenapa perkataan itu terlontar darinya?

Maksud Ibrahim di sini yaitu Nabi Ibrahim ﷺ. Menurut kaum Sufi, perkataan itu terlontar dari beliau ﷺ tatkala kaumnya melemparkan beliau ke dalam api.

Ketika Nabi Ibrahim ﷺ hendak dilemparkan ke dalam api besar yang berkobar-kobar, malaikat Jibril menyuruh beliau agar berdoa kepada Allah. Namun, Nabi Ibrahim ﷺ enggan melakukan itu dengan berkata, “Pengetahuan-Nya tentang keadaanku telah mencukupkanku dari meminta kepada-Nya.”

Benarkah Nabi Ibrahim ﷺ enggan berdoa kepada Allah? Dan kalau itu benar, bolehkah kita enggan berdoa kepada Allah?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَمَا يُرْوَى أَنَّ الْخَلِيلَ لَمَّا أُلْقِيَ فِي الْمَنْجَنِيقِ قَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: سَلْ قَالَ ” حَسْبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِي ” لَيْسَ لَهُ إسْنَادٌ مَعْرُوفٌ وَهُوَ بَاطِلٌ بَلْ الَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ:

“Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim ﷺ tatkala dilemparkan dengan manjaniq, Jibril berkata kepada beliau agar berdoa kepada Allah lalu beliau berkata, ‘Pengetahuan-Nya tentang keadaanku telah mencukupkanku dari meminta kepada-Nya’, maka itu riwayat yang tidak memiliki sanad yang diketahui dan itu batil. Bahkan, yang tetap dalam hadis sahih dari Ibnu Abbas, yaitu Nabi Ibrahim ﷺ mengucapkan:

حَسْبِي اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagiku dan Dialah sebaik-baik penolongku.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Maksud Syekhul Islam yaitu perkataan Ibnu ‘Abbas:

كَانَ آخِرَ قَوْل إبْراهِيمَ ﷺ حِينَ ألْقِي في النَّار

“Akhir ucapan Ibrahim ﷺ tatkala dilempar ke api yaitu:

حسْبي اللَّهُ وَنِعمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagiku dan Dialah sebaik-baik penolongku.” (HR. Bukhari)

Inilah yang terlontar dari lisan Nabi Ibrahim ﷺ tatkala dilempar ke api. Bukan perkataan: “Pengetahuan-Nya tentang keadaanku telah mencukupkanku dari meminta kepada-Nya”!

Karena itu, pernyataan bahwa Nabi Ibrahim ﷺ enggan berdoa kepada Allah adalah batil, dusta, dan bertentangan dengan fakta yang ada.

Bukankah Nabi Ibrahim ﷺ pernah berdoa kepada Allah untuk kota Mekah dan penghuninya? (Lihat: QS. Al-Baqarah: 126)

Bukankah Nabi Ibrahim dan putranya, yaitu Nabi Isma’il pernah berdoa kepada Allah untuk mereka berdua dan juga keturunan mereka? (Lihat: QS. Al-Baqarah: 127-129)

Kalau memang pernyataan bahwa Nabi Ibrahim ﷺ enggan berdoa kepada Allah adalah batil, dusta, dan bertentangan dengan fakta yang ada, maka jangan sampai kita enggan berdoa kepada Allah. Sebab, doa adalah ibadah dan Dia telah menyuruh kita beribadah kepada-Nya.

Suatu hari, Nabi ﷺ bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

“Doa itu adalah ibadah.”

Lalu beliau ﷺ membaca firman Allah Ta’ala (QS. Ghafir: 60):

وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين

“Dan Tuhan kalian berfirman: ‘Berdoalah kepadaku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian’. Sesungguhnya orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” (HR. Tirmidzi)

Allah menyuruh kita berdoa dan menjanjikan kepada kita bahwa Dia akan mengabulkan doa kita. Itu menunjukkan betapa mulia dan pentingnya doa.

Saking pentingnya doa, sampai-sampai Allah murka kalau kita tidak mau berdoa kepada-Nya.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ، غَضِبَ عَلَيْهِ

“Siapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Imam Al-Mubarakfuri berkata:

لِأَنَّ تَرْكَ السُّؤَالِ تَكَبُّرٌ وَاسْتِغْنَاءٌ وَهَذَا لَا يَجُوزُ لِلْعَبْدِ

“Sebab, tidak mau meminta sama saja dengan kesombongan dan merasa tidak butuh kepada Allah. Dan itu tidak diperbolehkan bagi seorang hamba.” (Tuhfah Al-Ahwadzi)

Ya, tidak boleh seorang hamba sombong dan merasa tidak butuh kepada Allah.

Karena itu, berdoa kepada Allah bukanlah adab yang buruk kepada Allah. Justru tidak mau berdoa kepada-Nya adalah adab yang buruk kepada-Nya.

Setelah menyebutkan hadis-hadis yang berisi ancaman terhadap orang yang tidak mau berdoa kepada Allah, Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:

وقد غفل عن هذه الأحاديث بعض جهلة الصوفية أو تجاهلوها، بزعمهم أن دعاء الله سوء أدب مع الله، متأثرين في ذلك بالأثر الإسرائيلي: ” علمه بحالي يغني عن سؤاله “!

“Sungguh, sebagian orang bodoh dari kalangan Sufi telah lalai atau pura-pura tidak tahu tentang hadis-hadis ini, dengan alasan bahwa berdoa kepada Allah adalah adab yang buruk kepada Allah, karena dalam hal demikian mereka terpengaruh oleh riwayat dari Bani Israel: ‘Pengetahuan-Nya tentang keadaanku telah mencukupkanku dari meminta kepada-Nya’!

فجهلوا أن دعاء العبد لربه تعالى ليس من باب إعلامه بحاجته إليه سبحانه وتعالى * (يعلم السر وأخفى) *، وإنما من باب إظهار عبوديته وحاجته إليه وفقره

Mereka tidak tahu bahwa doa seorang hamba kepada Tuhannya bukan dalam rangka memberitahukan kebutuhannya kepada-Nya. Sebab, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Namun, itu dalam rangka menampakkan penghambaannya dan kebutuhannya kepada-Nya.” (Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah)

 

Siberut, 23 Syawwal 1444

Abu Yahya Adiya