Kedermawanan Sa’d bin Ar-Rabi’ dan Kemuliaan ‘Abdurrahman bin ‘Auf

Kedermawanan Sa’d bin Ar-Rabi’ dan Kemuliaan ‘Abdurrahman bin ‘Auf

Ketika sampai ke Madinah, Nabi ﷺ mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.

Di antara mereka yang dipersaudarakan yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf dari kalangan Muhajirin dan Sa’d bin Ar-Rabi’ dari kalangan Anshar.

Sa’d bin Ar-Rabi’ berkata ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

إِنِّي ‌أَكْثَرُ ‌الْأَنْصَارِ مَالًا، فَأَقْسِمُ لَكَ نِصْفَ مَالِي، وَانْظُرْ أَيَّ زَوْجَتَيَّ هَوِيتَ نَزَلْتُ لَكَ عَنْهَا، فَإِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا

“Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya. Karena itu, kuberi separuh hartaku kepadamu, dan lihatlah di antara kedua isteriku siapa yang engkau suka, nanti akan aku ceraikan ia untukmu. Jika ia telah halal, maka nikahilah ia!”

Mendapatkan tawaran demikian, ‘Abdurrahman berkata kepada Sa’d:

لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ، هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟

“Aku tidak membutuhkan itu. Apakah ada pasar yang sedang berlangsung perdagangan?”

Sa’d menjawab:

سُوقُ قَيْنُقَاعٍ

“Pasar Qainuqa’.”

Dalam riwayat lain, ketika mendapatkan tawaran tadi, ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata kepada Sa’d bin Ar-Rabi’:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ

“Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja pasar kepadaku!”

Lalu ‘Abdurrahman pergi ke pasar Qainuqa’. Ia berjualan di sana hingga mendapatkan keuntungan dari penjualan keju dan samin. Ia melakukan itu pada hari-hari berikutnya, hingga akhirnya ia datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan pada dirinya ada bekas minyak wangi.

Maka Nabi ﷺ bertanya:

تَزَوَّجْتَ

“Engkau sudah menikah?”

‘Abdurrahman menjawab:

نَعَمْ

 “Ya.”

Lalu beliau bertanya lagi:

وَمَنْ

“Dengan siapa?”

Ia menjawab:

امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ

“Dengan seorang wanita Anshar.”

Beliau bertanya lagi:

كَمْ سُقْتَ

“Berapa mahar yang engkau bayar?”

Ia menjawab:

زِنَةَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ، أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ

“Seberat biji emas, atau sebiji emas.”

Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya:

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Adakan walimah, walau hanya dengan seekor kambing!” (HR. Bukhari)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Kuatnya persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Saking kuatnya persaudaraan di antara mereka sampai-sampai Sa’d bin Ar-Rabi’ menawarkan separuh dari hartanya kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan menawarkan salah seorang dari istrinya kepadanya.

 

  1. Bolehnya seseorang menawarkan istrinya kepada orang yang saleh untuk dinikahi setelah ia ceraikan. Seperti yang dilakukan oleh Sa’d bin Ar-Rabi’ terhadap ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

 

  1. Boleh seorang pria melihat seorang wanita sebelum menikahinya. Karena itulah Sa’d bin Ar-Rabi’ menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk menikahi istrinya kalau memang berminat setelah ia melihatnya.

 

  1. Tidak mengapa orang yang memiliki kedudukan mulia melakukan aktivitas jual beli di pasar. Dan itu tidak mengurangi kemuliaannya. Seperti yang dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Ia tidak gengsi untuk berjualan di pasar, walaupun ia sebelumnya orang yang kaya raya.

 

  1. Disyariatkannya perdagangan dan itu termasuk sarana untuk mendapatkan penghasilan yang halal.

 

  1. Hidup dari perdagangan dan usaha sendiri lebih utama daripada hidup dari hasil sedekah, hibah, dan semacamnya. Karena itulah ‘Abdurrahman bin ‘Auf menolak tawaran Sa’d bin Ar-Rabi’ tadi.

 

  1. Nikah itu mesti ada mahar. Karena itulah Nabi ﷺ bertanya tentang itu kepada Abdurrahman bin Auf.

 

  1. Anjuran untuk mempermudah mahar. Sebab, ‘Abdurrahman bin ‘Auf menikah dengan mahar berupa sebiji emas, padahal ia mampu menyerahkan mahar lebih besar dan lebih mahal dari itu.

 

  1. Perintah bagi orang yang menikah untuk mengadakan walimah nikah.

Imam Ibnu Daqiq Al-Ied berkata:

وَقَوْلُهُ ” أَوْلِمْ ” صِيغَةُ أَمْرٍ، مَحْمُولَةٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ وَأَجْرَاهَا بَعْضُهُمْ عَلَى ظَاهِرِهَا، فَأَوْجَبَ ذَلِكَ.

“Sabda beliau ﷺ: ‘Adakan walimah, walau hanya dengan seekor kambing!’ adalah bentuk perintah yang dibawakan pada makna anjuran menurut mayoritas ulama. Dan sebagian ulama membawakan pada makna yang sesuai dengan lahirnya, karena itu mereka mewajibkan itu.” (Ihkam Al-Ahkam Syarh Umdah Al-Ahkam)

Yang mewajibkan walimah nikah adalah para ulama zhahiriyyah. Mereka berdalil dengan hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf tadi. Dalam hadis tadi, Nabi ﷺ memberikan perintah dan hukum asal perintah adalah wajib. Selain itu mereka berdalil dengan hadis Buraidah Al-Aslami. Ia berkata:

لَمَّا خَطَبَ عَلِيٌّ فَاطِمَةَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ

“Tatkala ‘Ali melamar Fathimah, Rasulullah bersabda:

إِنَّهُ لَا بُدَّ لِلْعُرْسِ مِنْ وَلِيمَةٍ

“Sesungguhnya pernikahan itu mesti dengan walimah.” (HR. Ahmad)

Syekh Abdullah Al-Fauzan berkata:

والقول بالوجوب قوي، فإن النبي ﷺ أمر بها عبد الرحمن، ولم يدعها ﷺ بأي شيء تيسر، فالأحوط ألا يدعها القادر امتثالًا للأمر، وتأسيًا بالنبي ﷺ

Pendapat yang menyatakan wajibnya walimah nikah adalah kuat. Karena sesungguhnya Nabi ﷺ telah menyuruh Abdurrahman untuk melakukannya dan beliau ﷺ sendiri tidak pernah meninggalkan walimah dengan apa pun yang mudah bagi beliau. Karena itu, yang lebih berhati-hati, orang yang mampu melakukan walimah jangan meninggalkannya sebagai bentuk pelaksanaan terhadap perintah Nabi ﷺ dan peneladanan terhadap beliau. (Minhah Al-Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram)

 

  1. Dianjurkan menyediakan jamuan berupa daging kambing dalam walimah nikah bagi yang mampu.

Imam An-Nawawi berkata:

‌‌‌أَوْلِمْ ‌وَلَوْ ‌بِشَاةٍ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُوسِرِ أَنْ لَا يَنْقُصَ عَنْ شَاةٍ وَنَقَلَ الْقَاضِي الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ لَا حَدَّ لِقَدْرِهَا الْمُجْزِئِ بَلْ بِأَيِّ شَيْءٍ أَوْلَمَ مِنَ الطَّعَامِ حَصَلَتِ الْوَلِيمَةُ

“Adakan walimah, walau hanya dengan seekor kambing!’ ini adalah dalil yang menunjukkan disukai bagi orang yang mempunyai kelapangan mengadakan walimah dengan jamuan yang tidak kurang dari seekor kambing. Al-Qadhi menukil kesepakatan para ulama bahwa tidak ada batas minimal yang mencukupi dalam jamuan walimah. Bahkan, dengan makanan apa pun jamuan, walimah sudah terpenuhi.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

 

  1. Yang melaksanakan walimah adalah pihak suami.

Syekh Abdullah Al-Fauzan berkata:

وأنها من الزوج، لقوله: (أولم)، وأما عملها من جانب أهل الزوجة فليس عليه دليل فيما أعلم

“Walimah itu dari pihak suami, berdasarkan sabda beliau ‘Adakan walimah’. Adapun melaksanakannya dari pihak keluarga istri, maka tidak ada dalil yang menunjukkan itu sepengetahuanku.” (Minhah Al-Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram)

 

  1. Keutamaan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sebab, ia merupakan sosok yang dermawan. Saking dermawannya sampai-sampai ia menawarkan separuh dari hartanya kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan menawarkan salah seorang dari istrinya kepadanya.

 

  1. Keutamaan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Sebab, ia merupakan sosok yang sangat menjaga kehormatan dan kemuliaannya. Salah satu bukti yang menunjukkan demikian yaitu ia enggan menerima bantuan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sebab, ia tahu bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

أَوْ لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تَعَاطَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ، اسْتَخَفُّوا بِكَ، وَكَرِهُوا حَدِيثَكَ، وَأَبْغَضُوكَ.

Orang-orang akan senantiasa memuliakanmu, selama engkau tidak mengambil apa yang ada di tangan mereka. Jika engkau sampai melakukan demikian, maka mereka pun akan menganggap remeh dirimu, tidak menyukai perkataanmu, dan membencimu. (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam)

Selain itu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf merupakan sosok yang memiliki ‘uluwwul himmah (ambisius). Ia datang ke Madinah dalam keadaan miskin dan tidak berharta, tapi tidak butuh waktu lama, ia sudah menjadi sosok yang kaya dan berharta lewat perdagangan yang ia lakukan.

 

Siberut, 11 Syawwal 1446

Abu Yahya Adiya