- Apakah wajib mengajak pada Islam sebelum memerangi musuh?
Buraidah bin Al-Ḥusaib berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ، أَوْ سَرِيَّةٍ، أَوْصَاهُ فِي خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ، وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا، ثُمَّ قَالَ:
“Apabila Rasulullah ﷺ mengangkat komandan pasukan perang atau batalyon, beliau menyampaikan pesan secara khusus kepadanya agar selalu bertakwa kepada Allah, dan berlaku baik kepada kaum muslimin yang bersamanya. Kemudian beliau bersabda:
اغْزُوا بِاسْمِ اللهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا، وَلَا تَغْدِرُوا، وَلَا تَمْثُلُوا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا
“Seranglah mereka dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah! Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah! Seranglah dan jangan kalian menggelapkan harta rampasan perang, jangan melanggar perjanjian, jangan mencincang korban yang terbunuh, dan jangan membunuh anak-anak!
وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ – أَوْ خِلَالٍ – فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ، وَكُفَّ عَنْهُمْ
Apabila engkau menjumpai musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga hal. Mana saja yang mereka setujui, maka terimalah dan jangan perangi mereka.
ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَإِنْ أَجَابُوكَ، فَاقْبَلْ مِنْهُمْ، وَكُفَّ عَنْهُمْ
Ajaklah mereka kepada agama Islam! Jika mereka mau menerima ajakanmu, maka terimalah mereka dan jangan perangi mereka!
ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ، وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ، وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ
Kemudian ajaklah mereka pindah dari daerah mereka ke daerah Muhajirin. Beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka mau melakukan itu, maka mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti hak dan kewajiban Muhajirin.
فَإِنْ أَبَوْا أَنْ يَتَحَوَّلُوا مِنْهَا، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ، يَجْرِي عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللهِ الَّذِي يَجْرِي عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، وَلَا يَكُونُ لَهُمْ فِي الْغَنِيمَةِ وَالْفَيْءِ شَيْءٌ إِلَّا أَنْ يُجَاهِدُوا مَعَ الْمُسْلِمِينَ
Jika mereka enggan pindah dari daerah mereka, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat perlakuan seperti kaum muslimin dari kalangan Arab Badui. Berlaku bagi mereka hukum Allah yang berlaku bagi kaum mukminin, tetapi mereka tidak mendapatkan bagian dari hasil rampasan perang dan fai, kecuali jika mereka mau berjihad bersama kaum muslimin.
فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ، فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ، وَكُفَّ عَنْهُمْ، فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ
Dan jika mereka enggan masuk Islam, maka mintalah kepada mereka jizyah. Kalau mereka mau menyerahkan jizyah itu, maka terimalah dan jangan perangi mereka. Tetapi, jika mereka enggan melakukan semua itu, maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan wajibnya mengajak pada Islam sebelum memerangi musuh. Namun, apakah itu wajib pula terhadap musuh yang sudah sampai dakwah Islam kepada mereka?
Para ulama berbeda pendapat menjadi tiga pendapat:
Pendapat pertama: wajib mengajak pada Islam secara mutlak, baik orang yang akan diperangi sudah mengetahui tentang Islam maupun belum. Ini adalah pendapat Mālik dan diriwayatkan dari ’Ali bin Abī Ṭālib dan ’Umar bin ’Abdul ’Azīz. Dalil mereka adalah hadis di atas.
Pendapat kedua: tidak wajib mengajak pada Islam secara mutlak.
Syekh ’Abdullāh bin Ṣāliḥ Al-Fauzān berkata:
وهذا القول حكاه المازري، والقاضي عياض، وهذا أضعف الأقوال
“Pendapat ini dihikayatkan oleh Al-Māzirī dan Al-Qāḍī ’Iyāḍ. Dan inilah pendapat yang paling lemah.” (Minḥah Al-’Allām fī Syarḥ Bulūg Al-Marām)
Pendapat ketiga: wajib mengajak pada Islam, bila orang yang akan diperangi belum mengetahui tentang Islam, dan tidak wajib mengajak pada Islam, bila orang yang akan diperangi sudah mengetahui tentang Islam. Dalil mereka yaitu penggabungan antara hadis di atas dan hadis Nāfi’ yang menyebutkan:
إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَغَارَ عَلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ وَهُمْ غَارُّونَ
“Sesungguhnya Nabi ﷺ menyerang Bani Muṣṭaliq secara mendadak di saat mereka sedang lengah.” (HR. Bukhārī dan Muslim)
Dan pendapat inilah yang lebih kuat. Orang yang belum mengenal Islam harus dijelaskan dahulu tentang Islam, dan jangan langsung diperangi.
Mengapa demikian?
Syekh Sulaimān bin ’Abdullāh berkata:
لأن فائدة الدعوة أن يعرف العدو أن المسلمين لا يقاتلون للدنيا ولا للعصبية، وإنما يقاتلون للدين فإذا علموا بذلك أمكن أن يكون ذلك سببًا مميلاً لهم إلى الانقياد إلى الحق بخلاف ما إذا جهلوا مقصود المسلمين، فقد يظنون أنهم يقاتلون للملك وللدنيا فيزيدون عتوًّا وبغضًا
“Sebab, manfaat dari mengajak terlebih dahulu adalah agar musuh mengetahui bahwa kaum muslimin tidaklah berperang karena alasan dunia atau fanatisme kelompok, akan tetapi karena alasan agama. Kalau mereka mengetahui itu, sangat mungkin itu menjadi sebab yang mendorong mereka untuk tunduk kepada kebenaran. Berbeda halnya jika mereka tidak mengetahui maksud kaum muslimin. Bisa jadi mereka menyangka bahwa kaum muslimin itu berperang demi kekuasaan dan dunia, sehingga akhirnya bertambahlah keengganan dan kebencian mereka.” (Taisīr Al-’Azīz Al-Ḥamīd fī Syarḥ Kitāb At-Tauhīd Allażī Huwa Ḥaqq Allah ’alā Al-’Abīd)
- Diharamkan membunuh wanita, anak kecil, dan orang tua renta kecuali darurat.
Ibnu ’Umar berkata:
وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺعَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ.
“Ada seorang wanita yang ditemukan dalam keadaan terbunuh di sebagian peperangan Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Baṭṭāl berkata:
ولا يجوز عند جميع العلماء قصد قتل نساء الحربيين ولا أطفالهم؛ لأنهم ليسوا ممن قاتل فى الغالب. وقال تعالى:
“Tidak boleh sengaja membunuh wanita-wanita kafir harbi maupun anak-anak mereka menurut semua ulama. Sebab, biasanya mereka bukan termasuk orang yang berperang. Dan Allah telah berfirman:
وقاتلوا فى سبيل الله الذين يقاتلونكم
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)
Nabi ﷺ bersabda kepada pasukan perang:
انطلِقُوا باسم الله، وبالله، وعلى مِلَّةِ رسول الله، ولا تقتُلوا شيخاً فانياً. ولا طفلاً، ولا صغيراً، ولا امرأةً
“Pergilah dengan nama Allah dan karena Allah serta di atas ajaran Rasulullah. Jangan kalian membunuh orang tua renta, bayi, anak kecil, dan wanita. ” (HR. Abū Dāwūd)
Dan Nabi ﷺ juga bersabda:
وَلا تَقْتُلُوا الْوِلْدَانَ، وَلا أَصْحَابَ الصَّوَامِعِ
“Dan jangan kalian membunuh anak-anak dan orang-orang yang ada di biara-biara.” (HR. Aḥmad)
Imam Asy-Syaukānī berkata:
وقد قيل أنه وقع الاتفاق على المنع من قتل النساء والصبيان إلا إذا كان ذلك لضرورة كأن يتترس بهم المقاتلة أويقاتلون
“Dan telah dinyatakan bahwa terdapat kesepakatan para ulama tentang terlarangnya membunuh wanita dan anak-anak, kecuali jika darurat, seperti dijadikan tameng atau ikut berperang.” (Ad-Darārī Al-Muḍiyyah Syarḥ Ad-Durar Al-Bahiyyah)
Dalil demikian yaitu kabar dari As-Ṣa‘b bin Jaṡṡāmah:
مَرَّ بِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِالْأَبْوَاءِ أَوْ بِوَدَّانَ وَسُئِلَ عَنْ أَهْلِ الدَّارِ يُبَيَّتُونَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَيُصَابُ مِنْ نِسَائِهِمْ وَذَرَارِيِّهِمْ قَالَ
“Nabi ﷺ berjalan melewatiku di Al-Abwā’ atau di Waddān, dan beliau ditanya tentang kaum musyrikin penduduk suatu negeri yang diserang di malam hari sehingga para wanita dan anak keturunan mereka terbunuh. Beliau pun menjawab:
هُمْ مِنْهُمْ
“Mereka termasuk dari golongan mereka.” (HR. Bukhari)
Imam Al-Khaṭṭābi berkata:
ولم يرد بهذا القول إباحة دمائهم تعمدا لها، وقصدا لها، وإنما هو إذا لم يكن الوصول إلى الآباء إلا بهم، فإذا أصيبوا لاختلاطهم بالآباء، لم يكن عليهم في قتلهم شيء
“Dengan perkataan tersebut, beliau tidak menginginkan pembolehan menumpahkan darah mereka secara sengaja, melainkan itu diperbolehkan jika tidak mungkin mencapai ayah-ayah mereka kecuali lewat mereka. Karena itu, jika mereka terbunuh karena tercampur dengan ayah-ayah mereka, maka tidak ada dosa atas pembunuhan tersebut.” (A‘lām Al-Ḥadīṡ)
(bersambung)
Siberut, 14 Rabī’ul Ṡāni 1447
Abu Yahya Adiya






