“Kabarkan kepadaku tentang Islam!”
Itulah pertanyaan Jibril kepada Nabi ﷺ. Maka beliau ﷺ menjawab:
الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمد رسول الله وتقيم الصلاة
“Islam yaitu engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan engkau menegakkan salat…”
Lalu beliau ﷺ menyebutkan rukun Islam lainnya. Hadis ini disebutkan dalam Shahih Muslim.
Hadis ini menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang muslim yaitu mengesakan Allah.
Dan ketika Nabi ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal untuk mendakwahi penduduk Yaman, beliau ﷺ berpesan:
فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى
“Hendaknya yang pertama kali engkau serukan kepada mereka yaitu agar mereka mengesakan Allah.” (HR. Bukhari)
Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:
وفيه دليل على أن التوحيد – الذي هو إخلاص العبادة لله وحده لا شريك له وترك عبادة ما سواه – هو أول واجب. ولهذا كان أول ما دعت إليه الرسل عليهم السلام
“Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa tauhid yang mana itu merupakan pemurnian ibadah hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya adalah kewajiban pertama. Karenanya itulah yang pertama kali diserukan para rasul (QS. Al-Mu’minuun: 32):
{أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ}
“Beribadahlah kepada Allah, tidak ada sembahan yang benar selain dari-Nya.” (Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid)
Pendapat Menyimpang tentang Kewajiban Pertama
Kalau memang kewajiban pertama seorang muslim yaitu mengesakan Allah, berarti batillah pendapat para ahli kalam yang menyatakan bahwa kewajiban pertama seorang muslim yaitu nazhar (berpikir untuk mengenal Allah) atau niat untuk berpikir demikian atau ragu!
Al-Qadhi ‘Abdul Jabbar, seorang tokoh Muktazilah berkata:
إن سأل سائل فقال:
“Jika seseorang bertanya:
ما أول ما أوجب الله عليك؟
“Apa kewajiban pertama yang Allah wajibkan atasmu?”
فقل:
Maka jawablah:
النظر المؤدي إلى معرفة الله تعالى؛ لأنه تعالى لا يعرف ضرورة ولا بالمشاهدة، فيجب أن نعرفه بالتفكر والنظر
“Berpikir yang mengantarkan pada pengenalan terhadap Allah. Sebab, Dia tidak bisa dikenal secara langsung dan tidak pula lewat penglihatan. Karena itu, kita wajib mengenalnya lewat berpikir dan mengamati.” (Syarh Al-Ushul Al-Khamsah)
Dan ternyata pendapat ini diikuti pula oleh Al-Qadhi Al-Baqilani, seorang tokoh Asy’ariyyah. Beliau menyebutkan perkara yang wajib diyakini setiap muslim:
وأن يعلم أن أول ما فرض الله عز وجل على جميع العباد النظر في آياته
“Hendaknya ia sadar bahwa perkara pertama yang Allah wajibkan atas semua hamba yaitu berpikir tentang ayat-ayat-Nya.” (Al-Inshaf fiima Yajib I’tiqaduhu wa laa Yajuz Al-Jahl bihi)
Kenapa demikian? Apa alasannya?
Beliau menyebutkan:
لأنه سبحانه غير معلوم باضطرار،ولا مشاهد بالحواس، وإنما يعلم وجوده وكونه على ما تقتضيه أفعاله بالأدلة القاهرة، والبراهين الباهرة.
“Dia tidak bisa dikenal secara langsung dan tidak bisa dilihat dengan indera. Dia hanya bisa diketahui wujud-Nya dan keadaan-Nya sesuai dengan konsekuensi perbuatan-Nya dengan dalil yang kuat dan bukti yang jelas.” (Al-Inshaf fiima Yajib I’tiqaduhu wa laa Yajuz Al-Jahl bihi)
Bahkan, Al-Juwaini, tokoh Asy’ariyyah lainnya, melangkah lebih jauh lagi. Ia berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang muslim yaitu bukanlah berpikir yang mengantarkan pada pengenalan terhadap Allah, melainkan niat untuk berpikir demikian.
Ia berkata:
أول ما يجب على العاقل البالغ باستكمال سن البلوغ أو الحُلُم شرعًا: القصد إلى النظر الصحيح المفضي إلى العلم بحدوث العالم
“Perkara pertama yang wajib atas seorang yang berakal dan balig dengan sempurnanya usia balig atau mimpi basah secara syariat yaitu niat untuk berpikir benar yang mengantarkan pada pengetahuan tentang barunya alam semesta.” (Al-Irsyad ilaa Qawathi’ Al-Adillah fii Ushul Al-I’tiqad)
Bahkan, Al-Qurthubi menyebutkan bahwa Al-Juwaini melangkah lebih jauh lagi. Ia berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang muslim yaitu ragu!
Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil pernyataan Al-Qurthubi yang menyebutkan kisah taubatnya Al-Juwaini dari mendalami ilmu kalam. Lalu beliau berkomentar:
ولو لم يكن في الكلام إلا مسألتان هما من مبادئه لكان حقيقا بالذم: إحداهما: قول بعضهم: إن أول واجب الشك؛ إذ هو اللازم عن وجوب النظر أو القصد إلى النظر، وإليه أشار الإمام بقوله:
“Seandainya tidak ada pada ilmu kalam kecuali dua masalah ini yang mana keduanya merupakan permulaan dari ilmu kalam, niscaya pantaslah ilmu kalam dicela. Salah satu masalah tadi yakni pernyataan sebagian mereka bahwa perkara wajib yang pertama yaitu ragu. Sebab, itu merupakan konsekuensi dari wajibnya berpikir atau niat untuk berpikir. Dan inilah yang diisyaratkan oleh imam (Al-Juwaini) lewat perkataannya:
ركبت البحر.
“Aku mengarungi lautan.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Mengapa mereka semua bisa berpendapat demikian?
Sebab, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qadhi ‘Abdul Jabbar, Al-Baqilani, dan Al-Juwaini tadi, keberadaan Allah tidak bisa diketahui secara langsung melainkan dengan berpikir dan mencari-cari bukti.
Tentu saja pendapat mereka batil. Keyakinan bahwa Allah itu ada dan telah menciptakan alam semesta merupakan fitrah yang telah Allah tanamkan pada hati semua manusia.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
ومع ذلك فقول الله تعالى:
“Walaupun demikian, firman Allah:
{فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا} [الروم: (30)]
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)
وحديث: (كل مولود يولد على الفطرة) ظاهران في دفع هذه المسألة من أصلها
Dan hadis yang berbunyi: ‘Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.’ Keduanya sangat jelas menolak pendapat tadi dari dasarnya.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Setiap anak yang lahir di muka bumi itu berada di atas fitrahnya yakni mengenal Tuhannya. Kedua orang tuanyalah yang menyelewengkannya dari fitrah tersebut.
Dan Allah berfirman:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mereka menyekutukan-Nya.” (QS. Yusuf: 106)
Mujahid menjelaskan:
إيمانُهم قولهم:
“Keimanan mereka yaitu perkataan mereka:
الله خالقنا ويرزقنا ويميتنا.،
“Allah adalah pencipta kami. Dia memberikan rezeki kepada kami dan mematikan kami.”
فهذا إيمان مع شرك عبادتهم غيرَه
Ini adalah keimanan disertai dengan kemusyrikan yaitu peribadatan mereka kepada selain-Nya.” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran)
Ini menunjukkan bahwa keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta merupakan fitrah yang Allah tanamkan pada hati setiap manusia. Dan itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Karena itu, kewajiban pertama seorang muslim yaitu mengesakan Allah.
Ya, mengesakan-Nya. Bukan berpikir untuk mengenal-Nya atau niat untuk berpikir demikian atau ragu!
Itu merupakan pendapat menyimpang dari kelompok yang menyimpang.
Makanya, tokoh senior Asy’ariyyah, Abu Jafar As-Simnani, ketika menyinggung pendapat tadi, ia berkata:
إن هذه المسألة من مسائل المعتزلة بقيت في المذهب
“Ini termasuk pemikiran Muktazilah yang bertahan di mazhab ini (Asy’ariyyah).” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Ya, itu merupakan pemikiran Muktazilah yang ternyata diwarisi oleh Asy’ariyyah dan terus bertahan hingga saat ini.
Siberut, 10 Syawwal 1446
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan
- Manhaj Al-Asya’irah fii Al-‘Aqidah karya Dr. Safar Al-Hawali.






