Apa perasaan seorang muslim jika mendengar seseorang mengucapkan perkataan yang buruk?
Apa perasaan seorang muslim jika melihat seseorang melakukan perbuatan yang buruk?
Tentu gelisah hatinya dan tidak tenteram perasaannya. Apalagi jika yang didengar oleh telinganya dan disaksikan oleh matanya adalah seburuk-buruk perkataan dan perbuatan, yaitu kekafiran dan kemusyrikan!
Ibnu Rajab berkata:
فإذا وجد القلب حلاوة الإيمان أحس بمرارة الكفر والفسوق والعصيان
“Jika hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan merasakan pahitnya kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan.” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)
Apabila hati seseorang telah dipenuhi keimanan, maka hatinya tidak akan nyaman menyaksikan kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan.
Oleh karena itu, jika seorang muslim merasa tidak nyaman menyaksikan kemaksiatan terjadi di tengah saudara-saudaranya yang seiman, maka bagaimana mungkin ia merasa nyaman menyaksikan kemaksiatan di tengah orang-orang yang bergelimang kekafiran?!
Nabi ﷺ bersabda:
أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah orang-orang musyrik.”
Para sahabat bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ؟
“Wahai Rasulullah, mengapa demikian?”
Beliau ﷺ menjawab:
لَا تَرَاءَى نَارَاهُمَا
“Api keduanya tidak boleh saling terlihat.” (HR. Abū Dāwūd dan Tirmiżī)
Mengapa demikian?
“Sesungguhnya tinggal bersama seseorang mendorong untuk menyerupainya.” (Syarḥ Riyād Aṣ-Ṣāliḥīn)
Demikianlah pernyataan Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn. Ketika seseorang tinggal di tengah orang-orang kafir, sangat besar kemungkinan ia akan meniru mereka atau terpengaruh oleh mereka. Padahal Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abū Dāwūd)
Jika demikian, apakah seorang muslim akan merasa nyaman tinggal di tengah orang-orang yang menampakkan keyakinan, perkataan, dan perbuatan yang bertentangan dengan agamanya?
Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:
وكيف تطيب نفس مؤمن أن يسكن في بلاد كفار تعلن فيها شعائر الكفر، ويكون الحكم فيها لغير الله ورسوله، وهو يشاهد ذلك بعينه ويسمعه بأذنيه، ويرضى به، بل ينتسب إلى تلك البلاد ويسكن فيها بأهله وأولاده، ويطمئن إليها كما يطمئن إلى بلاد المسلمين مع ما في ذلك من الخطر العظيم، عليه وعلى أهله وأولاده في دينهم وأخلاقهم
“Bagaimana mungkin hati seorang mukmin merasa tenang untuk tinggal di negeri-negeri orang kafir, yang di dalamnya syiar-syiar kekafiran ditampakkan secara terang-terangan, dan hukum yang berlaku bukan hukum Allah dan rasul-Nya, sementara ia menyaksikan hal tersebut dengan mata kepalanya dan mendengarnya dengan telinganya serta rela dengannya, bahkan menganggap dirinya bagian dari negeri-negeri tersebut, tinggal di sana bersama keluarga dan anak-anaknya dalam keadaan tenteram di dalamnya sebagaimana ia merasa tenteram di negeri-negeri kaum muslimin? Pahahal, tinggal di sana mengandung bahaya yang sangat besar baginya, bagi keluarganya, dan anak-anaknya dalam hal agama dan akhlak mereka.” (Syarh Riyād Aṣ-Ṣāliḥīn)
Jika seseorang hidup di tengah lingkungan yang rusak, sementara ia tidak mampu memperbaikinya, dan justru khawatir dirinya akan terseret arus keburukan yang ada di dalamnya, maka jangan pertaruhkan imannya. Hendaknya ia menyelamatkan dirinya dengan berhijrah, meninggalkan lingkungan yang gelap dan suram menuju lingkungan bercahaya yang dapat membuat hatinya tenteram.
Ibnu Al-’Arabi berkata:
فَإِنَّ الْمُنْكَرَ إِذَا لَمْ تَقْدِرْ أَنْ تُغَيِّرَهُ فَزُلْ عَنْهُ
“Sesungguhnya jika engkau tidak sanggup menghilangkan kemungkaran, maka menjauhlah darinya.” (Al-Jāmi’ li Aḥkām Al-Qur‘ān)
Ya, menjauhlah dari tempat-tempat yang bergelimang kekafiran, kemaksiatan, dan kemungkaran. Sesungguhnya bumi Allah itu luas.
Allah berfirman:
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya ia mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisā‘: 100)
Siberut, 5 Rajab 1447
Abu Yahya Adiya






