Tauhid dan Ketenangan

Tauhid dan Ketenangan

Allah berfirman:

الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’aam: 82)

Apa maksud kezaliman dalam ayat ini?

Abdullah bin Mas’ud berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا} [الأنعام: 82] إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ، قُلْنَا:

“Ketika turun ayat “Orang-orang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman…”, kami berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟

“Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzalimi diri sendiri?”

قَالَ:

Beliau bersabda:

لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ {لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} [الأنعام: 82] بِشِرْكٍ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Maksud ayat itu bukan seperti yang kalian katakan. “tidak mencampurkanadukkan keimanan mereka dengan kezaliman” kezaliman di sini artinya syirik. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada anaknya:Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah merupakan kezaliman yang besar’?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa orang yang benar-benar mengesakan Allah dan tidak melakukan perbuatan syirik, pasti akan merasa aman, tenang, dan tentram serta mendapat petunjuk.

Saudaraku! Pernahkah engkau merasa resah, tapi engkau tidak tahu apa sebab keresahan yang menimpa dirimu?

Dan pernahkah suasana hatimu tak menentu, keruh, dan kacau balau, tapi engkau tidak mengetahui dengan pasti apa sebab semua yang terjadi?

Seandainya kita mau berpikir dengan teliti dan merenungkan dengan seksama tentu tahulah kita bahwa sebab utama semua itu adalah karena menjauh dari petunjuk Allah, tidak mematuhi aturan-Nya, melalaikan perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya.

Dan perintah dari Allah yang paling agung adalah tauhid. Mengesakan-Nya. Beribadah hanya kepada-Nya.

Dan larangan dari Allah yang paling besar adalah syirik. Menyekutukan-Nya. Menduakan-Nya dengan selain-Nya.

Karena itu, makin kuat seseorang dalam mengesakan Allah, maka makin tenanglah jiwanya dan makin tentramlah hatinya. Sebaliknya, makin sering seseorang menyekutukan Allah, maka makin gelisahlah jiwanya, dan makin resahlah hatinya.

Karena itu, tengoklah para penyembah kubur, makin bergantung diri mereka kepada penghuni kubur, maka makin gelisahlah mereka.

Dan lihatlah para penghamba dunia, makin rakus mereka mengejar harta dan jabatan, maka makin bertambahlah keresahan mereka.

“Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu….” (QS. Ali-Imran: 151)

Karena syirik yang mereka lakukan, Allah menanamkan rasa takut, gelisah dan resah pada hati mereka, walaupun mereka tinggal rumah-rumah megah, dan dilengkapi dengan perabotan yang mewah.

Itu di dunia. Adapun di akhirat… “Tempat kembali mereka ialah neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali-Imran: 151)

Makanya, ketenangan dan ketentraman yang sebenarnya hanya bisa diraih dengan mengesakan Allah. Menyerahkan diri hanya kepada-Nya. Menggantungkan hati hanya kepada-Nya. Tunduk hanya kepada aturan-Nya.

“Allah telah berjanji kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa sungguh, Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan apapun….” (QS. An-Nur: 55)

Siberut, 10 Sya’ban 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhash Fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Dr Saleh Al-Fauzan.
  2. Majalah Al-Ashalah tanggal 15 Sya’ban 1413