Surat Al-Baqarah Ayat 44

Surat Al-Baqarah Ayat 44

Setelah memerintahkan Bani Israel untuk menegakkan salat, menunaikanlah zakat, dan rukuk beserta orang-orang yang rukuk, Allah berfirman:

 

  1. أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Apakah kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al Kitab (Taurat)? Apakah kalian tidak berpikir?

 

Dalam ayat ini Allah mencela Bani Israel karena rusaknya akhlak mereka dan buruknya perbuatan mereka, yakni bagaimana bisa mereka menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri?!

Bagaimana mungkin mereka menyuruh orang lain menjadi baik, sedangkan mereka sendiri tidak berusaha menjadi baik?!

Seharusnya diri mereka yang lebih pantas dan lebih didahulukan untuk diperintahkan berbuat baik!

Imam Al-Bagawī berkata:

نَزَلَتْ فِي عُلَمَاءِ الْيَهُودِ وَذَلِكَ أَنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ كَانَ يَقُولُ لِقَرِيبِهِ وَحَلِيفِهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِذَا سَأَلَهُ عَنْ أَمْرِ مُحَمَّدٍ ﷺ:

“Ayat ini turun mengenai para ulama Yahudi. Yang demikian itu karena salah seorang dari mereka berkata kepada kerabatnya dan temannya dari kalangan muslimin jika ia ditanya tentang perkara Muhammad ﷺ:

اثْبُتْ عَلَى دِينِهِ فَإِنَّ أَمْرَهُ حَقٌّ، وَقَوْلَهُ صِدْقٌ

“Tetaplah dalam agamanya, karena sesungguhnya perkaranya benar dan ucapannya juga benar.” (Ma’ālim At-Tanzīl fī Tafsīr Al-Qur’ān)

Di antara tokoh-tokoh agama mereka ada yang menyuruh orang lain untuk beriman, tapi mereka sendiri tetap kafir. Mereka memerintahkan kepada kebaikan, tapi mereka melupakan diri mereka sendiri, dalam keadaan mereka memiliki ilmu tentang hal tersebut. Itu tampak dari ayat tadi: “padahal kalian membaca Al Kitab (Taurat).”

Artinya, mereka menyuruh orang lain berbuat baik berdasarkan ilmu, bukan kebodohan.

Seakan-akan Allah menyatakan: “Mengapa kalian melupakan diri sendiri? Mengapa kalian tidak menyuruh diri sendiri untuk berbuat baik, padahal kalian orang yang mengerti dan tahu, bukan orang yang bodoh?!”

Allah mengingkari perbuatan mereka, dan itu dikuatkan dengan kelanjutan ayat: “Apakah kalian tidak berpikir?”

Artinya, apakah kalian tidak punya akal dan otak sehingga tidak tahu kesalahan dan kesesatan kalian?!

Ke mana akal dan pikiran kalian?! Gunakanlah akal dan pikiran kalian!

 

Faidah yang dapat kita petik dari ayat ini:

 

  1. Celaan terhadap orang yang menyuruh orang lain berbuat baik tetapi melupakan dirinya sendiri. Telah ada ancaman keras bagi orang yang memiliki sifat seperti itu.

Nabi ﷺ bersabda:

يُؤْتَى بالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيامةِ فَيُلْقَى في النَّار، فَتَنْدلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ في الرَّحا، فَيجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّار فَيَقُولُونَ:

“Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka, lalu keluarlah isi perutnya. Dalam keadaan demikian berputarlah ia di neraka sebagaimana seekor keledai mengelilingi gilingan. Penduduk neraka berkumpul di sekelilingnya, lalu bertanya:

يَا فُلانُ مَالَكَ؟ أَلَمْ تَكُن تَأْمُرُ بالمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ؟

“Wahai Fulan, ada apa dengan dirimu? Bukankah engkau dulu suka memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?”

فَيَقُولُ:

Ia menjawab:

بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بالمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيه، وَأَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ وَآَتِيهِ

“Tentu. Dahulu aku memerintahkan kebaikan, tetapi aku sendiri tidak melakukannya. Aku melarang dari kemungkaran, tetapi aku sendiri mengerjakannya.” (HR. Bukhārī dan Muslim)

 

  1. Orang yang menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi ia sendiri tidak mengerjakannya, adalah orang yang menampakkan kebodohannya sendiri di hadapan orang lain.

Demikian pula, orang yang melarang dari sesuatu, tetapi ia sendiri mengerjakannya, adalah orang yang menampakkan kebodohannya di hadapan orang lain.

Karena itu, Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya: “Apakah kalian tidak berpikir?”

Artinya, ke mana akal dan pikiran kalian?! Gunakanlah akal dan pikiran kalian! Jangan menjadi orang yang bodoh!

Abu Ad-Dardā‘ berkata:

علامة الجهل ثلاث العجب وكثرة المنطق فيما لا يعنيه وأن ينهى عن شيء ويأتيه

“Tanda-tanda kebodohan ada tiga: bangga terhadap diri sendiri, banyak berbicara dalam perkara yang tidak berguna, dan melarang dari sesuatu, tetapi tetap mengerjakannya.” (Jāmi’ Bayān Al-’Ilm wa Faḍlih)

Pertanyaan: jika orang yang menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi ia sendiri tidak mengerjakannya, adalah orang yang menampakkan kebodohannya di hadapan orang lain dan terancam siksa keras pada hari kiamat, apakah kita harus diam dan tidak memerintahkan orang lain berbuat baik?

Demikian pula, jika orang yang melarang dari sesuatu, tetapi ia sendiri mengerjakannya, adalah orang yang menampakkan kebodohannya di hadapan orang lain dan terancam siksa keras pada hari kiamat, apakah kita harus diam dan tidak usah melarang orang lain dari kemaksiatan dan kemungkaran?

Jawaban: Tidak! Seribu kali tidak! Hendaknya kita tetap memerintahkan yang baik dan berusaha melaksanakan apa yang kita perintahkan. Mengapa demikian?

Sebab, jika kita tidak melakukan perbuatan baik dan tidak pula memerintahkannya, berarti kita telah melakukan dua kesalahan:

1-Tidak melakukan perbuatan baik yang Allah perintahkan.

2-Tidak memerintahkan perbuatan baik.

Demikian pula, jika kita melakukan maksiat dan tidak melarang orang lain darinya, berarti kita telah melakukan dua kerusakan:

1-Melakukan kemungkaran dan kemaksiatan yang telah Allah larang.

2-Tidak melarang dari kemungkaran dan kemaksiatan.

Selain itu, siapa di antara kita yang selamat dari dosa dan maksiat?!

Semua manusia pasti memiliki dosa dan pernah terjatuh dalam kemaksiatan.

Jika kita mengatakan: “Hanya orang yang tidak pernah berdosa dan bermaksiat yang boleh melarang dari perbuatan dosa dan maksiat”, tentu tidak akan ada seorang pun yang dapat melarang dari perbuatan dosa dan maksiat.

Sebab, sesaleh dan sealim apa pun seseorang, pasti ia memiliki kekurangan. Pasti ada dosa yang pernah ia lakukan.

Demikian pula, jika kita mengatakan: “Hanya orang yang telah benar-benar baik dan saleh yang boleh memerintahkan perbuatan baik”, tentu tidak akan ada seorang pun yang dapat memerintahkan perbuatan baik.

Sebab, sesaleh dan sealim apa pun seseorang, pasti ia memiliki kekurangan. Pasti ada perbuatan baik yang luput dari dirinya.

Karena itu, seharusnya kita tetap menyuruh orang lain berbuat baik, sambil terus berusaha dan berjuang untuk melaksanakannya. Kita juga harus tetap melarang orang lain dari kemaksiatan, sambil kita berusaha dan berjuang untuk meninggalkannya.

 

  1. Celaan terhadap orang yang berilmu jika ucapannya berbeda dengan perbuatannya.

Orang yang berilmu, jika ucapannya berbeda dengan perbuatannya, keadaannya lebih buruk daripada orang bodoh. Hal itu perkara yang lumrah bagi manusia.

Oleh karena itu, kita dapati orang-orang awam ketika melihat orang yang berilmu melakukan kemungkaran, mereka akan berkata, “Bagaimana bisa Anda melakukan ini, padahal Anda ini orang yang mengerti agama?!”

Dan apabila orang yang berilmu itu meninggalkan kewajiban, mereka akan berkata: “Bagaimana bisa Anda meninggalkan ini, padahal Anda orang yang mengerti agama?!”

 

  1. Siapa yang memerintahkan perbuatan baik tetapi tidak mengerjakannya, atau melarang dari maksiat tetapi mengerjakannya, maka ia telah meniru orang-orang Yahudi. Sebab, itulah kebiasaan mereka.

 

Siberut, 29 Żulqa’dah 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Maālim At-Tanzīl fī Tafsīr Al-Qur’ān karya Imam Al-Bagawī.
  2. Tafsīr Al-Fātiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.