Surat Al-Baqarah Ayat 47

Surat Al-Baqarah Ayat 47

Setelah Allah memerintahkan Bani Israel untuk memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan mereka dengan cara bersabar dan mengerjakan salat, Allah mengingatkan lagi mereka akan nikmat-Nya. Dia berfirman:

 

  1. يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Hai Bani Israel, ingatlah nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian dan (ingatlah pula) Aku telah melebihkan kalian dari semua umat

 

Dalam ayat ini, Allah memanggil Bani Israel untuk mengingatkan mereka akan berbagai nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, di antaranya melebihkan mereka dari semua umat yang ada di zaman mereka agar mereka bersyukur kepada-Nya dengan beriman kepada rasul-Nya, Muhammad dan menerima petunjuk yang ia bawa yaitu Islam.

 

Faidah yang dapat kita petik dari ayat di atas:

 

  1. Besarnya karunia Allah kepada Bani Israel. Sebab, Dia telah memberikan berbagai nikmat kepada mereka.

Apa saja nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada Bani Israel?

1) Allah telah menyelamatkan mereka dari Fir’aun.

2) Lautan telah dibelah untuk mereka.

3) Awan dikirim untuk menaungi mereka.

4) Makanan turun dari langit untuk mereka

5) Diangkat nabi-nabi di antara mereka.

Dan masih banyak lagi nikmat Allah yang Dia berikan kepada mereka.

Itu semua menunjukkan besarnya karunia Allah kepada mereka. Maka sudah sepantasnya mereka bersyukur kepada Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya dan beriman kepada Nabi-Nya.

 

  1. Berbagai nikmat yang dirasakan oleh Bani Israel adalah semata-mata pemberian Allah, bukan karena kehebatan dan kecerdasan mereka dan bukan pula warisan nenek moyang mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman: “nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian.”

Kalau memang, berbagai nikmat itu semata-mata pemberian Allah, maka sudah sepantasnya juga mereka bersyukur kepada Allah dengan mengikuti petunjuk-Nya dan beriman kepada Nabi-Nya.

 

  1. Allah mengajarkan cara berdakwah kepada kita:

1) Memanggil orang yang didakwahi dengan panggilan yang ia sukai. Sebagaimana firman-Nya: “Hai Bani Israel.”

2) Mengingat-ingatkannya tentang nikmat Allah. Sebagaimana firman-Nya: “nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian.” Dan telah dimaklumi bahwa fitrah seorang manusia itu menyukai orang yang berbuat baik kepadanya.

 

  1. Bani Israel adalah umat terbaik di zaman mereka. Sebagaimana firman-Nya: “Aku telah melebihkan kalian dari semua umat.”

Mengapa mereka umat terbaik?

Sebab ketika itu mereka merupakan orang-orang yang beriman, sedangkan umat selain mereka kafir. Makanya wajarlah kalau mereka adalah umat terbaik dan Allah memberikan kemenangan kepada mereka dalam menghadapi musuh-musuh mereka.

Allah menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan bala tentaranya. Setelah itu Allah memberikan tempat tinggal kepada mereka.

Nabi Musa berkata kepada mereka:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah Allah tentukan untuk kalian.” (QS. Al-Māidah: 21)

Tanah suci di sini maksudnya adalah Palestina.

Kenapa Allah memberikan tanah Palestina kepada Bani Israel di zaman Nabi Musa?

Sebab, ketika itu mereka adalah hamba-hamba Allah yang saleh. Sedangkan Allah berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh, telah Kami tetapkan di dalam Zabur sesudah (tertulis) di dalam Lohmahfuz, bahwa bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiyā’: 105)

Hanya orang-orang yang salehlah yang mewarisi tanah Palestina.

Sedangkan Bani Israel sekarang ini bukanlah hamba-hamba Allah yang saleh, karena itu mereka tidak berhak atas tanah tersebut.

Dahulu, di zaman Nabi Musa mereka memang paling pantas untuk menjadi penghuni Palestina. Namun, tatkala Nabi Muhammad ﷺ diutus, yang paling berhak dan pantas untuk menjadi penghuni Palestina adalah kaum muslimin, bukan Bani Israel dan bukan bangsa Arab.

Palestina bukan milik Arab tapi milik kaum muslimin.

Oleh karena itu, orang-orang Arab tidak akan bisa merebut tanah Palestina dengan nama Arab. Mereka hanya bisa merebutnya dengan nama Islam.

Seperti yang dipraktekkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Bangsa Arab harus benar-benar mempraktekkan dulu Islam pada diri mereka lalu merebut kembali Palestina dengan nama Islam, bukan dengan nama Arab.

Kalau mereka mau melakukan itu, niscaya terjadilah apa yang dikabarkan Nabi ﷺ:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ:

“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Orang-orang muslim akan memerangi mereka hingga bersembunyilah orang Yahudi di balik batu atau pohon. Lalu berkatalah batu atau pohon:

يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ

“Wahai Muslim, Wahai hamba Allah, ini orang Yahudi sembunyi di belakangku. Kemarilah, bunuhlah ia!”

إِلَّا الْغَرْقَدَ، فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Kecuali pohon Garqad, karena sesungguhnya ia termasuk pohon Yahudi.” (HR. Muslim)

Nabi ﷺ bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi”, dan tidak bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai orang-orang Arab memerangi orang-orang Yahudi.”

Batu dan pohon juga berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah”, dan tidak berkata, “Wahai Arab.”

Itu menunjukkan bahwa bangsa Arab hanya dapat merebut kembali Palestina dengan nama Islam, bukan dengan nama Arab.

Kalau orang-orang Arab memang benar-benar muslim sejati bukan muslim secara administratif, maka akan sangat mudah bagi mereka untuk mengalahkan orang-orang Yahudi dan merebut kembali tanah Palestina.

Maka, kesimpulan faidah ini yaitu Bani Israel tidak diragukan lagi merupakan umat terbaik ketika mereka saleh dan bertakwa. Adapun tatkala mereka kafir kepada Allah dengan mendustakan Nabi-Nya, maka mereka adalah umat terburuk.

 

  1. Manusia itu bertingkat-tingkat tidak satu derajat. Dan ini adalah perkara yang sudah dimaklumi. Sampai para rasul saja sebagian mereka dilebihkan daripada yang lain.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ

“Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain).” (QS. Al-Isrā’: 55)

Ayat ini merupakan bantahan terhadap kelompok komunis yang ingin menjadikan umat manusia menjadi satu strata.

 

Siberut, 20 Żulḥijjah 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Aisar At-Tafāsīr li Kalām Al-‘Aliyy Al-Kabīr Syekh Abū Bakr Al-Jazāirī.
  2. Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.