Setelah mencela Bani Israel karena menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan mereka melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka memiliki ilmu dari Taurat, Allah berfirman:
45.وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
46.الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
(yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Bani Israel untuk memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan mereka dengan cara bersabar dan mengerjakan salat. Allah mengabarkan bahwa itu terasa berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang sadar bahwa mereka akan bertemu dengan-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Hanya orang yang yakin akan pertemuan dengan Allah lah yang merasa ringan ketika salat. Bukan cuma ringan, bahkan menikmatinya.
Faidah yang dapat kita petik dari dua ayat di atas:
- Anjuran untuk meminta tolong kepada Allah dengan cara bersabar dan melaksanakan salat.
Bagaimana cara meminta tolong kepada Allah dengan kesabaran? Yaitu dengan cara menahan hati untuk tidak kesal dan marah, menahan lisan untuk tidak berkeluh-kesah dan menahan anggota badan untuk pasrah terhadap ketentuan Allah. Sebab, sabar secara bahasa artinya menahan. Dan sabar itu ada tiga: sabar dalam beribadah, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi musibah. Semua itu merupakan kesabaran, amal saleh yang berpahala. Bahkan, itu berpahala besar.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Bagaimana cara meminta tolong kepada Allah dengan salat? Yaitu dengan cara melaksanakan salat, baik salat wajib maupun salat sunnah.
Salat seperti apa yang bisa menjadi sebab ditolongnya seorang hamba? Yaitu salat yang dilakukan dengan baik dan sempurna, yakni salat yang dilakukan bukan hanya gerakan badan melainkan juga ‘gerakan’ hati.
Salat dengan hati dan badan. Salat seperti itulah yang Allah katakan bisa mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran.
“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-’Ankabūt: 45)
Salat dengan hati dan badan. Salat seperti ini pula yang dapat menjadi penenang dan penyejuk hati.
Nabi ﷺ bersabda:
وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dan dijadikan penyejuk hatiku ada dalam salat.” (HR. Aḥmad dan An-Nasāī)
- Bersabar merupakan sebab datangnya pertolongan Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk meminta tolong kepada-Nya dengan cara bersabar.
Nabi ﷺ bersabda:
وَاعْلَمْ أنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا، وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ada kebaikan yang banyak dalam hal bersabar menghadapi apa yang tidak kau sukai, dan bahwasanya bersama dengan kesabaran ada pertolongan, bersama dengan kesempitan ada kelapangan, dan bersama dengan kesulitan ada kemudahan.” (HR. Aḥmad)
- Melaksanakan salat adalah sebab turunnya pertolongan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk meminta pertolongan dengan salat.
Ḥużaifah bin Al-Yamān berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Nabi ﷺ jika menghadapi suatu masalah, beliau melaksanakan salat.” (HR. Aḥmad dan Abū Dāwūd)
- Apabila kesedihan kita berkepanjangan, hendaknya kita banyak bersabar dan melaksanakan salat.
- Orang yang tidak khusyuk akan merasa berat dalam melakukan amal saleh, terutama sabar dan salat.
- Dengan khusyuk, ibadah menjadi terasa mudah.
- Salah satu cara agar bisa khusyuk yaitu mengingat tentang akhirat.
- Manusia akan bertemu dengan Allah dan kembali kepada-Nya di hari kiamat nanti lalu mempertanggungjawabkan seluruh amalannya.
Siberut, 6 Żulḥijjah 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī.






