Surat Al-Baqarah Ayat 57

Surat Al-Baqarah Ayat 57

Setelah Allah menyebutkan kelancangan Bani Israel yang meminta untuk melihat-Nya di dunia, lalu mengirim halilintar kepada mereka dan menghidupkan mereka kembali sebagai bentuk nikmat-Nya, Allah menyebutkan nikmat lain yang diberikan kepada mereka.

Allah berfirman:

 

  1. وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Dan Kami menaungi kalian dengan awan, dan Kami menurunkan kepada kalian mann dan salwa. Makanlah makanan yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepada kalian. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.

 

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan salah satu nikmat besar yang diberikan kepada Bani Israel.

Allah menjadikan awan sebagai naungan bagi mereka. Peristiwa itu terjadi ketika mereka tersesat di antara Mesir dan Syam selama empat puluh tahun.

Mengapa mereka tersesat selama itu?

Nabi Musa ﷺ memerintahkan mereka untuk memasuki tanah Palestina. Namun, mereka menolak perintah tersebut karena takut menghadapi orang-orang kafir yang tinggal di sana. Padahal, ada orang-orang yang berusaha membangkitkan semangat mereka agar memasuki negeri itu. Namun, mereka tetap menolak. Bahkan, mereka berkata:

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ

“Hai Musa, kami tidak akan memasukinya selama mereka masih berada di dalamnya. Karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua. Kami akan tetap duduk menunggu di sini!”

Maka Nabi Musa berdoa:

قَالَ رَبِّ إِنِّي لا أَمْلِكُ إِلا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Karena itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”

Kemudian Allah berfirman:

فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الأرْضِ فَلا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun. Selama masa itu mereka akan kebingungan berkelana di bumi. Maka janganlah engkau bersedih hati terhadap orang-orang yang fasik itu.” (QS. Al-Maidah: 20-26)

Mereka pun tersesat selama empat puluh tahun. Bagaimanakah keadaan mereka ketika tersesat?

Imam As-Suyuthi berkata:

رُوِيَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَسِيرُونَ اللَّيْل جَادِّينَ فَإِذَا أصبحوا إذا هم في الموضع الذي ابتدأوا مِنْهُ وَيَسِيرُونَ النَّهَار كَذَلِكَ حَتَّى انْقَرَضُوا كُلّهمْ إلَّا مَنْ لَمْ يَبْلُغ الْعِشْرِينَ قِيلَ وَكَانُوا سِتّمِائَةِ أَلْف

“Diriwayatkan bahwa mereka berjalan dengan sungguh-sungguh pada malam hari. Namun, ketika pagi tiba, mereka mendapati diri mereka berada di tempat semula. Demikian pula yang terjadi ketika mereka berjalan pada siang hari. Sampai akhirnya mereka meninggal semua kecuali beberapa orang saja yang tidak sampai berjumlah dua puluh orang. Ada yang mengatakan jumlah mereka dulunya 600.000 orang.” (Tafsir Jalalain)

Mereka mengalami kesulitan selama empat puluh tahun. Namun, setelah itu Allah memaafkan mereka dan memberikan berbagai nikmat. Allah menaungi mereka dengan awan serta menurunkan kepada mereka dua nikmat yang lezat, yaitu mann dan salwa.

Mann adalah sejenis madu. Allah turunkan antara terbit fajar sampai terbit matahari. Adapun salwa adalah sejenis burung puyuh. Dan ini sebaik-baik burung.

Setelah memberikan berbagai nikmat tersebut, Allah memerintahkan mereka untuk memakan rezeki yang baik dan bersyukur kepada-Nya. Namun sayangnya mereka tidak mensyukri nikmat itu.

Adakah orang yang lebih durhaka daripada orang yang telah menerima nikmat, tetapi enggan bersyukur kepada Pemberi nikmat?

Ya, tidak ada yang lebih durhaka daripada orang yang seperti itu.

Mereka sangat durhaka. Namun, kedurhakaan mereka tidak membahayakan Allah sama sekali.

Karena itu Allah berfirman:

“Mereka tidak menzalimi Kami, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri sendiri.”

Ya, mereka tidak membahayakan Allah sedikit pun.

Kemaksiatan mereka tidak merugikan-Nya sedikit pun. Sebaliknya, merekalah yang merugikan diri sendiri. Akibat kedurhakaan tersebut, mereka kehllangan berbagai nikmat dan berhak mendapatkan hukuman.

 

Faidah yang dapat kita petik dari ayat di atas:

 

  1. Naungan dari panas merupakan salah satu nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Makanya Allah sebutkan di sini untuk mengingatkan Bani Israel akan hal tersebut.

Dan Allah juga berfirman mengingatkan kita tentang itu:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا

“Dan Allah menjadikan bagi kalian tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan.” (QS. An-Nahl: 81)

 

  1. Awan itu berjalan dengan perintah Allah, di mana Dia menjadikan awan sebagai naungan untuk mereka.

 

  1. Di antara nikmat yang Allah berikan kepada Bani Israel yaitu mann dan salwa yang bisa mereka nikmati tanpa mereka mengeluarkan tenaga dan tanpa menghadapi rintangan.

 

  1. Daging burung termasuk sebaik-baik daging.

Sebab, Allah menyediakan untuk Bani Israel daging burung. Dan daging burung juga merupakan makanan penduduk surga. Sebagaimana Allah berfirman:

وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 21)

 

  1. Jika seseorang diberikan nikmat oleh Allah, maka hendaknya ia menerimanya dan tidak menolaknya.

Sebagaimana Allah berfirman: “Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian.”

Karena itu, tidak sepantasnya seorang muslim menahan diri dari sesuatu yang Allah halalkan.

Syekhul Islam berkata:

وَمَنْ امْتَنَعَ مِنْ أَكْلِ الطَّيِّبَاتِ بِلَا سَبَبٍ شَرْعِيٍّ فَمُبْتَدِعٌ مَذْمُومٌ

“Siapa yang tidak mau memakan makanan yang baik tanpa alasan yang dibenarkan dalam syariat, maka ia orang yang mengada-ada dalam agama dan tercela.” (Al-Fataawaa Al-Kubraa)

Perkataan beliau benar. Sebab, orang tersebut telah meninggalkan sesuatu yang Allah bolehkan. Seakan-akan ia tidak ingin kalau Allah memberikan nikmat kepadanya.

Seorang muslim tidak sepantasnya meninggalkan yang halal dan baik kecuali kalau ada alasan yang dibenarkan dalam syariat.

Apa saja alasan yang dibenarkan dalam syariat?

1) Alasan yang terkait dengan kesehatan badannya.

Seperti seseorang yang tidak makan udang karena khawatir kolesterolnya meningkat.

 

2) Alasan yang terkait dengan kesehatan hatinya.

Seperti seseorang yang tidak ingin banyak makan daging karena khawatir jadi lalai dari ibadah.

 

3) Alasan yang terkait dengan kebaikan orang lain.

Seperti yang dilakukan Umar bin Al-Khaththab di tahun kemarau yang parah. Ketika itu Umar hanya memakan roti dan minyak, hingga menghitamlah kulitnya.

Umar berkata:

بِئْسَ الْوَالِي أَنَا إِنْ شَبِعْتُ وَالنَّاسُ جِيَاعٌ.

“Seburuk-buruk pemimpin adalah aku jika aku kenyang sedangkan rakyatku lapar.” (Al-Bidayah Wa An-Nihayah)

 

  1. Pemberian dari Allah adalah baik. Sebagaimana Allah berfirman: “Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian.”

 

  1. Diharamkannya memakan makanan yang buruk.

Makanan yang buruk terbagi menjadi dua:

 

1) Buruk karena zatnya.

Seperti bangkai, babi, khamar, dan yang serupa dengannya. Sebagaimana Allah berfirman:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Katakanlah, ‘Tidak kudapati di dalam wahyu yang diberikan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor.” (QS. Al-An’aam: 145)

 

2) Buruk karena cara mendapatkannya.

Seperti makanan yang didapatkan dengan cara menipu, riba, dusta dan semisalnya.

 

  1. Bani Israel telah kufur nikmat.

 

  1. Orang yang bermaksiat tidak membahayakan Allah sama sekali, akan tetapi ia telah membahayakan dirinya sendiri.

 

Siberut, 17 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin.
  2. Tafsir Jalalain karya Imam Al-Mahalli dan As-Suyuthi.