Suatu hari seseorang berkata kepada Nabi ﷺ:
مَا شَاءَ اللهُ، وَشِئْتَ
“Atas kehendak Allah dan kehendakmu.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
أَجَعَلْتَنِي وَاللهَ عَدْلًا بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
“Apakah engkau ingin menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?! Bahkan, atas kehendak Allah semata!” (HR. Ahmad)
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
أنكر -صلى الله عليه وسلم- على من عطف مشيئة الرسول على مشيئة الله بالواو؛ لما يقتضيه هذا العطف من التسوية بين الله وبين المخلوق
“Beliau mengingkari orang yang menggandengkan kehendak rasul dengan kehendak Allah dengan kata dan. Dikarenakan penggandengan itu berkonsekuensi penyamaan antara Allah dengan makhluk.
واعتبر هذا من اتخاذ الشريك لله، ثم أسند المشيئة إلى الله وحده
Nabi ﷺ menganggap itu termasuk membuat sekutu bagi Allah, lalu beliau menyandarkan kehendak kepada Allah semata.” (Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Larangan mengucapkan “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” dan kalimat yang semacamnya. Sebab, dengan perkataan itu seseorang telah dijadikan tandingan bagi Allah.
- Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang mendapat wahyu ilahi, karena itu beliau tidak memiliki sifat ketuhanan dan tidak boleh dijadikan tandingan bagi Allah.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
لأنه صلى الله عليه وسلم ليس له شيء من خصائص الربوبية، بل يلبس الدرع، ويحمل السلاح، ويجوع، ويتألم، ويمرض، ويعطش كبقية الناس، ولكن الله فضَّله على البشر بما أوحي إليه من هذا الشرع العظيم
“Sebab, beliau ﷺ tidak memiliki sedikit pun kekhususan dalam masalah rububiyah (penciptaan, penguasaan, dan pengaturan alam semesta). Bahkan, beliau memakai baju besi, membawa senjata, lapar, merasa sakit dan mengalami sakit, serta merasakan kehausan, seperti manusia lainnya. Namun, Allah melebihkan beliau dibandingkan manusia lain melalui syarat agung yang diwahyukan kepada beliau ini.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
- Siapa yang menyamakan makhluk dengan Allah, walaupun cuma dalam perkataan, maka ia telah membuat tandingan bagi Allah.
- Wajibnya mengingkari kemungkaran, siapapun pelakunya, dan dengan alasan apapun melakukannya, walau dengan alasan ‘baik’ sekalipun!
Sahabat Nabi ﷺ yang mengucapkan perkataan tadi, tentu saja ia tidak bermaksud melakukan kemungkaran.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
الظاهر أنه قال للنبي صلى الله عليه وسلم تعظيما، وأنه جعل الأمر مفوضا لمشيئة الله ومشيئة رسوله.
“Yang tampak adalah ia berkata kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk penghormatan dan ia telah menjadikan urusan dikembalikan kepada kehendak Allah dan kehendak Rasul-Nya.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Artinya, ucapan yang keluar dari lisannya berasal dari niat yang baik, yaitu untuk memuliakan Nabi ﷺ.
Namun, tatkala kalimatnya mengandung kemungkaran, yaitu menjadikan Nabi ﷺ sebagai tandingan bagi Allah, maka Nabi ﷺ pun mengingkarinya.
- Disyariatkan menjaga tauhid dan menutup celah menuju syirik.
Seperti yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dalam hadis tadi.
Beliau ﷺ mengingkari kemusyrikan. Beliau ﷺ tidak mendiamkannya dan tidak pula membiarkannya.
Beliau ﷺ tetap mengingkari kemusyrikan, walaupun itu hanya berupa perkataan!
Beliau ﷺ tetap mengingkari kemusyrikan, walaupun pelakunya tidak bermaksud demikian!
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
أرشده النبي صلى الله عليه وسلم إلى ما يقطع عنه الشرك، ولم يرشده إلى أن يقول ما شاء الله ثم شئت؛ حتى يقطع عنه كل ذريعة عن الشرك وإن بَعُدَت.
“Nabi ﷺ membimbingnya pada perkara yang memutus syirik darinya dan beliau tidak membimbingnya untuk mengucapkan, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu’ supaya terputus darinya segala sarana menuju syirik, walaupun itu jauh.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
*6*. Siapa yang melarang orang lain dari sesuatu yang terlarang, hendaknya ia menunjukkan kepadanya sesuatu yang diperbolehkan sebagai gantinya.
Sebagaimana dalam hadis tadi, tatkala Nabi ﷺ melarang ucapan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”, beliau ﷺ memberikan gantinya yaitu: ” Atas kehendak Allah semata”.
Jangan sampai seseorang melarang orang lain dari sesuatu, lalu membiarkannya kebingungan.
Siberut, 13 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.






