Banyak kaum Sufi belakangan yang membolehkan istigasah (meminta tolong) kepada orang mati. Padahal, orang-orang terdahulu yang mereka anggap sebagai panutan mereka justru mengingkari perbuatan tersebut. Sebagai contoh:
Abu Yazid Al-Busthami berkata:
استغاثة المخلوق بالمخلوق كاستغاثة الغريق بالغريق
“Istigasahnya makhluk kepada makhluk sama seperti istigasahnya orang yang tenggelam kepada orang yang tenggelam.” (Ghayah Al-Amaani Fii Ar-Radd ‘Alaa An-Nabhaani)
Abu ‘Abdillah Al-Qurasyi berkata:
استغاثة المخلوق بالمخلوق كاستغاثة المسجون بالمسجون
“Istigasahnya makhluk kepada makhluk sama seperti istigasahnya orang yang dipenjara kepada orang yang dipenjara.” (Ghayah Al-Amaani Fii Ar-Radd ‘Alaa An-Nabhaani)
Imam Zainul ‘Abidin berkata:
كيف يسأل محتاج محتاجاً؟!
“Bagaimana bisa orang yang membutuhkan meminta kepada yang membutuhkan?” (Ghayah Al-Amaani Fii Ar-Radd ‘Alaa An-Nabhaani)
Imam Al-Ghazali berkata:
المؤمن لا يجعل بينه وبين الله تعالى وسائط في الطلب
“Seorang mukmin tidak menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah dalam hal permintaan.” (Ghayah Al-Amaani Fii Ar-Radd ‘Alaa An-Nabhaani)
Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani berkata:
سلوا الله و لا تسألوا غيره، استعينوا بالله و لا تستعينوا بغيره
“Mintalah kepada Allah dan jangan meminta kepada selain-Nya. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan memohon pertolongan kepada selain-Nya.” (Al-Fath Ar-Rabbani)
Perkataan beliau ini merupakan bantahan yang jelas terhadap sebagian kaum Sufi yang hobi meminta pertolongan kepada orang mati. Dan itu dikuatkan oleh perkataan beliau selanjutnya:
ويحك بأيّ وجه تلقاه غدا و أنت تُنازعه في الدنيا ، مُعرض عنه ، مُقبل على خلقه، مُشرك به ، تُنزل حوائجك بهم. و تتكل بالمهمات عليهم.
“Celakalah engkau, dengan muka apa engkau akan bertemu dengan-Nya nanti, sedangkan engkau di dunia menentang-Nya, berpaling dari-Nya, menghadap kepada makhluk-Nya, dan menyekutukan-Nya?! Engkau arahkan kebutuhan-kebutuhanmu kepada mereka dan dalam perkara penting engkau bergantung kepada mereka?!”
Bukan cuma itu. Beliau mengucapkan perkataan yang lebih tegas lagi:
ارفعوا الوسائط بينكم و بين الله ، فإن وقوفكم معها هَوَس، لا مُلك و لا سُلطان و لا غِنى و لا عزّ إلا للحق عز و جل . كن مع الحق بلا خَلْق
“Singkirkanlah perantara-perantara antara dirimu dengan Allah. Karena sesungguhnya ketergantunganmu kepada perantara-perantara itu adalah kebodohan. Tidak ada kerajaan, kekuasaan, kekayaan, dan kemuliaan kecuali milik Allah ‘Azza wa Jalla. Jadilah engkau bersama Allah, tanpa makhluk.” (Al-Fath Ar-Rabbani)
Apa maksud jadilah engkau bersama Allah, tanpa makhluk?
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
أي كن مع الله بدعائه بلا واسطة من خلقه
“Maksud beliau, jadilah engkau bersama Allah dengan berdoa kepada-Nya tanpa perantara makhluk-Nya.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah)
Mereka semua merupakan orang-orang yang dianggap panutan bagi kaum Sufi, tetapi anehnya mereka berbeda dengan kaum Sufi. Mereka semua mengingkari perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum Sufi belakangan yaitu meminta tolong kepada orang mati.
Karena itu, apakah orang yang benar-benar mengesakan Allah sudi melakukan perbuatan tadi?
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Dan yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedangkan mereka sendiri diciptakan. Mereka mati, tidak hidup, dan mereka tidak tahu kapan dibangkitkan.” (QS. An-Nahl: 20-21)
Imam Al-Alusi berkata:
ما أعظمها آية في النهي على من يستغيث بغير الله تعالى من الجمادات والأموات ويطلب منه ما لا يستطيع جلبه لنفسه أو دفعه عنها.
“Alangkah agungnya ayat ini dalam melarang orang yang beristigasah kepada selain Allah, baik berupa benda-benda mati maupun orang-orang mati, dan meminta kepadanya apa yang tidak sanggup ia gapai untuk dirinya atau ia tolak dari dirinya.” (Ruh Al-Ma’ani)
Perbuatan tadi merupakan kemungkaran yang sangat besar dan harus kita ingkari.
Syekhul Islam berkata:
فمن جعل الملائكة والأنبياء وسائط يدعوهم ويتوكل عليهم ويسألهم جلب المنافع ودفع المضار مثل أن يسألهم غفران الذنب وهداية القلوب وتفريج الكروب وسد الفاقات فهو كافر بإجماع المسلمين
“Siapa yang menjadikan para malaikat, dan para nabi sebagai perantara yang ia seru dan ia jadikan tempat bergantung dan tempat meminta untuk mendapatkan manfaat dan menolak madarat, seperti meminta kepada mereka pengampunan terhadap dosa, petunjuk bagi hati, dan untuk menghilangkan kesusahan, dan menutup kekurangan, maka ia telah kafir menurut kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa’: 48)
Siberut, 8 Dzulhijjah 1446
Abu Yahya Adiya






