Pernahkah kita menyaksikan seseorang datang kepada kita lalu memuji kita, kemudian kalau pergi dari kita ia mencela kita?
Kalau pernah, maka waspadalah!
Sebab, Nabi ﷺ bersabda:
وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَيَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ
“Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang bermuka dua yang datang kepada suatu golongan dengan satu wajah dan mendatangi golongan yang lain dengan wajah yang lain lagi.” (HR. Bukhari)
Ya, ia datang ke sini untuk memuji kita dan datang ke sana untuk mencela kita.
Itu termasuk kemunafikan dan merupakan sifat yang tercela.
Orang-orang berkata kepada Ibnu ‘Umar:
إِنَّا نَدْخُلُ عَلَى سُلْطَانِنَا، فَنَقُولُ لَهُمْ خِلاَفَ مَا نَتَكَلَّمُ إِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِمْ
“Sesungguhnya kami menghadap sultan-sultan kami, lalu kami mengucapkan kepada mereka perkataan yang berbeda dengan apa yang kami ucapkan jika keluar dari sisi mereka.”
Maka Ibnu ‘Umar berkata:
كُنَّا نَعُدُّهَا نِفَاقًا
“Kami menganggap itu sebagai kemunafikan.” (HR. Bukhari)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وهذا يوجد في كثير من الناس والعياذ بالله وهو شعبة من النفاق، تجده يأتي إليك يتملق ويثني عليك وربما يغلو في ذلك الثناء، ولكنه إذا كان من ورائك عقرك وذمك وشتمك وذكر فيك ما ليس فيك
“Dan sifat ini ada pada banyak orang-kita berlindung kepada Allah-dan itu adalah sifat kemunafikan. Engkau mendapati orang seperti itu mendatangimu dan memujimu, dan bisa jadi berlebihan dalam memujimu. Namun, jika ia di belakangmu, ia ‘menyembelih’, mencela, dan mencacimu, serta menyebutkan tentang dirimu apa yang tidak ada pada dirimu.
فهذا والعياذ بالله كما قال النبي ﷺ:
Ini-kita berlindung kepada Allah-sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
تجدون شر الناس ذا الوجهين يأتي هؤلاء بوجه وهؤلاء بوجه
“Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua, ia datang kepada suatu golongan dengan satu wajah dan mendatangi golongan yang lain dengan wajah yang lain lagi.”
وهذا من كبائر الذنوب؛ لأن النبي ﷺ وصف فاعله بأنه شر الناس
Dan itu termasuk dosa besar. Sebab, Nabi ﷺ menggambarkan pelakunya bahwa ia adalah seburuk-buruk manusia.
والواجب على الإنسان أن يكون صريحًا، لا يقول إلا ما في قلبه فإن كان خيرًا حمد عليه وإن كان سوى ذلك وجه إلى الخير
Yang wajib atas seseorang untuk bersikap jelas. Janganlah ia berkata kecuali apa yang ada dalam hatinya. Jika itu kebaikan, maka ia terpuji karena itu. Dan jika bukan itu, maka hendaknya ia mengarahkan pada kebaikan.
أما كونه يأتي هؤلاء بوجه وهؤلاء بوجه، سواء كان فيما يتعلق بعبادته يظهر أنه عابد مؤمن تقي وهو بالعكس، أو فيما يتعلق بمعاملته مع الشخص؛ يظهر أنه ناصح له ويثني عليه ويمدحه ثم إذا غاب عنه عقره، فهذا لا يجوز.
Adapun ia mendatangi suatu golongan dengan satu wajah dan mendatangi golongan lain dengan wajah yang lain, baik terkait ibadahnya yaitu dengan menampakkan bahwa dirinya adalah ahli ibadah dan mukmin yang bertakwa, padahal tidak demikian, atau terkait interaksinya dengan seseorang yaitu menampakkan bahwa ia tulus kepadanya, memuji, dan menyanjungnya, lalu jika tidak ada di hadapannya, ia ‘menyembelih’nya, maka itu tidak diperbolehkan.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Ya, perbuatan tersebut tidak diperbolehkan dan yang melakukannya tidak pantas dijadikan kepercayaan.
Nabi ﷺ bersabda:
مَا يَنْبَغِي لِذِي الْوَجْهَيْنِ أَنْ يَكُونَ أَمِينًا
“Tidak sepantasnya orang yang bermuka dua menjadi orang kepercayaan.” (HR. Ahmad)
Siberut, 11 Dzulqa’dah 1442
Abu Yahya Adiya






