Seputar Haid dan Puasa

Seputar Haid dan Puasa

Ada beberapa permasalahan seputar haid dan puasa yang perlu kita ketahui.

 

1. Apa hukum berpuasa bagi wanita haid?

Nabi ﷺ bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Bukankah wanita bila haid tidak melaksanakan salat dan puasa?” (HR.Bukhari)

Imam An-Nawawi berkata:

فأجمعت الأمة على تحريم الصوم على الحائض والنفساء، وعلى أنه لا يصح صومها

“Umat telah bersepakat akan haramnya berpuasa bagi wanita haid dan nifas dan bahwasanya puasa tidak sah bagi wanita seperti itu.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab)

 

2. Apakah boleh wanita haid dan nifas makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

  نعم … تأكلان وتشربان في نهار رمضان لكن الأولى أن يكون ذلك سرًّا إذا كان عندها أحد من الصبيان في البيت لأن ذلك يوجب إشكالاً عندهم.

“Ya…wanita haid dan nifas boleh makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan. Namun, yang lebih utama hendaknya itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi jika memang ada anak-anak kecil di rumah. Sebab, itu akan menimbulkan masalah bagi mereka.” (60 Sual wa Jawab Fii Ahkam Al-Haidh)

 

3. Apa yang harus dilakukan seorang wanita jika mengalami haid beberapa menit menjelang waktu Magrib?

Syekh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid berkata:

فمن حاضت أو نفست ولو في اللحظة الأخيرة من النهار, فسد صومها, وعليها قضاء هذا اليوم, بإجماع العلماء

“Wanita yang mengalami haid atau nifas, walaupun beberapa saat di akhir waktu siang, maka rusaklah puasanya. Ia harus mengganti puasanya di hari itu berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Shahih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuh wa Taudhihi Madzahib Al-Aimmah)

 

4. Apa yang harus dilakukan seorang wanita bila suci dari haid beberapa menit sebelum masuk waktu Subuh?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

إذا طهرت الحائض قبل طلوع الفجر ولو بدقيقة واحدة ولكن تيقنت الطهر فإنه إذا كان في رمضان فإنه يلزمها الصوم ويكون صومها ذلك اليوم صحيحاً ولا يلزمها قضاؤه؛ لأنها صامت وهي طاهر

“Jika wanita yang mengalami haid suci sebelum terbitnya fajar, walaupun satu menit sebelumnya, akan tetapi ia yakin kesucian dirinya, maka jika ia di bulan Ramadhan, ia wajib berpuasa dan puasanya di hari itu sah dan ia tidak wajib menggantinya. Sebab, ia telah berpuasa dalam keadaan suci.” (60 Sual wa Jawab Fii Ahkam Al-Haidh)

 

5. Apakah wanita yang suci dari haid sebelum waktu Subuh boleh mandi haid setelah masuk waktu Subuh?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

نعم … يصح صوم المرأة الحائض إذا طهرت قبل الفجر ولم تغتسل إلا بعد طلوع الفجر … وكذلك النفساء لأنها حينئذ من أهل الصوم، وهي شبيهة بمن عليه جنابة إذا طلع الفجر وهو جُنب فإن صومه يصح

“Ya, sah puasa wanita yang suci dari haid sebelum fajar dan tidak mandi kecuali setelah terbit fajar…demikian pula wanita yang suci dari nifas. Sebab, ketika itu ia termasuk orang yang boleh berpuasa dan mirip dengan orang yang junub jika terbit fajar dalam keadaan junub, maka puasanya itu sah.” (60 Sual wa Jawab Fii Ahkam Al-Haidh)

 

6. Apa yang harus dilakukan seorang wanita bila suci dari haid beberapa menit setelah masuk waktu Subuh?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

إذا طهرت المرأة بعد طلوع الفجر فللعلماء في إمساكها ذلك اليوم قولان:

“Jika seorang wanita suci setelah terbitnya fajar, maka ada 2 pendapat di antara para ulama tentang keharusan wanita itu menahan diri dari makan dan minum di hari tersebut:

القول الأول: إنه يلزمها الإمساك بقية ذلك اليوم ولكنه لا يحسب لها بل يجب عليها القضاء، وهذا هو المشهور من مذهب الإمام أحمد ـ رحمه الله ـ

Pendapat pertama: ia wajib menahan diri dari makan dan minum pada waktu yang tersisa dari hari tersebut. Namun, hari itu tidak dihitung sebagai hari puasanya. Bahkan, ia wajib mengganti puasa hari itu di hari yang lain. Ini adalah yang pendapat yang terkenal dalam mazhab Imam Ahmad-semoga Allah merahmatinya-.

والقول الثاني: إنه لا يلزمها أن تمسك بقية ذلك اليوم؛ ْلأنه يوم لا يصح صومها فيه لكونها في أوله حائضة ليست من أهل الصيام، وإذا لم يصح لم يبق للإمساك فائدة….وهذا القول كما تراه أرجح من القول بلزوم الإمساك، وعلى كلا القولين يلزمها قضاء هذا اليوم.

Pendapat kedua: ia tidak wajib menahan dirinya pada waktu yang tersisa dari hari tersebut. Sebab, itu adalah hari yang mana puasanya tidak sah, karena di awal hari tersebut ia dalam keadaan haid dan bukan termasuk orang yang diperbolehkan berpuasa. Kalau memang tidak sah puasanya, maka tidak ada gunanya ia menahan diri dari makan dan minum…pendapat ini sebagaimana engkau lihat, lebih kuat daripada pendapat yang mengharuskan menahan diri dari makan dan minum. Dan berdasarkan dua pendapat ini wanita tersebut harus mengganti puasanya pada hari itu.” (60 Sual wa Jawab Fii Ahkam Al-Haidh)

 

7. Apa sah puasa seorang wanita jika melihat darah keluar dari kemaluannya tapi ia tidak bisa memastikan bahwa itu adalah darah haid?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

 [جـ 9] صيامها ذلك اليوم صحيح؛ لأن الأصل عدم الحيض حتى يتبين لها أنه حيض.

“Puasanya di hari itu sah. Sebab, asalnya adalah tidak ada haid sampai jelas baginya bahwa ia mengalami haid.” (60 Sual wa Jawab Fii Ahkam Al-Haidh)

 

8. Apakah boleh memakan pil untuk mencegah haid di bulan Ramadhan?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin menjawab:

استعمال المرأة حبوب منع الحيض إذا لم يكن عليها ضرر من الناحية الصحية، فإنه لا بأس به، بشرط أن يأذن الزوج بذلك

“Wanita yang menggunakan pil pencegah haid, jika memang itu tidak membahayakannya dari sisi kesehatan, maka tak mengapa menggunakannya, dengan syarat diziinkan suami.

ولكن حسب ما علمته أن هذه الحبوب تضر المرأة، ومن المعلوم أن خروج دم الحيض خروج طبيعي، والشيء الطبيعي إذا مُنع في وقته، فإنه لا بد أن يحصل من منعه ضرر على الجسم

Namun, sebagaimana yang saya ketahui, pil tersebut bisa membahayakan wanita. Dan termasuk perkara yang diketahui bahwa keluarnya darah haid adalah keluarnya darah secara alami. Sedangkan segala sesuatu yang alami jika dihalangi pada waktunya, maka mesti dengan menghalanginya akan membahayakan badan.

وكذلك أيضاً من المحذور في هذه الحبوب أنها تخلط على المرأة عادتها، فتختلف عليها، وحينئذ تبقى في قلق وشك من صلاتها ومن مباشرة زوجها وغير ذلك

Demikian pula termasuk yang perlu diwaspadai mengenai pil tersebut yakni bahwa pil tersebut akan mengacaukan kebiasaan haid seorang wanita, sehingga membuatnya bingung. Ketika itulah ia jadi resah dan ragu akan salatnya, percampuran dengan suaminya, dan perkara selain itu.

لهذا أن لا أقول إنها حرام ولكني لا أحب للمرأة أن تستعملها خوفاً من الضرر عليها.

Karena itu, aku tidak mengatakan bahwa pil itu haram, tetapi aku tidak suka kalau seorang wanita menggunakannya, karena khawatir itu akan membahayakannya.” (Majmu’ Fatawa Wa Rasail Al-‘Utsaimin)

 

Siberut, 4 Ramadhan 1442

Abu Yahya Adiya