Allah berfirman:
وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menghukum Fir’aun dan kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mengambil pelajaran.
فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ
Kemudian bila kemakmuran datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya.
أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 130-131)
Apa maksud kekurangan buah-buahan di sini?
Raja’ bin Haiwah menjelaskan:
حيث لا تحمل النخلة إلا تمرة واحدة
“Yaitu di mana pohon kurma hanya berisi satu butir kurma saja.” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran)
Dan apa maksud mereka ditimpa kesusahan di sini?
Imam Mujahid menjelaskan:
بلاء وعقوبة
“Yaitu bencana dan hukuman.” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran)
Dan apa maksud mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya? Yaitu dengan berkata:
: ما أصابنا هذا إلا بك يا موسى وبمن معك، ما رأينا شرًّا ولا أصابنا حتى رأيناك!
“Kami tidak mengalami kesusahan ini kecuali disebabkan engkau wahai Musa dan juga orang-orang yang bersamamu. Kami tidak pernah melihat keburukan dan tidak juga itu menimpa kami hingga kami melihatmu!” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran)
Kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah yakni karena dosa mereka dan kedurhakaan mereka.
Faidah yang bisa kita petik dari ayat-ayat ini:
- Allah menurunkan musibah kepada umat manusia agar mereka mengambil pelajaran.
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Ruum: 41)
Ya, agar mereka kembali. Agar kita kembali. Kembali kepada Allah. Bertaubat kepada-Nya dari segala dosa dan kemaksiatan kepada-Nya.
- Segala kenikmatan yang kita rasakan itu semata-mata pemberian Allah, bukan karena kerja keras kita dan kehebatan kita.
Kita dituntut untuk berusaha dan berusaha, namun ketahuilah, hasilnya di tangan Allah semata!
Karena itu, syukurilah segala nikmat dari-Nya, niscaya Dia akan menambahkannya.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Jika kalian bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepada kalian. Akan tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
- Wajibnya beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.
- Tathoyyur adalah kebiasaan orang-orang kafir di zaman dulu.
Tathoyyur yaitu merasa sial karena sesuatu yang dilihat, didengar atau diketahui. Seperti keyakinan sebagian orang tentang “nomor sial”, “hari sial”, “bulan sial” “hewan sial”, dan semacamnya.
Seperti yang terjadi pada kaum Nabi Musa. Mereka merasa sial karena sebab Nabi Musa dan pengikutnya.
- Kebodohan akan mengantarkan pada kemaksiatan, kekafiran, dan kemusyrikan.
Dan lewat kebodohanlah iblis menyesatkan umat manusia.
Imam Ibnul Jauzi berkata:
اعلم أن أول تلبيس إبليس عَلَى الناس صدهم عَنِ العلم لأن العلم نور فَإِذَا أطفا مصابيحهم خبطهم فِي الظلم كيف شاء
“Ketahuilah, perangkap iblis yang pertama kali diberikan kepada umat manusia adalah menghalangi mereka dari ilmu. Sebab, ilmu itu cahaya. Kalau ia sudah mematikan cahaya mereka, maka ia bisa memasukkan mereka ke kegelapan sesuai yang ia kehendaki.” (Talbis Iblis)
Siberut, 25 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Jami‘ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran karya Imam Ath-Thabari.
- Talbis Iblis karya Imam Ibnul Jauzi.






