Allah berfirman:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;
إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepada kalian.”
قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ
Mereka menjawab, “Kalian ini hanyalah manusia seperti kami, dan Allah Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu pun, kalian hanyalah pendusta belaka.”
قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
Mereka berkata, “Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah utusan-utusan kepada kalian. Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.”
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib sial karena kalian. Sungguh, jika kalian tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kalian dan kalian pasti akan merasakan siksa yang pedih dari kami.”
قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
Para utusan berkata, “Kesialan kalian itu adalah karena kalian sendiri. Apakah kesialan itu karena kalian diberi peringatan? Sebenarnya kalian adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Yasin: 13-19)
Apa sebabnya penduduk negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami bernasib sial karena kalian”?
Muqatil menjelaskan:
حُبِسَ عَنْهُمُ الْمَطَرُ ثَلَاثَ سِنِينَ فَقَالُوا
“Hujan tidak turun kepada mereka selama 3 tahun, lalu mereka pun berkata:
هَذَا بِشُؤْمِكُمْ
“Ini karena kesialan dari kalian!” (Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran)
Apa maksud ucapan para utusan, “Kesialan kalian itu adalah karena kalian sendiri”?
Yakni kesialan kalian itu karena dosa kalian dan kedurhakaan kalian.
Apa maksud ucapan para utusan, “Sebenarnya kalian adalah kaum yang melampaui batas”?
Yakni kalian melampaui batas dalam berbuat dosa karena itu kalian mendapatkan kesialan.
Faidah yang bisa kita petik dari ayat-ayat tadi:
- Allah memberikan perumpamaan kepada hamba-Nya.
Untuk apa? Menguji. Agar mereka berpikir.
Allah berfirman:
وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-‘Ankabuut: 43)
- Serupanya alasan orang-orang kafir di setiap masa dalam hal pendustaan terhadap para rasul.
- Hidayah itu ada di tangan Allah. Kewajiban rasul hanya menyampaikan risalah bukan memberi hidayah.
Allah berfirman:
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21)
- Haramnya tathoyyur. Karena itu kebiasaan orang-orang kafir zaman dahulu.
Tathoyyur yaitu merasa sial karena sesuatu yang dilihat, didengar atau diketahui. Seperti keyakinan sebagian orang tentang “nomor sial”, “hari sial”, “bulan sial” “hewan sial”, dan semacamnya.
Seperti yang terjadi pada orang-orang kafir yang Allah sebutkan dalam ayat-ayat tadi. Mereka merasa sial karena sebab utusan-utusan yang mendakwahi mereka.
- Segala sesuatu yang diajarkan oleh rasul adalah kebaikan dan berkah bagi orang yang mengikutinya.
- Wajibnya beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.
- Di antara kebiasaan orang-orang kafir yaitu mengancam dan meneror orang yang menasihati mereka.
- Musibah itu terjadi karena adanya maksiat dan dosa.
Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syuuraa: 30)
Imam Mujahid berkata:
إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ:
“Jika kemarau berkepanjangan dan hujan tidak juga turun, maka hewan-hewan ternak mengutuk manusia-manusia pelaku maksiat. Mereka berkata:
هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ
“Kemarau ini terjadi disebabkan kemaksiatan manusia.” (Ad-Dau Wa Ad-Dawa’)
- Di antara sifat orang kafir yaitu menolak nasihat.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang kafir itu berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 3)
Siberut, 26 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Jami‘ Li Ahkam Al-Quran karya Imam Al-Qurthubi.
- Ad-Dau Wa Ad-Dawa’ karya Imam Ibnul Qayyim.






