3 perkara ini pasti terjadi. Sebab, itu telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ. Bahkan, Nabi ﷺ sampai bersumpah untuk menguatkan kabar beliau itu.
Nabi ﷺ bersabda:
ثَلاثٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنْ كُنْتُ لَحَالِفًا عَلَيْهِنَّ لَا يَنْقُصُ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ فَتَصَدَّقُوا، وَلا يَعْفُو عَبْدٌ عَنْ مَظْلَمَةٍ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا عِزًّا ، وَلا يَفْتَحُ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلا فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ
“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, ada 3 perkara yang aku bersumpah bahwa itu pasti terjadi: Harta itu tidak berkurang karena sedekah, makanya bersedekahlah. Tidaklah seorang hamba memaafkan kezaliman orang lain kepadanya karena mengharapkan wajah Allah, kecuali Allah akan mengangkat kemuliaannya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu untuk meminta-minta kecuali Allah akan membuka pintu kemiskinan untuknya.” (HR. Ahmad)
Dalam hadis ini Nabi ﷺ bersumpah bahwa 3 perkara tadi pasti terjadi. Dan kalau Nabi ﷺ sudah bersumpah, pasti itu benar-benar terjadi:
1. Sedekah tidak mengurangi harta
Ya, harta tidak berkurang karena sedekah, bahkan jadi bertambah.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
الإنسان إذا تصدق؛ فإن الشيطان يقول له:
“Jika seseorang bersedekah, maka setan akan berkata kepadanya:
أنت إذا تصدقت نقص مالك، عندك مائة ريال إذا تصدقت بعشرة لم يكن عندك إلا تسعون، إذا نقص المال فلا تتصدق، كلما تصدقت ينقص مالك.
“Jika engkau bersedekah, maka akan berkurang hartamu! Engkau mempunyai 100 riyal, jika engkau sedekahkan 10 riyal, maka milikmu jadi 90 riyal. Kalau memang hartamu akan berkurang, maka jangan bersedekah! Setiap kali engkau bersedekah, akan berkurang hartamu!”
ولكن من لا ينطق عن الهوى يقول:
Namun, sosok yang tidak berbicara menurut hawa nafsunya bersabda:
إن الصدقة لا تنقص المال
“Sedekah itu tidak mengurangi harta.”
لا تنقصه لماذا؟
Tidak mengurangi harta. Kenapa?
قد تنقصه كمّا، لكنها تزيده كيفا وبركة، وربما هذه العشرة يأتي بدلها مائة
Secara kuantitas bisa jadi berkurang, tapi secara kualitas dan berkah itu bertambah. Bisa jadi 10 riyal tadi diganti dengan 100 riyal.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
2. Memaafkan kesalahan orang lain menambah kemuliaan
Memaafkan tidak akan menjatuhkan martabatmu dan tidak akan mengurangi kemuliaanmu, justru menambah kemuliaanmu. Selain itu, Allah pun akan memaafkan kesalahanmu.
Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُم والله غفور رحيم
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin jika Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)
Nabi ﷺ bersabda:
كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ:
“Dulu ada seseorang yang biasa memberi pinjaman kepada orang-orang dan ia berkata kepada pembantunya:
إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا
“Kalau engkau mendatangi orang yang kesulitan membayar hutang, maka maafkanlah ia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita.”
فَلَقِيَ اللهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ
Lalu orang itu bertemu dengan Allah, maka Dia pun memaafkan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Meminta-minta membuat seseorang terhina.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
والإنسان الذي أكرمه الله بالغنى والتعفف لا يعرف قدر السؤال إلا إذا ذل أمام المخلوق، كيف تمد يدك إلى مخلوق وتقول له أعطني وأنت مثله؟ وإذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله
“Seseorang yang telah Allah muliakan dengan kecukupan dan menjaga kehormatan tidak mengetahui kadar meminta kecuali jika ia menghinakan diri di hadapan makhluk. Bagaimana bisa engkau menjulurkan tanganmu kepada makhluk dan berkata kepadanya, ‘Berilah aku!’, padahal engkau seperti dirinya?! Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah!” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Dan kehinaan karena meminta-minta bukan cuma terasa ketika di dunia, melainkan juga ketika telah meninggalkan dunia.
Nabi ﷺ bersabda:
لاَ تَزَالُ المَسأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتى يَلْقى اللَّه تَعَالَى ولَيْسَ في وَجْهِهِ مُزْعةُ لَحْمٍ
“Senantiasa salah seorang dari kalian meminta-minta sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, tanpa sekerat daging pun di wajah.
Bukankah itu suatu kehinaan?
Bukankah itu suatu kerendahan?
Siberut, 13 Dzulqa’dah 1442
Abu Yahya Adiya






