Faedah dari Hadis tentang Pemeriksaan Allah terhadap Hamba-Nya

Faedah dari Hadis tentang Pemeriksaan Allah terhadap Hamba-Nya

Salah satu peristiwa mencekam di akhirat adalah ketika Allah menghisab hamba-Nya satu per satu.

Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَاّ سيُكَلِّمُه ربُّه لَيْس بَيْنَهُ وبََينَهُ تَرْجُمَان، فَينْظُرَ أَيْمنَ مِنْهُ فَلا يَرى إِلَاّ مَا قَدَّم، وينْظُر أشأمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إلَاّ مَا قَدَّمَ، وَينْظُر بَيْنَ يدَيْهِ فَلا يَرى إلَاّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولوْ بِشِقِّ تَمْرةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجدْ فَبِكَلِمَة طيِّبَةٍ.

“Tidak seorang pun dari kalian, melainkan akan diajak bicara oleh Tuhannya dalam keadaan tidak ada antara dirinya dengan Tuhannya seorang penerjemah pun. Kemudian ia menengok ke arah kanannya, maka tidak ada yang ia lihat, melainkan amalan yang telah ia lakukan. Lalu ia menengok ke arah kirinya, maka tidak ada yang ia lihat, melainkan amalan yang telah ia lakukan. Lalu ia melihat ke arah depannya, maka tidak ada yang ia lihat, melainkan neraka ada di hadapannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka, sekalipun dengan separuh butir kurma. Siapa yang tidak mendapati itu, maka hendaknya ia menggantinya dengan berkata baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Allah berbicara sesuai dengan keagungan-Nya dan kebesaran-Nya.

Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-‘Uṡaimīn berkata:

ففي هذا الحديث دليل على كلام الله عز وجل، وأنه سبحانه وتعالى يتكلم بكلام مسموع مفهوم، لا يحتاج إلى ترجمة، يعرفه المخاطب به.

“Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan kalam Allah dan bahwasanya Dia berbicara dengan pembicaraan yang didengar, dipahami, tidak membutuhkan penerjemahan dan diketahui oleh orang yang diajak bicara.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)

Dan hadis ini merupakan bantahan terhadap sekte Jahmiyyah yang menolak sifat bicara bagi Allah. Karenanya, Imam Ibnu Majah memasukkan hadis ini dalam bab fī mā Ankarat Al-Jahmiyyah (Bab di Antara Perkara yang Diingkari oleh Jahmiyyah) pada kitab Sunan beliau.

 

  1. Adanya hari kiamat.

 

  1. Mencekamnya keadaan ketika Allah menghisab hamba-hamba-Nya.

Syekh ‘Abdurrahmān As-Sa‘dī berkata:

أخبر فيه: أن جميع الخلق سيكلمهم الله مباشرة من دون ترجمان ولا واسطة، ويسألهم عن جميع أعمالهم، خيرها وشرها، دقيقها وجليلها، سابقها ولاحقها، ما علمه العباد وما نسوه منها

“Nabi mengabarkan dalam hadis ini bahwa semua makhluk akan diajak bicara oleh Allah secara langsung tanpa penerjemah dan tanpa perantara. Dia akan menanyai mereka tentang segala amalan mereka, yang baik maupun yang buruk, yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang belakangan, yang diketahui oleh hamba-hamba-Nya maupun yang telah mereka lupakan.”

Yang demikian sudah seharusnya membuat kita takut, apalagi kata Syekh:

وفي هذه الحالة التي يحاسبهم فيها ليس مع العبد أنصار ولا أعوان ولا أولاد ولا أموال، قد جاءه فردا كما خلقه أول مرة،

“Dalam keadaan yang mana Allah memeriksa mereka tersebut, tidak ada bagi hamba para penolong, pembantu, anak, dan harta. Ia datang sendiri, sebagaimana Dia menciptakannya pertama kali.” (Bahjah Qulūb Al-Abrār wa Qurratu ‘Uyūn Al-Akhyār fī Syarh Jawāmi‘ Al-Akhbār)

 

  1. Tampaknya keagungan Allah

Syekh ‘Abdurrahmān As-Sa‘di berkata:

هذا حديث عظيم تضمن من عظمة الباري ما لا تحيط به العقول ولا تعبر عنه الألسن.

“Ini adalah hadis agung yang mengandung keagungan Sang Maha Pencipta yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan tidak sanggup diungkapkan oleh lisan.”

Mengapa demikian?

Syekh melanjutkan:

وذلك أنه لعظمته وكبريائه كما يخلقهم ويرزقهم في ساعة واحدة، ويبعثهم في ساعة واحدة فإنه يحاسبهم جميعهم في ساعة واحدة، فتبارك من له العظمة والمجد، والملك العظيم والجلال

“Yang demikian itu karena keagungan dan kebesaran-Nya, sebagaimana Dia menciptakan mereka dan memberikan rezeki kepada mereka dalam satu waktu, serta membangkitkan mereka dalam satu waktu, demikian pula Dia pun akan memeriksa mereka semua dalam satu waktu. Maka, Maha Suci Pemilik segala kebesaran, kemuliaan, kerajaan yang agung dan keperkasaan.” (Bahjah Qulūb Al-Abrār wa Qurratu ‘Uyūn Al-Akhyār fī Syarh Jawāmi‘ Al-Akhbār)

 

  1. Sedekah bisa menjadi sebab selamat dari neraka, walaupun sedikit.

Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-‘Uṡaimīn berkata:

وفيه دليل على أن الصدقة ولو قلت تنجي من النار

“Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sedekah, walaupun sedikit, itu bisa menyelamatkan dari neraka.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)

Karena itu, jangan remehkan sedekah yang kita keluarkan. Sebab, bisa jadi dengan sedikit harta yang kita keluarkan, kita selamat dari kesengsaraan yang berkepanjangan,

 

  1. Berkata baik bisa menjadi sebab selamat dari neraka.

Syekh Muḥammad bin ‘Ali bin Ādam Al-Ityūbī menyebutkan faidah dari hadis tersebut:

أن الكلمة الطيّبة تكون وِقايةً عن النار كصدقة المال، وقد ثبت كونها صدقة، فيما أخرجه الشيخان من حديث أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ﷺ:

“Berkata baik bisa menjadi pelindung dari neraka, seperti sedekah harta. Dan sebenarnya telah tetap bahwa itu merupakan sedekah, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abū Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

كلُّ سُلامَى من الناس، عليه صدقة، كلَّ يوم تطلع فيه الشمس، يعدل بين الاثنين صدقة، وُيعين الرجل على دابته، فيحمله عليها، أو يرفع عليها متاعه صدقة، والكلمة الطيبة صدقة

“Setiap persendian dari manusia itu ada sedekahnya pada setiap hari yang matahari terbit padanya. Berbuat adil antara dua orang adalah sedekah. Menolong seseorang dalam urusan kendaraannya, membantunya agar bisa menaiki kendaraannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah. Dan berkata baik adalah sedekah ” (Al-Baḥr Al-Muḥīṭ Aṡ-Ṡajjāj fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Imām Muslim bin Al-Ḥajjāj)

Lantas, apa saja yang termasuk perkataan baik?

Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-‘Uṡaimīn berkata:

والكلمة الطيبة تشمل قراءة القرآن، فإن أطيب الكلمات القرآن الكريم. وتشمل التسبيح التهليل، وكذلك تشمل الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، وتشمل تعليم العلم وتعلم العلم، وتشمل كذلك كل ما يتقرب به الإنسان إلى ربه من القول

“Berkata baik itu mencakup pembacaan Al-Quran, karena sesungguhnya sebaik-baik perkatan adalah Al-Quran yang mulia. Berkata baik mencakup juga tasbih dan tahlil. Begitu pula mencakup amar makruf nahi mungkar. Mencakup juga mengajarkan ilmu dan mempelajarinya. Demikian pula mencakup segala perkataan yang dengannya seseorang mendekatkan diri kepada Tuhannya.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)

 

  1. Tidak boleh meremehkan perbuatan baik, walaupun sedikit.

Syekh ‘Abdurrahmān As-Sa‘di berkata:

وفي هذا الحديث: أن من أعظم المنجيات من النار، الإحسان إلى الخلق بالمال والأقوال، وأن العبد لا ينبغي له أن يحتقر من المعروف ولو شيئا قليلا،

“Dalam hadis ini terdapat keterangan bahwa termasuk penyelamat besar dari neraka yaitu berbuat baik kepada manusia dengan harta dan perkataan, dan bahwasanya tidak pantas meremehkan perbuatan baik, walaupun itu sedikit.” (Bahjah Qulūb Al-Abrār wa Qurratu ‘Uyūn Al-Akhyār fī Syarh Jawāmi‘ Al-Akhbār)

 

Siberut, 26 Ṣafar 1447

Abu Yahya Adiya