Suatu hari Al-Ḥasan bin ‘Ali mengambil sebutir kurma sedekah lalu meletakkannya di mulutnya. Maka Nabi ﷺ pun bersabda:
كِخْ كِخْ، إِرْمِ بِهَا، أَما علِمْتَ أَنَّا لا نأْكُلُ الصَّدقةَ!؟
“Hus. Hus. Buang itu! Apakah engkau tidak tahu kalau kita tidak boleh memakan sedekah?!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Sedekah tidak dihalalkan bagi Nabi ﷺ dan keluarga beliau.
Al-Muhallab berkata:
وفى هذا الحديث أن قليل الصدقة لا يحل لآل محمد
“Dalam hadis ini terdapat keterangan bahwa sedikit sedekah tidaklah halal bagi keluarga Muhammad.” (Syarh Ṣahīh Al-Bukhārī)
Kalau sedekah dalam jumlah sedikit saja tidak halal bagi mereka, apalagi kalau dalam jumlah banyak!
Mengapa sedekah tidak halal bagi mereka?
Al-Muhallab berkata:
وإنما حرمت الصدقة عليه وعلى آله، لأنها أوساخ الناس
“Sesungguhnya sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarga beliau, karena itu adalah kotoran manusia.” (Syarh Ṣahīh Al-Bukhārī)
Pernyataannya itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
إن الصدقة لاتنبغي لِآلِ مُحَمَّدٍ. إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ
“Sesungguhnya sedekah tidak pantas bagi keluarga Muhammad. Itu hanyalah kotoran manusia.” (HR. Muslim)
Selain alasan demikian, Al-Muhallab berkata:
ولأن أخذ الصدقة منزلة ذل وضعة، لقوله ﷺ:
“Dan karena mengambil sedekah adalah kedudukan yang hina dan rendah, berdasarkan sabda beliau ﷺ:
اليد العليا خير من اليد السفلى
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
فجعل يد الذى يأخذ السفلى، والأنبياء وآلهم منزهون عن الذل، والضعة، والخضوع، والافتقار إلى غير الله
Beliau menjadikan tangan yang mengambil ada di bawah, sedangkan para nabi dan keluarga mereka disucikan dari kehinaan, kerendahan, ketundukan, dan bergantung pada selain Allah.” (Syarh Ṣahīh Al-Bukhārī)
Selain alasan demikian, Al-Muhallab berkata:
وقد فرض الله عليه وعلى الأنبياء قبله ألا يطلبوا على شىء من الرسالة أجرًا، فلو أخذ الصدقة لكانت كالأجرة
“Dan Allah telah mewajibkan beliau dan para nabi sebelum beliau agar tidak meminta upah atas apa pun dari risalah yang disampaikan. Kalau beliau mengambil sedekah, maka itu seperti upah.” (Syarh Ṣahīh Al-Bukhārī)
Selain keluarga Nabi ﷺ, maula mereka pun diharamkan menerima sedekah.
Nabi ﷺ bersabda:
مَوْلَى الْقَوْمِ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنَّا لَا تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ
“Maula suatu kaum termasuk dari mereka dan sesungguhnya tidak halal bagi kita sedekah.” (HR. Abu Daud)
Al-Albānī berkata:
وما دل عليه الحديث من تحريم الصدقة على موالي أهل بيت النبي ﷺ هو المشهور في مذهب الحنفية
“Apa yang ditunjukkan oleh hadis ini berupa pengharaman sedekah bagi maula keluarga Nabi ﷺ adalah pendapat yang terkenal dalam mazhab Hanafiyyah.” (Silsilah Al-Aḥādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah)
- Anak kecil dilarang melakukan perbuatan yang diharamkan.
Abu Al-‘Abbās Al-Qurṭubī berkata:
وفي هذا الحديث ما يدل على أن الصغار يمنعون مما يحرم على الكبار المكلَّفين حتى يُتدرَّبوا على آداب الشريعة، ويتأدبوا بها ويعتادوها. وعلى هذا فلا يلبس الذكور الصغار الحرير، ولا يحلون الذهب
“Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa anak kecil dilarang dari perkara yang diharamkan bagi orang dewasa yang mukalaf hingga mereka terlatih dan terbiasa dalam menjalankan adab-adab syariat. Karena itu, tidak boleh anak-anak laki-laki memakai sutra dan emas.” (Al-Mufhim limā Asykala min Talkhīṣ Kitāb Muslim)
- Orang tua hendaknya mencegah anaknya dari perbuatan yang diharamkan, walaupun ia belum balig.
Muẓhir Ad-Dīn Az-Zaidānī berkata:
وهذا يدل على أنه وجب على الآباء نهي الأولاد عما لا يجوز في الشرع.
“Hadis ini menunjukkan bahwa wajib bagi orang tua untuk melarang anak-anaknya dari perkara yang tidak diperbolehkan dalam syariat.” (Al-Mafātīḥ fī Syarḥ Al-Maṣābīh)
- Hendaknya anak dididik untuk beragama berdasarkan ilmu.
‘Ubaidullāh Al-Mubārakfūrī berkata:
والحديث يدل على أن الطفل يجنب الحرام كالكبير ويعرف لأي شيء نهى عنه لينشأ على العلم فيأتي عليه وقت التكليف وهو على علم من الشريعة
“Hadis ini menunjukkan bahwa anak kecil harus dijauhkan dari yang haram, seperti orang dewasa, dan ia diberi tahu karena apa ia dilarang, agar ia tumbuh di atas ilmu, sehingga ketika datang waktu taklif, ia dalam keadaan memiliki ilmu tentang syariat.” (Mir‘āh Al-Mafātīh Syarḥ Misykāh Al-Maṣābīh)
- Hendaknya seorang guru berbicara dengan muridnya sesuai dengan kadar akal dan pemahamannya.
Ibnu Hubairah berkata:.
وفيه أيضًا: أن العالم الفصيح إذا اضطر إلى تكليم صبي، أو من هو في الفهم في رتبة الصبي، فإنه ينزل عن رتبة فصاحته إلى الكلام الذي يفهمه ذلك المخاطب؛ كما فعل رسول الله ﷺ وهو أفصح العرب؛ بأن نزل إلى ما فهمه الحسن بن علي رضي الله عنه.
“Dalam hadis ini juga terdapat keterangan bahwa orang berilmu yang fasih, jika terdesak untuk mengajak bicara anak kecil atau orang yang tingkat pemahamannya seperti anak kecil, maka ia menurunkan tingkat kefasihannya kepada perkataan yang dipahami oleh lawan bicara. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, padahal beliau adalah orang Arab yang paling fasih, yaitu dengan menyesuaikan perkataan beliau dengan apa yang dipahami oleh Al-Ḥasan bin ‘Ali.” (Al-Ifṣāh ‘an Ma‘ānī As-Sihāh)
Perbuatan beliau ﷺ ini sesuai dengan kabar dari ‘Aisyah:
أَمرنا رسولُ اللَّه ﷺ أَنْ نُنْزِل النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
“Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menempatkan manusia sesuai dengan posisinya.” (HR. Al-Baihaqi)
Siberut, 5 Rabī’ul Awwal 1447
Abu Yahya Adiya






