Cara Bersedekah Orang yang Tak Berharta

Cara Bersedekah Orang yang Tak Berharta

Rasa iri mungkin saja akan timbul jika seseorang melihat orang yang lebih kaya dan lebih berharta daripada dirinya.

Itu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada diri para sahabat nabi kita.

Mereka pun bisa iri. Hanya saja, iri mereka kepada orang-orang yang lebih kaya daripada mereka, bukan karena banyaknya kekayaan mereka, melainkan karena banyaknya pahala yang bisa mereka raih lewat kekayaan mereka.

Itulah iri yang terpuji sebagaimana telah disebutkan oleh Nabi ﷺ:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua hal; (terhadap) orang yang Allah berikan harta lalu ia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran, dan orang yang Allah berikan hikmah lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iri yang demikian dinamakan gibtah, yaitu keinginan terhadap suatu nikmat yang ada pada orang lain tanpa ada harapan kalau nikmat itu hilang dari dirinya.

Itulah iri yang terpuji. Itulah iri yang dimiliki para sahabat Nabi ﷺ.

Suatu hari beberapa sahabat Nabi yang miskin mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ

“Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala yang banyak. Mereka melaksanakan salat sebagaimana kami melaksanakan salat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Artinya, para sahabat Nabi yang kaya itu bisa melakukan berbagai ibadah yang sanggup dilakukan oleh para sahabat Nabi yang miskin. Bahkan, mereka unggul dalam hal pahala, karena mempunyai harta yang bisa mereka sedekahkan. Sementara para sahabat Nabi yang miskin itu tidak memiliki harta yang bisa mereka sedekahkan.

Lihatlah, mereka iri karena alasan pahala, bukan karena karena alasan dunia.

Mereka iri karena sesuatu yang mahal, bukan karena sesuatu yang murah.

Itulah iri yang terpuji. Itulah iri yang mendorong mereka untuk berlomba-lomba dalam meraih pahala dan menggapai kebaikan.

Nabi ﷺ mengetahui maksud mereka, maka beliau pun memberikan jalan  keluar kepada mereka. Beliau ﷺ bersabda:

أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ

“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah?

إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً

Sesungguhnya setiap tasbih merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, amar makruf nahi munkar merupakan sedekah dan setiap persetubuhan kalian merupakan sedekah.”

Setiap persebutuhan merupakan sedekah? Kalimat ini membuat mereka heran. Karena itu mereka bertanya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟

“Wahai Rasulullah, apakah seorang dari kami mendapatkan pahala karena melampiaskan syahwatnya?”

Beliau ﷺ bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Bagaimana pendapat kalian seandainya seseorang melampiaskan syahwatnya di jalan yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka begitu pula kalau ia melampiaskannya di jalan yang halal, tentu ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Bagi orang yang tidak atau belum dikarunia harta yang berlimpah, bukan berarti ia tidak bisa bersedekah. Bukan berarti ia tidak bisa mengumpulkan pahala yang berlimpah. Bukan berarti ia tidak bisa berlomba-lomba dalam kebaikan dan ibadah.

Bersedekahlah dengan tasbih. Ucapkanlah subhanallah (Maha Suci Allah). Karena, sesungguhnya setiap tasbih merupakan sedekah.

Bersedekahlah dengan takbir. Ucapkanlah Allahu akbar (Allah Maha Besar). Karena, setiap takbir merupakan sedekah.

Bersedekahlah dengan tahmid. Ucapkanlah alhamdulillah. Karena, setiap tahmid merupakan sedekah.

Bersedekahlah dengan tahlil. Ucapkanlah Laa Ilaaha Illa Allah. Karena, setiap tahlil merupakan sedekah.

Bersedekahlah dengan menyuruh yang baik dan melarang dari yang mungkar. Karena, setiap amar makruf nahi mungkar merupakan sedekah.

Bersedekahlah dengan melakukan persetubuhan dengan pasangan yang halal. Karena, setiap persetubuhan kalian merupakan sedekah.

Perbanyaklah sedekah dengan melakukan semua itu, niscaya pahala yang berlimpah akan menjadi milikmu, walaupun harta dunia tidak mengelilingimu.

 

Siberut, 10 Rabi’ul Tsani 1442

Abu Yahya Adiya