Bersemangatlah dalam Beribadah di Masa Fitnah!

Bersemangatlah dalam Beribadah di Masa Fitnah!

Makin banyak orang yang melalaikan petunjuk agama, maka makin besar pula pahala orang yang berpegang teguh padanya.

Nabi ﷺ bersabda:

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Beribadah ketika terjadi fitnah adalah seperti hijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Seperti hijrah kepadaku. Seperti hijrah bersama Nabi ﷺ. Bukankah itu ibadah yang memiliki keutamaan yang besar dan banyak?

Imam An-Nawawi mengomentari hadis tadi:

وَسَبَبُ كَثْرَةِ فَضْلِ الْعِبَادَةِ فِيهِ أَنَّ الناس يغفلون عنها ويشتغلون عنها ولايتفرغ لها إلا أفراد

“Sebab banyaknya keutamaan ibadah di masa itu adalah karena orang-orang lalai dari ibadah dan tersibukkan darinya serta tidak ada yang mencurahkan waktu untuknya kecuali beberapa orang saja.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Orang yang sibuk beribadah di masa itu akan menjadi asing.

Orang yang menaati aturan agama di zaman itu akan menjadi aneh.

Ya, aneh. Bagaimana tidak aneh? Kebanyakan orang melalaikan aturan agama di masa itu!

Namun, apakah perlu bersendu kalau kita mendapati masa itu?

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti awal datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Tirmidzi)

Siapa orang-orang asing yang beruntung di sini?

Disebutkan dalam riwayat lain bahwa Nabi ﷺ ditanya tentang orang-orang asing yang beruntung itu. Beliau ﷺ pun menjawab:

الَّذِينَ يُحْيُونَ سُنَّتِي وَيُعَلِّمُونَهَا عِبَادَ اللَّهِ

“Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah.”

Ya, mereka itulah orang-orang yang asing tapi beruntung, maka untuk apa murung?

Makin banyak orang yang meninggalkan aturan agama di suatu waktu, maka makin besar pahala yang kita dapatkan kalau kita mengamalkannya di waktu tersebut.

Begitu pula, makin banyak orang yang melupakan aturan agama di suatu tempat, maka makin besar pahala yang kita raih kalau kita mengamalkannya di tempat tersebut.

Kalau ada orang yang tidak percaya pada jimat, sihir, dan perdukunan dan ia tinggal di Arab Saudi, maka itu bukanlah perkara yang istimewa.

Tapi kalau ada orang yang tidak percaya jimat, sihir, dan perdukunan dan ia tinggal di Indonesia? Itu baru istimewa dan luar biasa!

Kalau ada orang yang mempraktekkan sunnah Nabi ﷺ dan itu di Arab Saudi, maka itu bukanlah perkara yang istimewa.

Tapi kalau ada orang yang mempraktekkan sunnah Nabi ﷺ dan itu di Indonesia? Itu baru istimewa dan luar biasa!

Maka, bersemangatlah mempraktekkan tauhid dan sunnah di masa fitnah!

 

Siberut, 28 Rabi’ul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya