“Semoga kematian menimpamu!”
Itulah perkataan orang-orang Yahudi kepada Nabi ﷺ. Perkataan yang sangat tidak beradab.
‘Aisyah yang mendengar perkataan itu jadi emosi. Ia pun berkata kepada mereka:
بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ
“Bahkan semoga kalianlah yang mendapatkan kematian dan laknat!”
Mendengar istrinya emosi, bersabdalah Nabi ﷺ:
يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.”
‘Aisyah berkata:
أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟
“Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?”
Beliau ﷺ menjawab:
قُلْتُ:
“Mereka sudah kujawab:
وَعَلَيْكُمْ
“Semoga kalian juga mendapatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis ini, Nabi ﷺ mengajarkan tentang kelembutan. Nabi ﷺ mengingatkan untuk menjauhi kekasaran, kepada siapa pun, kepada musuh sekalipun.
Nah, kalau kepada seorang kafir saja dilarang berbuat kasar, apalagi kepada saudara seiman!
Kekasaran membuat orang lain jauh dan tidak simpati. Sebaliknya, kelembutan membuat orang lain dekat dan menaruh simpati.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin bercerita bahwa suatu hari, seorang petugas hisbah melewati seorang petani yang sedang menggiring untanya sambil bernyanyi dan ketika itu sedang dikumandangkan azan Magrib.
Petani tadi bernyanyi dalam keadaan tidak sadar bahwa azan sedang dikumandangkan. Lalu petugas hisbah tadi mengucapkan perkataan keras kepadanya. Maka, petani itu pun berkata kepadanya:
سوف أغني وأستمر في الغناء، وإذا ما ذهبت فالعصا لمن عصا
“Aku akan tetap bernyanyi dan terus bernyanyi. Jika engkau tidak pergi, maka tongkat ini bagi orang yang tidak mau pergi!”
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
يقول هذا الكلام: بسبب أنه جاءه بعنف فذهب صاحب الحسبة إلى الشيخ القاضي وقال له:
“Petani itu mengucapkan perkataan itu, karena petugas hisbah tadi datang kepadanya dengan kasar. Lalu petugas hisbah itu pergi ke seorang tua yang merupakan hakim. Ia berkata kepadanya:
أنا ذهبت لفلان وسمعته يغني على إبله والمؤذن يؤذن المغرب ونصحته لم يستجب.
“Aku pergi ke fulan dan kudengar ia bernyanyi untuk untanya, padahal muazin sedang mengumandangkan azan. Aku nasihati ia, tapi ia tidak menggubrisnya.”
Lantas, apa reaksi hakim tersebut mendengar perkataan petugas hisbah itu?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin melanjutkan ceritanya:
فلما كان من الغد ذهب الشيخ القاضي إلى مكان صاحب الإبل في الوقت نفسه فلما أذن جاء إلى الفلاح وقال له:
“Keesokan harinya, hakim itu pergi ke tempat pemilik unta itu di waktu yang sama. Tatkala dikumandangkan azan, hakim itu mendatangi petani itu dan berkata kepadanya:
يا أخي أذن المؤذن فعليك أن تذهب وتصلي فإن الله يقول:
“Saudaraku, muazin telah mengumandangkan azan. Hendaknya engkau pergi dan melaksanakan salat, karena sesungguhnya Allah telah berfirman:
(وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى)
“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta kepadamu rezeki, justru Kami lah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
Lantas, apa reaksi si petani mendengar perkataan hakim itu?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin melanjutkan ceritanya:
فقال صاحب الإبل:
“Petani itu pun berkata:
جزاك الله خيرًا
“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan!”
ووضع العصا التي يسوق بها الإبل وتوضأ ومشى معه
Ia meletakkan tongkat yang ia gunakan untuk menggiring unta, lalu ia berwudu dan berjalan bersama hakim tadi.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin)
Setelah menceritakan kisah tadi, Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ماذا حصل؟ حصل المقصود. أما الأول: لو تمادى معه لحصل الشر وترك الخير، ولكن الثاني: أتاه بالتي هي أحسن فانقاد تمامًا
“Apa yang terjadi? Terjadilah apa yang diinginkan. Adapun orang pertama, kalau ia terus mengotot, maka akan terjadi keburukan dan petani itu akan meninggalkan kebaikan. Sedangkan orang yang kedua, ia mendatangi petani itu dengan cara yang baik sehingga ia pun benar-benar patuh.”
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah tadi?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فلذلك أقول: إن بعض طلبة العلم يكون عندهم غيرة لكن لا يحسنون التصرف، والواجب أن الإنسان يكون في تصرفاته على علم وبصيرة، وعلى قدر كبير من الحكمة. نسأل الله للجميع التوفيق
“Karenanya, kukatakan bahwa sebagian penuntut ilmu memiliki semangat membela agama, tapi tidak memiliki tindak-tanduk yang baik. Yang wajib adalah seseorang dalam tindak-tanduknya mesti berdasarkan ilmu dan basirah serta hikmah yang besar. Kita memohon kepada Allah taufik untuk kita semua.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin)
Siberut, 17 Jumada Ats-Tsaniyah 1446
Abu Yahya Adiya






