“Kalau kalian menolak kerasulan Muhammad ﷺ, maka kalian telah benar-benar mencela Allah!”
Itulah perkataan Imam Ibnul Qayyim kepada seorang pemuka Yahudi dalam suatu dialog.
Pemuka Yahudi itu terkejut lalu berkata kepada beliau:
مِثْلُكَ يَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ!
“Orang seperti Anda mengucapkan perkataan demikian?!”
Imam Ibnul Qayyim menyebutkan alasan dari perkataan beliau:
Kalau memang Muhammad ﷺ itu raja yang zalim dan pendusta yang mengaku sebagai rasul Allah selama 23 tahun dan ajarannya sudah tersebar kemana-mana melewati tanah kelahirannya, maka ada dua kemungkinan: Allah mengetahui itu atau tidak mengetahui itu.
Kalau memang kaum Yahudi menyatakan bahwa Allah tidak mengetahui itu, maka sungguh, mereka telah mencela Allah dengan celaan yang parah. Sebab, bagaimana bisa Tuhan memliliki sifat tidak tahu alias bodoh?!
Namun, kalau mereka menyatakan bahwa Allah mengetahui itu, maka ada dua kemungkinan: Allah sanggup menghentikan orang yang mengaku rasul tersebut atau tidak sanggup menghentikannya.
Kalau mereka menyatakan bahwa Allah tidak sanggup menghentikannya, maka sungguh, mereka telah mencela Allah dengan celaan yang parah. Sebab, bagaimana bisa Tuhan memliliki sifat tidak kuasa alias lemah?!
Namun, kalau mereka menyatakan bahwa Allah sanggup menghentikannya, tetapi Allah membiarkannya menyebarkan ajarannya yang dusta-menurut mereka-dan membiarkannya memperlihatkan berbagai mukjizat dan kelebihannya, maka sungguh mereka telah mencela Allah dengan celaan yang parah. Sebab, bagaimana bisa Tuhan membiarkan kesesatan dan kedustaan sehingga itu menyebar di mana-mana lalu meracuni hamba-hamba-Nya?!
Hujah yang tegas dan telak. Setelah mendengar hujah seperti itu, apa reaksi pemuka Yahudi itu?
Pemuka Yahudi itu berkata:
مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَفْعَلَ اللَّهُ هَذَا بِكَاذِبٍ مُفْتَرٍ، بَلْ هُوَ نَبِيٌّ صَادِقٌ مَنِ اتَّبَعَهُ أَفْلَحَ وَسَعِدَ.
“Tidak mungkin Allah melakukan itu terhadap seorang pendusta dan mengada-ada. Bahkan ia (Muhammad) adalah nabi yang benar. Siapa yang mengikutinya, maka ia akan beruntung dan bahagia.”
Maka Imam Ibnul Qayyim pun berkata kepadanya:
فَمَا لَكَ لَا تَدْخُلُ فِي دِينِهِ؟
“Kalau begitu, kenapa Anda tidak masuk ke dalam agamanya?”
Pemuka Yahudi itu berkata:
إِنَّمَا بُعِثَ لِلْأُمِّيِّينَ الَّذِينَ لَا كِتَابَ لَهُمْ، وَأَمَّا نَحْنُ فَعِنْدَنَا كِتَابٌ نَتَّبِعُهُ.
“Sesungguhnya ia diutus kepada kaum buta huruf yang tidak memiliki kitab suci. Adapun kami, kami memiliki kitab suci yang kami ikuti.”
Kisah percakapan itu disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Hidayah Al-Hayaaraa Fii Ajwibah Al-Yahudi wa An-Nashara.
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari kisah tersebut:
1. Salah satu bentuk dakwah kepada orang-orang kafir yaitu dengan mendebat mereka. Seperti yang dicontohkan oleh Imam Ibnul Qayyim tadi.
Allah berfirman:
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
“Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.” (QS. Al-‘Ankabuut: 46)
2. Kaum Yahudi sangat mengenal sosok Nabi Muhammad ﷺ.
Sebagaimana perkataan pemuka Yahudi tadi:
بَلْ هُوَ نَبِيٌّ صَادِقٌ مَنِ اتَّبَعَهُ أَفْلَحَ وَسَعِدَ.
“Bahkan ia (Muhammad) adalah nabi yang benar. Siapa yang mengikutinya, maka ia akan beruntung dan bahagia.”
Dan sebagaimana telah Allah kabarkan:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 146)
Imam Al-Qurthubi berkata:
وَرُوِيَ أَنَّ عُمَرَ قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ:
“Dan diriwayatkan bahwa ‘Umar berkata kepada ‘Abdullah bin Salam:
أَتَعْرِفُ مُحَمَّدًا ﷺ كَمَا تَعْرِفُ ابْنَكَ؟
“Apakah engkau mengenal Muhammad ﷺ seperti engkau mengenal anakmu?”
فَقَالَ:
‘Abdullah bin Salam menjawab:
نَعَمْ وَأَكْثَرَ، بَعَثَ اللَّهُ أَمِينَهُ فِي سَمَائِهِ إِلَى أَمِينِهِ فِي أَرْضِهِ بِنَعْتِهِ فَعَرَفْتُهُ، وَابْنِي لَا أَدْرِي مَا كَانَ مِنْ أُمِّهِ
“Ya, bahkan lebih banyak lagi. Allah telah mengutus makhluk kepercayaan-Nya di langit-Nya kepada orang kepercayaan-Nya di bumi-Nya dengan sifat-sifatnya, karena itu aku pun mengenalnya. Sedangkan anakku, aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh ibunya.” (Al-Jami’ Liahkaam Al-Quran)
Dan ‘Abdullah bin Salam adalah seorang pemuka Yahudi.
3. Di antara penyebab kaum Yahudi menolak kerasulan Nabi Muhammad ﷺ adalah fanatisme kebangsaan.
Nabi Muhammad ﷺ adalah orang Arab, bukan berasal dari bangsa Yahudi. Sedangkan kaum Yahudi menganggap bahwa mereka adalah bangsa yang paling mulia. Makanya, mereka pun menolak ajaran beliau.
Karena itu, siapa yang menolak kebenaran karena yang membawanya bukanlah orang yang satu bangsa, satu suku, atau satu golongan dengannya, maka ia telah menyerupai kaum Yahudi.
Siberut, 19 Rabi’ul Awwal 1445
Abu Yahya Adiya






