‘Melepas’ Ali dan Asy-Syafi’i

‘Melepas’ Ali dan Asy-Syafi’i

“Tidaklah seseorang lebih mengutamakan diriku daripada Abu Bakar dan ‘Umar-semoga Allah meridai keduanya-kecuali aku menderanya sebagai hukuman terhadap orang yang membuat kedustaan.” (As-Sunnah)

Demikianlah pernyataan ‘Ali bin Abi Thalib tentang Abu Bakar dan ‘Umar. Adapun kaum Syiah, mereka menyatakan:

نأمر كبارنا وصغارنا بسبهما والبراءة منهما

“Kami menyuruh orang-orang tua dan anak-anak kecil di antara kami untuk mencela keduanya dan berlepas diri dari keduanya.” (Bihar Al-Anwar)

Apakah sama sikap ‘Ali bin Abi Thalib dan Syiah dalam hal ini?

Usai perang Jamal, ‘Ali bin Abi Thalib menemui ‘Aisyah lalu berkata kepadanya:

كَيْفَ أَنْتَ يَا أُمَّهْ؟

“Bagaimana kabarmu wahai ibu?”

‘Aisyah menjawab:

بِخَيْرٍ

“Baik.”

‘Ali berkata kepadanya:

يَغْفِرُ اللَّهُ لَكِ

“Semoga Allah mengampunimu.”

‘Aisyah menjawab:

وَلَكَ.

“Begitu juga dirimu.” (Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk)

Dan ‘Ashim bin Kulaib meriwayatkan dari ayahnya bahwa ia berkata:

انْتَهَيْنَا إِلَى عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَذَكَرَ عَائِشَةَ، فَقَالَ:

“Kami pernah sampai ke ‘Ali-semoga Allah meridainya-lalu ia menyebutkan ‘Aisyah kemudian berkata:

خَلِيْلَةُ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ.

“Kekasih Rasulullah ﷺ.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Imam Adz-Dzahabi mengomentari perkataan beliau dengan berkata:

وَهَذَا يَقُوْلُهُ أَمِيْرُ المُؤْمِنِيْنَ فِي حَقِّ عَائِشَةَ، مَعْ مَا وَقَعَ بَيْنَهُمَا – فَرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا –

“Inilah yang diucapkan oleh Amirulmukminin tentang ‘Aisyah bersamaan dengan adanya konflik antara keduanya. Semoga Allah meridai keduanya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ya, walaupun pernah ada konflik antara keduanya, ‘Ali tetap memuliakan dan mendoakan ‘Aisyah. Adapun kaum Syiah, Muhammad bin Husain An-Najafi Al-Qummi menyebutkan sikap mereka:

مما يدل على إمامة أئمتنا الاثني عشر، أن عائشة كافرة مستحقة للنار

“Di antara yang menunjukkan kepemimpinan imam-imam kita yang berjumlah dua belas orang yakni bahwa ‘Aisyah adalah kafir dan pantas masuk neraka.” (Al-Arba’in Fii Imamah Al-Aimmah Ath-Thahirin)

Apakah sama sikap ‘Ali bin Abi Thalib dan Syiah dalam hal ini?

Dan masih banyak lagi perbedaan sikap antara ‘Ali bin Abi Thalib dan Syiah.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

وَكَانَ الْإِجْمَاعُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِمَّنْ أَدْرَكْنَاهُمْ أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ، لَا يُجْزِئُ وَاحِدٌ مِنَ الثَّلَاثَةِ بِالْآخَرِ

“Kesepakatan para sahabat dan tabiin setelah mereka yang kami temui yaitu bahwa iman adalah perkataan, perbuatan, dan niat. Tidak sah salah satu dari yang tiga ini tanpa yang lainnya.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Ternyata Imam Asy-Syafi’i meyakini bahwa iman adalah keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Adapun pendapat sekte Asy’ariyyah tentang iman, disebutkan oleh Asy-Syahrastani:

الإيمان هو التصديق بالجنان. وأما القول باللسان والعمل بالأركان ففروعه

“Iman adalah membenarkan dengan hati. Adapun ucapan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan, maka itu adalah cabangnya.” (Al-Milal wa An-Nihal)

Apakah sama pendapat Imam Asy-Syafi’i dan sekte Asy’ariyyah dalam hal ini?

Imam Asy-Syafi’i berkata:

القَوْل فِي السّنة الَّتِي أَنا عَلَيْهَا وَرَأَيْت عَلَيْهَا الَّذين رَأَيْتهمْ مثل سُفْيَان وَمَالك وَغَيرهمَا الْإِقْرَار بِشَهَادَة أَن لَا إِلَه إِلَّا الله وَأَن مُحَمَّدًا رَسُول الله وَأَن الله على عَرْشه فِي سمائه

“Pendapat tentang sunah yang kupegang dan yang kulihat diyakini oleh orang-orang seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya yaitu bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas Arsy-Nya di langit-Nya.” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar)

Imam Asy-Syafi’i meyakini ketinggian Allah di atas Arsy. Adapun sekte Asy’ariyyah, mereka berpendapat:

وَلَا يُوصف الله سُبْحَانَهُ بالإتصال بالأشياء وَلَا الإنفصال وَلَا بالحلول فِيهَا وَلَا بِالْخرُوجِ مِنْهَا

“Allah tidak disifati dengan bersambung dengan sesuatu dan tidak pula berpisah dengannya, tidak disifati dengan masuk ke dalamnya dan tidak pula keluar darinya.” (At-Tauhid)

Artinya, menurut mereka, Allah tidak di atas, dan tidak di bawah, Dia tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam!

Apakah sama pendapat Imam Asy-Syafi’i dan sekte Asy’ariyyah dalam hal ini?

Dan masih banyak lagi perbedaan pendapat antara Imam Asy-Syafi’i dan sekte Asy’ariyyah.

Maka, jelaslah bahwa akidah ‘Ali bin Abi Thalib tidaklah sama dengan akidah Syiah, dan akidah Asy-Syafi’i tidaklah sama dengan akidah sekte Asy’ariyyah.

Karena itu, Ahlussunnah tidak rela kalau ‘Ali bin Abi Thalib dianggap berakidah Syiah. Sebagaimana Ahlussunnah pun tidak rela kalau Imam Asy-Syafi’i dianggap berakidah Asy’ariyyah.

Keduanya memiliki akidah yang lurus, akidah Islam yang sebenarnya yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah. Bukan akidah Syiah atau Asy’ariyyah,

Dan itulah yang pernah diutarakan oleh Al-Wazir Ibn Hubairah:

والله ما نترك أمير المؤمنين علي بن أبي طالب مع الرافضة نحن أحق به منهم، لأنه منا ونحن منه، ولا نترك الشافعي مع الأشعرية فإنا أحق به منهم

“Demi Allah, kita tidak akan meninggalkan Amirulmukminin ‘Ali bin Abi Thalib bersama Syiah Rafidhah. Kita lebih berhak atasnya daripada mereka. Sebab, ia termasuk kita dan kita pun mengikutinya. Dan kita tidak akan meninggalkan Asy-Syafi’i bersama Asy’ariyyah. Kita lebih berhak atasnya daripada mereka.” (Dzail Thabaqat Al-Hanabilah)

 

Siberut, 16 Jumada Ats-Tsaniyah 1446
Abu Yahya Adiya

 

Sumber:
1. Mausu’ah Mawaqif As-Salaf fii Al-‘Aqidah wa Al-Manhaj wa At-Tarbiyah karya Syekh Muhammad Al-Maghrawi.

2. https://www.fnoor.com/main/articles.aspx?article_no=23718