Kenapa Bisa Malas Ibadah?

Kenapa Bisa Malas Ibadah?

“Dan bila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa’: 142)

Demikianlah Allah mengabarkan sifat orang-orang munafik.

Apa yang menyebabkan mereka malas dan berat untuk salat?

Imam Ibnu Rajab berkata:

فكذلك القلب إنما يجد حلاوة الإيمان إذا سلم من أسقامه وآفاته فإذا سلم من مرض الأهواء المضلة والشهوات المحرمة وجد حلاوة الإيمان حينئذ

“Demikian pula hati. Sesungguhnya ia bisa mendapatkan manisnya iman jika selamat dari penyakitnya. Jika ia selamat dari penyakit hawa nafsu yang menyesatkan dan syahwat yang diharamkan, maka ia bisa mendapatkan manisnya iman ketika itu.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Jika hati seorang hamba sehat, maka ia akan merasakan manisnya iman dan manisnya ketaatan kepada Tuhannya. Itu kalau hatinya sehat, lantas bagaimana kalau hatinya sakit?

Imam Ibnu Rajab berkata:

ومتى مرض وسقم لم يجد حلاوة الإيمان

“Dan tatkala hatinya sakit, ia tidak bisa mendapatkan manisnya iman.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Dzun Nun berkata:

كما لا يجد الجسد لذة الطعام عند سقمه كذلك لا يجد القلب حلاوة العبادة مع الذنوب

“Sebagaimana jasad tidak bisa merasakan lezatnya makanan tatkala sakit, maka begitu pula hati tidak bisa merasakan lezatnya ibadah tatkala ada dosa.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Jika dosa menyelimuti hati seorang hamba, maka hatinya tidak akan merasa nikmat ketika beribadah kepada-Nya.

Wuhaib bin Al-Ward ditanya:

هل يجد طعم العبادة من يعصي الله؟

“Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah akan merasakan manisnya ibadah?”

Ia menjawab:

لا، ولا من هم بالمعصية.

“Tidak, dan tidak juga orang yang bertekad untuk bermaksiat.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Dan kalau seorang hamba sudah tidak merasakan manisnya ibadah kepada-Nya, apakah ia akan bersemangat untuk beribadah kepada-Nya?

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata:

وَمِنْهَا: أَنَّهَا تُضْعِفُ الْقَلْبَ عَنْ إِرَادَتِهِ، فَتُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ

“Di antara bahaya maksiat yaitu maksiat akan melemahkan hati untuk melakukan kebaikan dan menguatkan keinginan untuk melakukan kemaksiatan.” (Ad-Dau wa Ad-Dawa’)

Kalau seseorang sudah bergelimang maksiat, maka makin kuatlah keinginannya untuk terus bermaksiat dan makin lemahlah keinginannya untuk beribadah dan bertobat.

Karena dosa yang ada pada dirimu, engkau jadi tidak bisa merasakan nikmat dari puasamu dan salatmu.

Karena dosa yang ada pada dirimu, engkau jadi merasa berat dan malas untuk beribadah kepada Tuhanmu.

 

Siberut, 13 Rabi’ul Awwal 1446

Abu Yahya Adiya