Haji Anak, Pahala dan Pelajaran Hidup

Haji Anak, Pahala dan Pelajaran Hidup

Suatu hari, Nabi ﷺ bertemu dengan serombongan pengendara di Rauḥā‘, lalu beliau bertanya:

مَنِ الْقَوْمُ؟

“Siapakah kalian?”

Mereka menjawab:

الْمُسْلِمُونَ

“Muslimin.”

Mereka bertanya:

مَنْ أَنْتَ؟

“Siapa engkau?”

Beliau ﷺ menjawab:

رَسُولُ اللهِ

“Rasulullah.”

Tiba-tiba seorang wanita menghampiri beliau dengan menggendong anaknya, kemudian ia bertanya:

أَلِهَذَا ‌حَجٌّ؟

“Apakah ada haji bagi anak ini?”

Beliau ﷺ menjawab:

نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ

“Ya, dan kamu juga mendapatkan pahala atasnya.” (HR. Muslim)

Rauḥā‘ adalah daerah antara Mekah dan Madinah. Percakapan ini terjadi pada haji wadak

Apa maksud jawaban “ya” dari Nabi ﷺ?

Imam Al-Qanāzi’ī menjelaskan:

يُرِيدُ صلى الله عليه وسلم بقَوْلهِ: “نَعَمْ”، أَيْ: إنَّهُ يُؤْجَرُ الصَّبِي عَلَى حَجِّهِ كَمَا يُؤْجَرُ فِي صَدَقَتِهِ إذا تَصَدَّقَ بِهَا، وعَلَى زَكَاةِ مَالِهِ الَّتي تُؤْخَذُ مِنْهُ إذا وَجَبتْ عَلَيْهِ، وعَلَى وَصِيَّتِهِ التّي يُوصِي بِهَا قَبْلَ بُلُوغِهِ فتخْرَجُ عَنْهُ بَعْدَ مَوْتهِ.

“Maksud beliau dengan perkataan ‘Ya’ adalah bahwa anak kecil itu mendapatkan pahala atas hajinya, sebagaimana ia mendapatkan pahala atas sedekah yang ia keluarkan, atas zakat harta yang diambil dari hartanya apabila telah wajib baginya, dan atas wasiat yang ia buat sebelum balig lalu ditunaikan setelah kematiannya.” (Tafsīr Al-Muwaṭṭa‘)

Apa maksud perkataan “kamu juga mendapatkan pahala atasnya”?

Imam Al-Qanāzi’ī menjelaskan:

ومَعْنَى قَوْلهِ للمَرْأةِ: “ولَكِ أَجْر”، يَعْنِي: أَنَّهَا تُؤْجَرُ فِيمَا تَمَوَّنَتهُ مِنْ مُعَاوَنَتِهَا لَهُ عَلَى أَعْمَالِ الحَجِّ، غَيْرَ أَنَّ فَرْضَ الحَجّ بَاقٍ عَلَيْهِ إذا بَلَغَ، وكَانَ مِنْ أَهْلِ الاسْتَطِاعَةِ

“Makna perkataan beliau kepada wanita tersebut, ‘kamu juga mendapatkan pahala atasnya’, yaitu ia akan diberi pahala atas apa yang ia kerahkan untuk membantu anak tersebut dalam melakukan amalan haji. Hanya saja, kewajiban haji tetap berlaku padanya jika ia sudah balig dan mampu melaksanakannya.” (Tafsīr Al-Muwaṭṭa‘)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Hendaknya seseorang bertanya tentang orang yang ia temui, jika memang dibutuhkan.

Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

لأن الرسول ﷺ سأل:

“Sebab, Rasul ﷺ bertanya:

من القوم؟

“Siapa kalian?”

يخشى أن يكونوا من العدو فيخونوا أو ويغدروا، أما إذا لم تدع الحاجة إلى ذلك فلا حاجة أن تسأل عن الشخص، فتقول:

Beliau khawatir jika mereka adalah musuh yang mungkin berkhianat atau melakukan tipu daya. Adapun jika tidak dibutuhkan untuk bertanya, maka tidak perlu engkau bertanya tentang seseorang dengan berkata:

من أنت؟

“Siapa engkau?”

لأن هذا قد يكون داخلاً فيما لا يعنيك و من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه لكن إذا دعت الحاجة فاسأل حتى تكون على بينة من الأمر وعلى بصيرة.

Sebab, hali bisa termasuk dalam perkara yang tidak bermanfaat bagimu, dan di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak berguna baginya. Namun, apabila ada kebutuhan, maka bertanyalah agar engkau berada di atas kejelasan dan memahami keadaan dengan benar.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣalīḥīn)

 

  1. Hendaknya seorang muslim bangga dengan keislamannya, sebagaimana ditunjukkan oleh para sahabat Nabi. Ketika ditanya tentang identitas mereka, mereka tidak menjawab dengan menyebutkan nama suku mereka, melainkan dengan menyebutkan nama agama mereka.

 

  1. Hendaknya seseorang memanfaatkan keberadaan orang yang berilmu dan bertanya kepadanya selagi memungkinkan.

Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

لأن هؤلاء القوم لما أخبرهم رسول الله ﷺ أنه رسول الله، جعلوا يسألونه، فينبغي للإنسان أن يغتنم فرصة وجود العالم من أجل أن يسأله عما يشكل عليه

“Sebab, tatkala orang-orang itu dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ bahwa beliau adalah rasul Allah, mereka langsung bertanya kepada beliau. Maka, hendaknya seseorang memanfaatkan kesempatan adanya orang yang berilmu, agar dapat bertanya kepadanya tentang perkara yang rumit baginya.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣalīḥīn)

 

  1. Bolehnya seorang wanita bertanya kepada pria jika memang dibutuhkan.

 

  1. Suara wanita bukanlah aurat.

Imam Ibnu Hubairah berkata:

في هذا الحديث من الفقه أن صوت المرأة ليس بعورة

“Dalam hadis ini terdapat kandungan fikih yakni suara wanita bukanlah aurat.” (Al-Ifṣāḥ ’an Ma’ānī Aṣ-Ṣiḥāḥ)

Seandainya suara wanita adalah aurat, tentu Nabi ﷺ menegur wanita tadi untuk tidak berbicara di hadapan beliau.

 

  1. Seorang wanita boleh mengurus haji anaknya, baik laki-laki maupun perempuan.

 

  1. Sahnya haji yang dilakukan oleh anak kecil dan ia mendapatkan pahalanya.

Imam An-Nawawī berkata:

فِيهِ حُجَّةٌ لِلشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَجَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ أَنَّ حَجَّ الصَّبِيِّ مُنْعَقِدٌ صَحِيحٌ يُثَابُ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ لَا يُجْزِيهِ عَنْ حَجَّةِ الْإِسْلَامِ بَلْ يَقَعُ تَطَوُّعًا وَهَذَا الْحَدِيثُ صَرِيحٌ فِيهِ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَصِحُّ حَجُّهُ قَالَ أَصْحَابُهُ وَإِنَّمَا فَعَلُوهُ تَمْرِينًا لَهُ لِيَعْتَادَهُ فيفعله إِذَا بَلَغَ وَهَذَا الْحَدِيثُ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ

“Dalam hadis ini terdapat dalil bagi Asy-Syāfi’ī, Mālik, Aḥmad, dan mayoritas ulama bahwa haji yang dilakukan anak kecil itu diakui, sah, dan ia mendapatkan pahala, meskipun haji tersebut tidak menggugurkan kewajiban haji Islam, melainkan dihitung sebagai ibadah sunah. Hadis ini dengan tegas menunjukkan demikian. Adapun Abu Ḥanīfah berpendapat bahwa hajinya tidak sah. Para pengikutnya menerangkan bahwa haji anak kecil itu hanya dilakukan sebagai bentuk latihan agar ia terbiasa sehingga nanti ia akan melakukannya lagi setelah balig. Hadis ini membantah mereka.” (Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin Al-Ḥajjāj)

Bahkan, Al-Qadjhi Iyad sampai berkata:

ولا خلاف بين أئمة العلم فى جواز الحج بالصبيان، إلا قوماً من أهل البدع منعوه، ولا يلتفت لقولهم. وفعل النبى ﷺ أيضاً – لذلك وإجماع الأئمة والصحابة يرد قولهم

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai bolehnya membawa anak-anak untuk berhaji, kecuali sekelompok ahli bidah melarang demikian. Namun, pendapat mereka tidak perlu diperhatikan. Perbuatan Nabi dalam hal itu, kesepakatan umat dan para sahabat membantah mereka.” (Ikmāl Al-Mu’lim bi Fawāid Muslim)

Imam Ibnu Al-Jauzī berkata:

هَذَا الحَدِيث صَرِيح فِي صِحَة حج الصَّبِي. وَعِنْدنَا أَن إِحْرَامه صَحِيح، فَإِن كَانَ مُمَيّزا صَحَّ إِحْرَامه بِإِذن وليه، وَإِن كَانَ غير مُمَيّز أحرم عَنهُ الْوَلِيّ وَصَارَ محرما بِإِحْرَام الْوَلِيّ، وَفعل عَنهُ مَا لَا يَتَأَتَّى فعله مِنْهُ، وَهَذَا قَول مَالك وَالشَّافِعِيّ.

“Hadis ini dengan tegas menunjukkan keabsahan haji anak kecil. Menurut kami, ihramnya sah. Jika ia mumayiz, maka ihramnya saha dengan izin walinya. Jika ia belum mumayiz, maka walinya melakukan ihram atas namanya dan anak itu menjadi muhrim dengan ihram walinya, dan wali melakukan atas nama anak tersebut apa yang tidak dapat ia lakukan. Ini adalah penapat Mālik dan Asy-Syāfi’ī.” (Kasyf Al-Musykil min Ḥadīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥain)

 

  1. Bolehnya memberikan jawaban lebih dari pertanyaan yang diajukan.

Imam Ibnu Hubairah berkata:

وفيه أن رسول الله ﷺ لما سألته عن شيء أجاب وضم إليه غيره. فقال: (نعم، ولك أجر).

“Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ ketika ditanya oleh wanita itu tentang sesuatu, beliau memberikan jawaban dan menambahkan selainnya pada jawaban tersebut.” (Al-Ifṣāḥ ’an Ma’ānī Aṣ-Ṣiḥāḥ)

 

  1. Siapa yang menolong orang lain dalam kebaikan, maka ia mendapatkan pahala dari kebaikan tersebut.

Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

لأن هذه المرأة سوف تقوم برعاية ولدها إذا أحرم، وفي الطواف، وفي السعي، وفي الوقوف، وكل شيء

“Sebab, wanita ini akan mengurus anaknya jika ia melakukan ihram, tawaf, sai, wukuf, dan seluruh amalan haji.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣalīḥīn)

 

Siberut, 20 Jumādā Aṡ-Sāniyah 1447

Abu Yahya Adiya