’Umar dan “Bidah yang Baik”
Para ahli bidah melegalkan perbuatan bidah yang mereka lakukan dengan perkataan ’Umar bin Al-Khaṭṭāb. Perkataan ’Umar itu yakni: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ “Sebaik-baik bidah adalah ini.”
Para ahli bidah melegalkan perbuatan bidah yang mereka lakukan dengan perkataan ’Umar bin Al-Khaṭṭāb. Perkataan ’Umar itu yakni: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ “Sebaik-baik bidah adalah ini.”
Suatu hari ’Uṡmān bin ’Affān melaksanakan salat ketika safar. Ketika itu, ia menyempurnakan salat tanpa mengqasarnya. Ada yang bertanya kepadanya: أَلَسْتَ قَصَرْتَ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ؟
“Kenapa orang membaca Al-Quran dilarang?!” “Kenapa orang membaca salawat dianggap sesat?!” “Berzikir adalah kebaikan, kok bisa-bisanya dianggap sebagai penyimpangan?!” Mungkin itulah reaksi para pelaku bidah
“Kalau memang ini bidah, kenapa banyak orang yang melakukannya?! Apakah Anda yang benar lalu mereka semua sesat dan salah?!” Itulah salah satu argumen para ahli