Keluar dari agama atau kehilangan nyawa. Itulah pilihan yang diberikan raja kepada mereka.
Mereka pun memilih lari menyelamatkan agama mereka.
Mereka lari ke luar kota. Mereka lari dari kejaran raja dan bala tentaranya. Mereka memasuki sebuah gua lalu bersembunyi di dalamnya.
Setelah memasuki gua, mereka merasa mengantuk lalu tertidur.
Mereka tidur begitu lama dan sangat lama. Bukan cuma berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sampai beratus-ratus tahun lamanya, yaitu sampai 309 tahun lamanya!
Itulah kejadian menakjubkan yang terjadi pada para pemuda beriman yang dikenal dengan nama Ashabul Kahfi.
Mereka mengabdikan diri mereka di jalan dakwah fi sabilillah. Mereka mengajak kaum mereka agar beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya.
Namun, sayangnya, kaum mereka menolak dakwah mereka, bahkan raja Diqyanus yang berkuasa ketika itu sampai mengancam mereka.
Setelah 309 tahun lamanya mereka tidur, Allah pun membangunkan mereka.
Mereka merasa lapar, lalu mereka menunjuk salah seorang dari mereka untuk belanja makanan di kota dengan membawa uang perak yang mereka bawa.
Pergilah salah seorang dari mereka ke kota untuk belanja.
Sesampainya di kota, ia sangat kaget melihat perubahan yang ada. Ia pun belanja makanan kepada seorang pedagang.
Ketika ia mengeluarkan uang yang ia bawa, ternyata pedagang itu terkejut. Sebab, uang yang dibawa si pemuda itu adalah uang yang sudah tidak terpakai lagi di masa itu. Itu uang yang sudah lewat ratusan tahun lamanya!
Si pemuda bertanya tentang raja Diqyanus yang dulu pernah mengancam membunuh ia dan teman-temannya. Ternyata ia mendapat jawaban bahwa raja itu sudah lama meninggal. Sudah ratusan tahun ia meninggal!
Si pedagang pun bertanya kepada si pemuda tentang siapa dirinya. Si pemuda itu pun menceritakan tentang dirinya dan teman-temannya. Lalu terkejutlah pedagang itu dan hebohlah orang-orang yang ada di pasar itu.
Berita itu sampai ke telinga raja di masa itu, dan ia seorang muslim yang saleh.
Maka sang raja pun mengutus bawahannya agar menjemput pemuda itu.
Setelah mendengar cerita dari pemuda itu, maka raja beserta bala tentaranya bersama pemuda itu bergerak menuju gua tempat persembunyian para pemuda Ashabul Kahfi.
Mereka sampai ke gua. Lalu raja mengucapkan salam kepada para pemuda Ashabul Kahfi, dan memeluk mereka. Mereka pun meyambut kedatangan raja dan rombongannya dengan penuh kegembiraan. Mereka tidak menyangka keadaan sudah berubah tidak seperti dulu lagi.
Setelah itu mereka berpamitan kepada raja dan kembali lagi ke dalam gua lalu mereka pun meninggal dunia.
Allah berfirman:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
“Dan demikian pula ketika kaum mereka berselisih tentang urusan mereka, Kami tampakkan mereka kepada kaum mereka, agar mereka tahu, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Lalu mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas gua mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka.” (QS. Al-Kahfi: 21)
Kaum mereka yaitu penduduk kota para pemuda Ashabul Kahfi itu.
berselisih tentang urusan mereka yaitu mereka berbeda pendapat tentang hari kebangkitan.
Sebagian mereka berpendapat bahwa yang dibangkitkan ketika hari kiamat adalah roh manusia dan juga jasadnya.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dibangkitkan ketika hari kiamat adalah rohnya saja tanpa jasadnya.
Kami tampakkan mereka kepada kaum mereka yaitu Allah tampakkan para pemuda Ashabul Kahfi itu kepada penduduk kota itu. Sebagai tanda kekuasaan-Nya.
agar mereka tahu, bahwa janji Allah itu benar dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya artinya Allah memperlihatkan para pemuda Ashabul Kahfi kepada penduduk kota itu, agar jelaslah bagi mereka bahwa kebangkitan manusia setelah kematian itu benar dan kebangkitan itu adalah kebangkitan jasad dan roh secara bersamaan.
Lalu mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas gua mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.”
Imam Ibnu Katsir berkata:
أَيْ: سُدُّوا عَلَيْهِمْ بَابَ كَهْفِهِمْ، وَذَرُوهُمْ عَلَى حَالِهِم
“Maksudnya, tutuplah pintu gua mereka dan biarkanlah mereka dalam keadaan itu.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Artinya, setelah para pemuda Ashabul Kahfi meninggal dalam keadaan mendapatkan penghormatan dari raja dan penduduk kota itu, lalu beberapa orang mengusulkan agar pintu gua ditutup dan jenazah mereka dibiarkan disemayamkan di situ.
Orang yang berkuasa atas urusan mereka. Imam Ibnu Katsir berkata:
وَالظَّاهِرُ أَنَّ الَّذِينَ قَالُوا ذَلِكَ هُمْ أَصْحَابُ الْكَلِمَةِ وَالنُّفُوذ
“Yang tampak, orang-orang yang berkata demikian adalah para penguasa yang berpengaruh di kalangan mereka.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka yaitu di sekitar tempat mereka meninggal.
Syekh As-Sa’di berkata:
أي:نعبد الله تعالى فيه، ونتذكر به أحوالهم، وما جرى لهم
“Maksud mereka yaitu kami akan beribadah kepada Allah di situ, dan dengan itu kami bisa mengingat keadaan mereka dan apa yang terjadi pada diri mereka.” (Taisir Al-Kariim Ar-Rahmaan)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:
- Ashabul Kahfi adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan kemampuan-Nya membangkitkan manusia yang telah mati.
- Kebangkitan manusia dari kubur di hari kiamat adalah kebangkitan roh dan jasadnya.
- Membangun tempat ibadah di kubur termasuk kebiasaan umat terdahulu.
Dan itu terlarang dalam Islam. Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang saleh di antara mereka sebagai tempat ibadah. Dan ingatlah, jangan kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu.” (HR. Muslim)
Dan sayangnya, kebiasaan terlarang itu terjadi di tengah-tengah kaum muslimin zaman ini.
Syekh Abu Bakar Al-Jazairi berkata:
إذ قد بنى المسلمون على قبور الأولياء والصالحين المساجد. بعد القرون المفضلة حتى أصبح يندر وجود مسجد عتيق خال من قبر أو قبور
“Sebab, setelah generasi yang mulia (sahabat, tabiin dan tabiit tabiin), kaum muslimin banyak membangun tempat ibadah di sekitar kuburan para wali, dan orang-orang saleh, sehingga jarang ada masjid lama yang kosong dari kubur atau kuburan.” (Aisar At-Tafaasiir)
- Kalau umat terdahulu bisa terjatuh pada kemusyrikan, padahal mereka memiliki kitab suci, maka begitu pula umat ini.
Umat ini pun bisa saja terjatuh pada kemusyrikan, walaupun mereka memiliki kitab suci, kalau memang mereka tidak membacanya dan memahaminya.
Siberut, 13 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya DR. Saleh Al-Fauzan
- Aisar At-Tafaasiir likalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir karya Syekh Abu Bakar Al-Jazairi
- Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsier
- Taisir Al-Kariim Ar-Rahmaan karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di






