Nabi ﷺ bersabda:
قَالَ اللَّه تَعَالَى:
“Allah Ta’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعوْتَني وَرَجوْتَني غَفَرْتُ لَكَ عَلى مَا كَانَ مِنكَ وَلاَ أُبَالِي،
“Hai anak Adam, sesungguhnya engkau selama masih berdoa kepada-Ku dan mengharapkan rahmat-Ku, pastilah Aku mengampuni dosamu bagaimana pun dosa itu dan Aku tidak peduli.
يَا ابْنَ آدمَ، لَوْ بَلغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السماءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَني غَفَرتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي،
Hai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni dan Aku tidak peduli.
يَا ابْنَ آدَم، إِنَّكَ لَو أَتَيْتَني بِقُرابٍ الأَرْضِ خَطَايا، ثُمَّ لَقِيْتَني لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً، لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Hai anak Adam, seandainya engkau datang pada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, pastilah Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Doa itu harus disertai dengan harapan. Harapan akan dikabulkan doanya. Harapan akan dipenuhi permintaannya.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
أنه لابد مع الدعاء من رجاء، وأما القلب الغافل اللاهي الذي يذكر الدعاء على وجه العادة فليس حريّاً بالإجابة
“Berdoa juga harus disertai harapan. Adapun hati yang lengah dan lalai yaitu yang mengucapkan doa karena kebiasaan, maka itu tidak pantas dikabulkan.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)
Mengucapkan doa karena kebiasaan seperti seseorang mengucapkan doa agar diberikan kesehatan. Ketika ia mengucapkan itu, tidak muncul di dalam hatinya harapan untuk mendapatkan kesehatan dan perasaan butuh pada pertolongan Allah. Ia mengucapkan itu semata-mata karena itu adalah kebiasaannya.
Dan itu sikap yang tidak pantas. Mengapa demikian?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
لأن الداعي محتاج فلابد أن يستحضر في قلبه ما احتاج إليه، وأنه مفتقر إلى الله عزّ وجل.
“Sebab, orang yang berdoa itu adalah orang yang membutuhkan, karena itu ia harus menghadirkan dalam hatinya apa yang ia butuhkan dan bahwasanya ia amat membutuhkan Allah.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)
- Sebesar apa pun dosa seseorang akan Allah ampuni jika ia bertobat dan menyesali kesalahannya. Karena itu, untuk apa berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah?
“Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas dalam mencelakakan diri mereka sendiri, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
- Besarnya keutamaan tauhid. Sebab, dengan tauhidlah seorang bisa mendapatkan ampunan Allah.
Karena itu, siapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik, maka ia akan mendapatkan ampunan Allah, tapi…
Ingat, engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikit pun!
Artinya engkau tidak berbuat syirik sama sekali, baik syirik besar maupun kecil! Mudahkah itu?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:
وهذا قيد عظيم قد يتهاون به الإنسان ويقول:
“Ini syarat yang agung dan kadang dianggap remeh oleh seseorang dengan berkata:
أنا غير مشرك
“Aku tidak berbuat syirik!”
وهو لايدري، فحُبُّ المال الذي يلهي عن طاعة الله، من الإشراك لقول النبي صلى الله عليه وسلم:
Padahal ia tidak tahu bahwa cinta harta yang menyebabkan lalai dari menaati Allah itu termasuk syirik, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْصَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْلَةِ
“Celakalah hamba Dirham. Celakalah hamba kain Khamishah. Celakalah hamba kain Khamilah.”
فسمّى النبي ﷺ من كان هذا همّه: عبداً لها.
Nabi ﷺ menyebut orang yang ambisinya semua itu (uang dan busana) sebagai hamba semua itu.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)
- Bantahan terhadap orang-orang Khawarij yang memvonis kafir para pelaku dosa besar selain syirik.
Sebab, hadis di atas menyebutkan bahwa siapa yang melakukan dosa selain syirik, sebanyak apa pun, bisa diampuni Allah kalau memang ia tidak melakukan syirik.
- Hendaknya seorang hamba mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan pertemuan dengan Allah.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فلابد من ملاقاة الله عزّ وجل، والنصوص في هذا كثيرة، فيؤخذ من ذلك: أنه يجب على الإنسان أن يستعد لملاقاة الله، وأن يعرف كيف يلاقي الله، هل يلاقيه على حال مرضيةٍ عند الله عزّ وجل، أو على العكس؟ ففتّش نفسك واعرف ما أنت عليه.
“Pasti akan ada pertemuan dengan Allah. Nas-nas yang menyebutkan itu amat banyak. Dari sini bisa diambil pelajaran yaitu wajib bagi setiap insan untuk mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah, dan mengetahui bagaimana ia bertemu dengan Allah. Apakah ia menemui-Nya dalam keadaan Dia ridai atau sebaliknya? Periksalah dirimu dan ketahuilah keadaanmu!” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)
Siberut, 13 Sya’ban 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Dr Saleh Al-Fauzan.
- Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.






