Nabi ﷺ bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Bersahurlah kalian” ini adalah perintah, sedangkan hukum asal mengerjakan perintah Nabi ﷺ adalah wajib. Namun, hukum sahur di sini adalah sunnah. Tidak wajib.
Karena, ada hadis lain yang memalingkan dari hukum wajib menuju sunah yaitu hadis yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menyambung puasa dua hari berturut-turut atau lebih tanpa sahur dan berbuka.
Imam An-Nawawi berkata:
وَأَجْمَعَ الْعُلَمَاء عَلَى اِسْتِحْبَابه ، وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ
“Para ulama telah sepakat atas disukainya sahur dan itu tidaklah wajib.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Walaupun sahur tidak wajib, tetaplah sahur. Karena, Nabi ﷺ telah memerintahkannya bahkan menyebutkan alasan perintahnya.
Apa alasannya?
“Karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.”
di manakah berkahnya itu berada?
Imam ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi berkata:
والبركة تشمل الوقت ومايتسحر به من مأْكول ومشروب
“Berkah di sini mencakup waktu sahur itu dan juga makanan serta minuman yang dijadikan santap sahur.” (‘Umdah Al-Ahkam Min Khair Kalam Al-Anam)
Artinya, waktu sahur adalah waktu yang penuh berkah. Dan makanan sahur adalah makanan yang penuh berkah.
Lantas apa saja keberkahan yang kita dapat dari waktu yang berkah itu? Apa saja keberkahan yang kita dapat dari makanan yang berkah itu?
- Dengan sahur kita akan giat, kuat dan semangat dalam berpuasa.
Imam An-Nawawi berkata:
وَأَمَّا الْبَرَكَة الَّتِي فِيهِ فَظَاهِرَةٌ ؛ لِأَنَّهُ يُقَوِّي عَلَى الصِّيَام ، وَيُنَشِّط لَهُ ، وَتَحْصُلُ بِسَبَبِهِ الرَّغْبَة فِي الِازْدِيَاد مِنْ الصِّيَام ؛ لِخِفَّةِ الْمَشَقَّة فِيهِ عَلَى الْمُتَسَحِّر
“Adapun berkah yang ada padanya, maka itu jelas. Sebab, sahur membuat seseorang kuat dan giat dalam berpuasa, dan karena sebab sahur pula tumbuh hasrat untuk memperbanyak puasa dikarenakan ringannya kendala dalam berpuasa bagi orang yang bersahur.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Ada lagi kah berkah yang akan kita dapatkan dengan sahur?
Ada, yaitu…
- Dengan sahur, kita sudah membedakan diri dengan kaum Ahli Kitab.
Nabi ﷺ bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)
Ibnu Daqiq Al-‘Ied berkata:
وَمِمَّا عُلِّلَ بِهِ اسْتِحْبَابُ السُّحُورِ: الْمُخَالَفَةُ لِأَهْلِ الْكِتَابِ، فَإِنَّهُ يَمْتَنِعُ عِنْدَهُمْ السُّحُورُ.
“Di antara alasan dianjurkannya sahur yaitu menyalahi Ahli Kitab. Sebab, sahur terlarang menurut mereka.” (Ihkam Al-Ahkam Syarh ‘Umdah Al-Ahkam)
Lalu ada lagikah berkah yang akan kita dapatkan dengan sahur?
Ada, yaitu…
- Dengan sahur seseorang berkesempatan mendapati waktu emas untuk meminta, berdoa, dan bertobat kepada Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ
“Rabb kita-Maha Suci Dia dan Maha Tinggi- turun ke langit dunia tatkala tersisa sepertiga malam terakhir seraya berfirman:
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Kukabulkan ia. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Kuberikan itu kepadanya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Kuampuni ia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau engkau merasa lisanmu begitu kotor dan tanganmu begitu ternoda oleh dosa, mintalah ampun kepada Allah di waktu sahur, niscaya Allah ampuni dosa-dosamu..
Dan kalau engkau memiliki hajat dalam urusan dunia maupun agama, berdoalah kepada-Nya ketika waktu sahur, niscaya Allah kabulkan permintaanmu..
Bukankah yang demikian menunjukkan bahwa waktu sahur adalah waktu emas dan sangat berharga?
Lalu masih adakah berkah yang akan kita dapatkan dengan sahur?
Ada, yaitu…
- Dengan sahur kita sudah menaati perintah Nabi ﷺ.
Ya, inilah berkah yang paling penting daripada yang sebelumnya.
Ketika engkau sahur, berarti engkau sudah menaati perintah nabimu. Dan kalau engkau sudah menaati perintah nabimu…
“Kalau kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk. ” (QS. An-Nur: 54)
Maukah kita mendapat petunjuk?
Maka, sahurlah. Carilah sebanyak mungkin berkah, tapi…
Ingat, hadirkan dalam hatimu ketika sahur bahwa engkau sedang menaati perintah nabimu dan dalam rangka mencari ganjaran dari Tuhanmu!
Hadirkan dan hayatilah itu. Jangan jadikan sahur sebagai kebiasaan dan rutinitas semata!
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ثم إنه ينبغي للإنسان حين تسحره أن يستحضر أنه يتسحر امتثالا لأمر الله ورسوله ويتسحر مخالفة لأهل الكتاب وكرها لما كانوا عليه ويتسحر رجاء البركة في هذا السحور ويتسحر استعانة به على طاعة الله حتى يكون هذا السحور الذي يأكله خيرا وبركة وطاعة
“Kemudian sepantasnya tatkala sahur seseorang menghadirkan dalam dirinya bahwa ia sahur karena menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, ia sahur dalam rangka menyalahi Ahli Kitab dan karena membenci perbuatan mereka dan ia sahur karena mengharap berkah yang ada dalam sahur itu dan ia sahur agar bisa menaati Allah. Yang demikian itu agar makanan sahur yang ia santap menjadi kebaikan, keberkatan, dan ketaatan.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Siberut, 25 Sya’ban 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- ‘Umdah Al-Ahkam Min Kalam Khair Al-Anam karya Imam ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi
- Taisirul ‘Allaam Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya ‘Abdullah Al-Bassam
- Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi.
- Syarh Riyadhus Shalihin karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin
- Ihkam Al-Ahkam Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Ibnu Daqiq Al-‘Ied.






