Setelah menyebutkan sifat orang-orang yang fasik dan merugi, Allah berfirman:
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Bagaimana kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Dia menghidupkan kalian, kemudian Dia mematikan kalian, lalu menghidupkan kalian kembali, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan?
Di sini Allah bertanya, tapi bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk mengingkari. Mengingkari orang-orang yang kafir kepada-Nya. Yakni, bagaimana bisa kalian menentang Allah, mendustakan-Nya, mengingkari-Nya, dan tidak mau beribadah kepada-Nya?!
Bagaimana pula kalian mengingkari kemampuan-Nya membangkitkan orang yang sudah mati?! Padahal, kalian dulu dalam keadaan mati, lalu Dia menghidupkan kalian.
Ya, sebelum ditiupkan ruh ke perut ibu kalian, kalian ini dianggap mati dan sama dengan benda mati. Lalu Dia menghidupkan kalian dengan ditiupkan ruh ke perut ibu kalian. Setelah itu, Dia mematikan kalian lalu menghidupkan kalian kembali.
Ya, setelah ruh ditiupkan ke perut ibu kalian, kalian pun hidup. Setelah kalian keluar dari perut ibu kalian, kalian pun hidup di alam dunia, tapi…
Tidak untuk selama-lamanya. Sebab, suatu saat Allah akan mematikan kalian lagi yaitu dengan mencabut ruh dari tubuh kalian. Kalau ruh sudah dicabut dari tubuh kalian, berarti hilanglah nyawa kalian dan matilah kalian.
Setelah kalian mati, Allah pun menghidupkan kalian lagi. Setelah kalian dikubur dan bercampur dengan tanah, Allah pun membangkitkan lagi kalian di alam yang baru, alam yang tidak kenal kata punah.
Setelah kalian menjadi tulang belulang yang hancur lumat, Allah pun membangkitkan lagi kalian di alam akhirat.
Setelah itu tidak ada lagi yang namanya kematian. Maka, berpikirlah, kepada siapa kalian dikembalikan?
Kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan. Ya, setelah Allah hidupkan untuk kedua kalinya, kalian semua akan kembali kepada-Nya.
Dia akan mengabarkan kepada kalian tentang apa saja yang telah kalian lakukan dan Dia juga yang akan membalasnya dengan sebaik-baik pembalasan.
Pelajaran yang dapat kita petik dari ayat ini:
- Celaan terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah dan mengingkari hari kebangkitan.
Mereka itu orang-orang yang tidak tahu diri. Sebab, bagaimana mungkin mereka menolak kekuasaan Allah, padahal mereka sendiri tahu bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu?!
Bagaimana mungkin mereka mengingkari kalau Allah dapat membangkitkan orang mati, padahal mereka sendiri tahu bahwa Allah pernah menghidupkan mereka dari keadaan mati?!
- Segala sesuatu yang tidak ada ruhnya dianggap mati, walaupun tanpa didahului adanya kehidupan. Seperti halnya kita dianggap mati sebelum ditiupkan ruh kepada kita.
Kalau demikian, kematian tidak mesti didahului oleh kehidupan. Oleh karena itu, Allah menyebutkan berhala-berhala dalam kitab-Nya:
أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ
“Mereka mati tidak hidup.” (QS. An-Nahl ayat 21)
Ya, mati. Padahal, apakah berhala-berhala itu sebelumnya hidup sehingga dikatakan mati?
- Janin jika keluar sebelum ditiupkan ruh, maka ia tidak dianggap hidup.
Oleh karena itu, ia tidak perlu dimandikan, tidak dikafani, tidak disalatkan, tidak mewarisi dan diwarisi. Sebab, itu benda mati, tidak berhak diperlakukan seperti makhluk hidup.
- Sempurnanya kekuasaan Allah.
Sebab, jasad yang mati ini setelah ditiupkan ruh, ia dapat hidup, bergerak, berbicara dan melakukan apa pun yang Allah kehendaki.
- Kebangkitan manusia setelah mati pasti terjadi.
- Seluruh makhluk akan kembali kepada Allah; mempertanggungjawabkan seluruh amalan yang telah dikerjakan.
Siberut, 30 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī.






