Surat Al-Baqarah Ayat  23-24

Surat Al-Baqarah Ayat  23-24

Setelah menyebutkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menuntut hamba-hamba-Nya untuk mengesakan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, Allah berfirman:

 

  1. وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kalian meragukan Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surat saja yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.

Ayat ini merupakan ayat tantangan. Tantangan bagi siapa? Bagi orang-orang kafir.

Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang serupa dengan Al-Qur‘an. Jika perlu, mereka dipersilakan memanggil siapa pun yang dapat menolong mereka, baik para ahli bahasa, sastrawan, maupun yang lainnya, untuk melaksanakan tantangan tersebut.

Seakan-akan Allah berkata kepada mereka, “Silakan kalian lakukan itu. Buktikan bahwa Al-Qur‘an adalah karangan Muḥammad, jika memang klaim kalian benar!”

 

  1. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Jika kalian tidak mampu membuatnya, dan pasti kalian tidak akan mampu membuatnya, maka takutlah kepada neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Allah memberikan tantangan, kemudian memastikan bahwa mereka tidak akan mampu menjawab dan mengambil tantangan tersebut. Sejak empat belas abad yang lalu hingga sekarang, adakah orang yang mampu menjawab tantangan tersebut?

Tidak ada seorang pun yang dapat menjawab tantangan tersebut.

Sebab, bagaimana mungkin makhluk yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan mampu mengucapkan perkataan yang setara dengan perkataan Tuhan Yang Maha Sempurna, yang sama sekali tidak memiliki kekurangan dan kelemahan?

Tentu saja itu mustahil dan di luar kemampuan manusia. Seorang ahli bahasa sekalipun, apabila membandingkan Al-Qur‘an dengan ucapan para sastrawan dan ahli bahasa, niscaya akan mendapati perbedaan yang sangat jauh antara keduanya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur‘an benar-benar merupakan wahyu dari Allah.

Kalau memang mereka tidak mampu membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Quran, maka…

“Takutlah kepada neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

Ya, sadarlah bahwa Al-Qur‘an benar-benar merupakan kalam Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya. Terimalah keduanya, dan jangan kalian mengingkarinya. Ingatlah akan neraka-Nya. Ingatlah bahwa manusia dan batu adalah bahan bakarnya. Ingatlah bahwa itu telah disiapkan bagi orang-orang yang kafir terhadap kitab-Nya dan mendustakan rasul-Nya.

 

Faidah yang dapat kita petik dari dua ayat tersebut:

  1. Al-Qur‘an adalah firman Allah dan mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi-Nya. Sebab, tidak ada seorang pun yang mampu membuat sesuatu yang serupa dengannya, walaupun hanya satu surat, meskipun seluruh manusia dan jin bekerjasama untuk itu.
  2. Allah Mahatinggi dan berada di atas, sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi: “yang Kami turunkan kepada hamba Kami”. Kata menurunkan sesuatu menunjukkan bahwa sesuatu tersebut dari atas ke bawah. Hal itu menunjukkan bahwa Allah berada di atas.
  3. Allah menyebut Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul-Nya sekaligus sebagai hamba-Nya.

Apa hikmah penyebutan kata “hamba” di sini?

1) Pujian bagi Nabi Muhammad ﷺ. Sebab, mendapatkan predikat “hamba Allah” merupakan kemuliaan bagi manusia.

Mengapa demikian?

Sebab, penghambaan kepada Allah pada hakikatnya adalah puncak kemuliaan seorang manusia. Sedangkan penghambaan kepada selain Allah pada hakikatnya adalah puncak kehinaan seorang manusia.

2) Bantahan terhadap orang yang berlebihan dalam mengagungkan Nabi ﷺ hingga mengangkat derajat beliau melebihi kedudukan beliau sebagai hamba dan rasul-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

“Kami tidak menjadikan mereka tubuh-tubuh yang tidak memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu hidup kekal.” (QS. Al-Anbiyā‘: 8)

Dia juga berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelummu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan suatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 38)

 

  1. Pembelaan Allah terhadap nabi-Nya.

Dalam ayat ini, Allah membela nabi-Nya dari pendustaan orang-orang kafir.

Seakan-akan Allah berfirman, “Kalau kalian meragukan Muhammad dan wahyu yang turun kepadanya, maka buatlah satu surat yang semisal dengan yang pernah ia sampaikan!”

 

  1. Al-Quran merupakan mukjizat, meskipun hanya satu surat.

 

  1. Sehebat dan seindah apa pun karya manusia, tetap tidak akan mampu menandingi keagungan dan keindahan Al-Quran.

 

  1. Siapa yang menentang Al-Quran, maka tempat kembalinya adalah neraka.

 

  1. Manusia akan menjadi bahan bakar api di neraka, sebagaimana kayu menjadi bahan bakar api di dunia.

Api neraka akan membakar manusia-manusia durhaka dan mereka pun akan menjadi bahan bakar api neraka. Maka, dari dua sisilah mereka tersiksa.

 

  1. Neraka telah ada dan disediakan bagi orang-orang kafir.

Allah berfirman:

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

“Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim neraka yang gejolaknya mengepung mereka.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Segala sesuatu yang telah disediakan berarti telah ada.

Abū Hurairah berkata:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

“Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ ketika tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dengan sangat keras. Beliau ﷺ bertanya:

تَدْرُونَ مَا هَذَا؟

“Tahukah kalian apa ini?”

قُلْنَا:

Kami pun menjawab:

اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”

قَالَ:

Beliau ﷺ bersabda:

هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا

“Ini adalah batu yang dilempar ke neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu, dan ia baru saja sampai ke dasarnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa neraka telah ada, dan disediakan bagi orang-orang yang durhaka.

 

Siberut, 2 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.